Teaching Factory

279

SMOL.id – DUNIA pendidikan kita harus segera berbenah. Mau tidak mau, para pejabat pembuat dan penentu arah kebijakan pendidikan dan pembelajaran segera mereview sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) kita. Pola pembelajaran dan pendidikan yang selama ini berjalan, yang sudah tidak lagi relevan, segera ganti yang bersifat kekinian dan solutif, jika lulusan sekolah kita tidak mau keteteran (tertinggal).

Ada baiknya dalam menentukan arah kebijakan Sisdiknas melibatkan para pakar IT dan para unicorn (startup yang punya nilai valuasi di atas 1 miliar dolar) seperti Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dll.

Dulu, para orang tua kita selalu memberi nasihat kepada anak-anaknya, ”Nak, sekolah yang rajin ya. Belajar yang tekun. Berprestasilah agar setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluargamu.”

Begitu kata orang tua kita. Tapi itu dulu. Saat kita atau dunia masih berada di Revolusi Industri (RI) 1.0 yang memanfaatkan tenaga uap untuk melakukan mekanisasi pada proses produksi. Di RI 2.0 yang menggunaan konsep produksi massal melalui lintas produksi yang didukung oleh pemanfaatan energi listrik, wejangan itu masih relevan.

Di RI 3.0 yang memanfaatkan elektronik dan teknologi informasi untuk melakukan otomatisasi proses produksi termasuk manajemen, nasihat itu mulai agak diragukan. Karena jumlah lulusan SMA dan sarjana yang menganggur mulai banyak.

Dan di RI 4.0, nasihat para orang kita itu perlu direview. Apakah cukup seorang anak, belajar tekun, rajin sekolah, berprestasi dan bisa mendapatkan pekerjaan layak dengan gampang? Sebab, kita memasuki zaman disrupsi di segala lini kehidupan yang berdampak nyata pada ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas.

Perubahan perilaku masyarakat (konsumen) di era RI 4.0 ini sangat memicu beberapa jenis usaha atau pabrik yang gulung tikar. Para pebisnis ritel, antara lain. Gampangnya membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari dari sendal, sepatu, baju, ponsel, hingga makanan melalui online menjadikan kita malas pergi ke mall. Belanja cukup dari rumah, bayar dari rumah, dan barang segera diantar ke rumah. GPL. Gak Pakek Lama.

Saat ini kita sudah mengucapkan selamat tinggal untuk produsen kamera-kamera konvensional ternama, Nikon, Canon, Sony, dll, karena setiap ponsel sudah dilengkapi kamera dengan resolusi tinggi. Tentu saja para pekerja pabrik kamera ternama yang di-PHK, karena pabriknya tutup.

Banyaknya mall yang tutup juga menciptakan pengangguran baru. Para karyawan, security, hingga tukang parkirnya tak lagi dapat penghasilan. Hal itu juga menambah angka pengangguran. Lalu bagaimana dengan lulusan SMK yang digadang-gadang langsung bisa diserap oleh dunia kerja.

Program Vokasi Nasional

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat per Agustus 2018 angka pengangguran di Indonesia sebesar 5,34% atau setara 7,001 juta orang. Berdasarkan pendidikan, lulusan SMK mendominasi pengangguran di Indonesia.

Presiden Joko Widodo menegaskan akan lebih fokus memperbaiki program vokasi nasional sebagai bentuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM yang ditingkatkan juga agar lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) bisa langsung kerja sesuai dengan kebutuhan industri. Menurt Jokowi, wokasional training, vokasional school masih menjadi sebuah fokus untuk perbaiki kualitasnya lulusan SMK.

Jika lulusan SMK yang digadang-gadang bisa langsung memasuki dunia kerja ternyata juga masih banyak yang menganggur, bagaimana dengan lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Bagaimana pula para sarjana lulusan perguruan tinggi apakah langsung bisa bekerja?

Kini saatnya Teaching Factory dijalankan dalam sistem pendidikan nasional kita. Dalam sistem Teaching Factory, peserta didik seperti bekerja di sebuah perusahaan, seolah-olah menjadi peserta magang di perusahaan, tapi tetap melakukan pembelajaran. Sehingga ketika mereka lulus, langsung bisa bekerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri.

Tanpa bermaksud mempopulerkan, barangkali salah satu sekolah yang sudah cukup lama menerapkan Teaching Factory adalah SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus. Di sana kita akan menemukan banyak siswa yang masih belajar saat jam pelajaran sudah usai. Sekolah ini memodifikasi sistem pendidikan konvesional menjadi lebih menyenangkan tanpa mengurai tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran.

Sekolah itu menggunakan dua sistem yakni keseimbangan praktik serta teori. Bukan paksaan para siswanya pulang hingga pukul 21.00, namun siswa itu sendiri yang merasa sekolahnya terlampau asyik untuk ditinggalkan.

Ada lima jurusan yang tersedia di SMK itu, yakni grafika, produksi grafika, desain komunikasi visual, animasi dan rekayasa perangkat lunak.
Kurikulum tetap sama, namun bagi anak yang masih ingin memperdalam animasi diberikan waktu untuk bisa menggunakan laboraturium dengan maksimal. Terlebih lagi SMK itu memiliki fasilitas yang di atas rata-rata.

SMK itu juga memberikan kebebasan terhadap siswanya untuk mengasah kreativitas serta ekspresi terhadap hasil karya yang dibuat, sehingga bakat dan potensi para siswa dapat tergali. Metode pembelajaran seperti ini telah diterapkan selama tiga tahun dan akan terus berjalan. Tak hanya ruang praktikum yang dimaksimalkan, di SMK Raden Umar Said juga memberikan fasilitas pendukung seperti ruang olahraga (gym) dan tempat-tempat dengan desain unik yang sengaja dibuat untuk bersantai para siswa.

Wajar jika para siswa setiap hari rata-rata pulang pukul 21.00, karena di sekolah sarana dan prasarananya lengkap, siswa dibuat enjoy, seperti bermain di lobi hotel.

Jika model Teaching Factory seperti di SMK RUS Kudus itu diterapkan di seluruh SMK di Indonesia, maka lulusannya dijamin tidak menganggur karena sudah siap memasuki dunia kerja dan bahkan siap menjadi entrepreneur. (*)

*) Ali Arifin, pemerhati masalah sosial dan pendidikan

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here