Rabu, 21 April 2021

Belajar Tourism Management dari Negara Kecil

*) Oleh :  Prof Ahmad Rofiq

SMOL.id – Beberapa waktu lalu, saya sudah menulis di akun FB saya, soal belajar bersih, rapi, disiplin dari negeri kecil. Namun, kecilnya secara teritorial. Maka inovasi, kreasi, dan pikiran-pikiran manajemen wisatanya jujur diakui, bahwa kita di Indonesia harus dengan rendah hati harus mau belajar.

Minggu lalu, saya berkesempatan mendampingi mahasiswa pascasarjana ke negeri yang gambar Kepala Singa dan mengeluarkan air secara terus menerus, menjadi “paket wajib” bagi wisatawan luar negeri, untuk mengunjunginya dan berfotoria di situ, ke IIUM dan INHART Malaysia dan Prince of Songkla University di Pattani Thailand Selatan.

Minggu ini bersama Ketua Umum, Sekum, dan Temen-teman pengelola LPPOM MUI Jawa Tengah, menindaklanjuti kerja sama MUI Jawa Tengah dengan MUIS atau Majelis Ulama Islam Singapura, dan menyaksikan Kawasan Melayu di Wisma Geylang Serai Singapura.

Di Singapura, kami bertemu Ustadz Faizal, yang bergerak di Non Govermnment Organization (NGO) khusus menangani pendidikan anak-anak yang hidup berkekurangan dan hidup di tengah-tengah kehidupan yang serba mahal di mana properti lebih banyak dikuasai oleh negara.

Data wisatawan mancanegara ke Singapura, 2018 naik menjadi 18,5 juta, dengan devisa sebesar S$27,1 miliar (chanelmuslim.com, 14/2/2019), tumbuh 1 persen. Wisatawan Indonesia merupakan yang terbesar kedua, setelah China, dan devisa tumbun 8 persen, setara dengan 3 juta wisatawan dari Indonesia.

Sementara jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia 2018, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) hanya 15,81 juta. Negara yang sangat-sangat besar dengan sumber dan kekayaan alamnya. Dibanding 2017 memang mengalami kenaikan cukup signifikan, sebesar 12,58 persen, yang hanya mencapai 14,04 persen. Kompas.com (2/10/2019) merilis data wisatawan asing ke Indonesia per Januari-Agustus 2019, mencapai 10,87 juta. Berarti ada kenaikan 2,67 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya.

Butuh Innovasi dan Kreasi

Di era industri 4.0 di mana dibutuhkan layanan yang serba cepat namun sarat dengan kenyamanan, kalau ingin dunia wisata Indonesia makin menarik minat wisatawan mancanegara, sudah barang tentu dibutuhkan sarana prasarana yang sangat baik, memadai, bersih, wangi, indah, dan mampu mengungkit kekaguman dan apresiasi dari para wisatawan.

 

 

Sebutlah mulai turun di Bandara Changi, dengan karpet kombinasi warna coklat, ungu, dan pepohonan taman yang alami nan asri. Apalagi setelah Anda memasuki kawasan Jewel, yang pasti mengundang decak kagum, dibuatkan air terjun buatan, dengan ketinggian 1.461.000 sq ft, atau 135,700 square meter.

Ada 10-5 lantai dan 5 basement, seluas 3,5 hektare. Arsitekturnya menurut saya, sangag indah, bercorak neofuturistik. Dibangun dari 5 Desember 2014-7 Maret 2019, dan dibuka untuk umum 17 April 2019.

Biayanya S$ 1.7 billion. Di kanan kiri “air terjun”, serasa di pegunungan, dengan variasi pepohonan yang warna warni, dihiasi semburan lampu yang juga warna-warni, juga dilintasi MRT tentu yang naik dan melewati air terjun tersebut, pasti ada sensasi tersendiri.

Masih banyak lagi sarana dan prasarana menjadi destinasi wisata yang sangat memadai dan memanjakan wisatawan, hutan kota, pulau sentosa, dan lain sebagainya.

Bahkan urusan kuliner halal pun, pemerintah negeri berlambang Singa ini, juga berani “mendeklarasikan” diri sebagai negara yang memiliki perhatian untuk urusan halal.

Meminjam bahasa detiktravel, bahwa urusan halal, bukan hanya soal babi saja, masyarakat Singapura juga memiliki kepedulian yang tinggi soal sertifikat halal di berbagai foodcourt.

Soal halal bukan hanya urusan agama, akan tetapi soal keamanan, kenyamanan, keberkahan, dan yang lebih penting adalah kenyamanan dan perlindungan konsumen.

Pemerintah perlu melakukan pembenahan secara gradual, terencana, terukur, dan ini memang membutuhkan sangat banyak perbaikan sistemik. Sumber daya manusia, yang andal, sangat memanusiakan orang lain, merupakan ciri dan karakteristik penting yang mereka jaga dengan sangat baik.

Boleh jadi, rumus dan paradigma yang digunakan, sebagai negara yang mengandalkan bisnis dan jasa, maka layanan yang sangat memuaskan adalah kata kunci penting.

Di beberapa tempat, di mana mereka ditanya tentang sesuatu hal, mereka menjelaskan, dan bahkan membantu dan menunjukkannya. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang sudah dikenal dari para leluhur dulu sebagai bangsa yang ramah, asih, asah, asuh, manusiawi, dan menghormati siapapun, sudah semestinya, perlu memperbaiki diri dan kinerja pengelolaan wisatanya.

Siapapun orang asing atau wisatawan manca negara, tanpa memandang etnis, bahasa, dan agama, mereka adalah tamu yang harus dihormati. Penciptaan iklim politik yang tenang, aman, tenteram, tidak ada kekerasan, menjadi modal utama, berkembangnya dunia wisata.

Karena di manapun negaranya, jika tidak aman, maka kesengsaraan dan penderitaan saja yang akan muncul dalam kehidupan keseharian.

Semoga dengan perbaikan dunia wisata di Indonesia, bisa melipatgandakan kenaikan wisatawan manca negara untuk hadir dan berwisata di Indonesia. Karena makin banyak wisatawan yang datang berkunjung di Indonesia, harapannya bisa naik dan mereka merasa aman dan nyaman.

Adalah mustahil wisata kita berkembang dan dikunjungi wisatawan, manakala suasana politik tidak aman dan nyaman. Allah a’lam bi sh-shawab. Terminal 4 Changi International Airport (16/10/2019). (aa)

*) Prof Ahmad Rofiq, Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Guru Besar Unisulla Semarang, pengurus Masjid Agung Semarang, Waketum MUI Prov Jawa Tengah, dan Direktur LPPOM MUI Jawa Tengah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA