Kamis, 13 Mei 2021

Menjawab Salah Kaprah Soal Batik

SMOL.ID- BANYAKNYA tulisan yang salah kaprah mengenai Batik dan juga kain nusantara, yang ditulis di berbagai media massa (dan juga media daring), membuat Adi Kusriyanto, seorang penulis dan peneliti Batik, ingin mengedukasi masyarakat luas, dan juga para pelaku dalam dunia fesyen seperti desainer fesyen, mengenai selembar kain yang disebut dengan batik.

Workshop yang dihadiri para desainer dan pemilik brand tersebut diselenggarakan di LPTB Susan Budihardjo Semarang baru-baru ini. Penulis buku “Memberantas Buta Batik di Begeri Batik” tersebut mengatakan, salah kaprah mengenai batik antara lain dengan menganggap semua kain nusantara sebagai batik, serta menganggap semua teknik mewarnai dan menggoreskan motif atau corak pada kain, disebut sebagai batik.

Padahal tidak demikian. Berdasarkan pengalamannya, Kusriyanto mengatakan kalau ada yang tidak bisa membedakan antara batik dan tenun.

Yang lebih parah lagi, menyebut bahwa teknik pewarnaan kain Shibori sebagai ‘Batik Shibori’, atau teknik pewarnaan alam yang prosesnya ramah lingkungan, menggunakan dedaunan untuk coraknya atau disebut Ecoprint, sebagai ‘Batik Ecoprint’.

Dan salah kaprah tersebut kerap tertulis di media cetak maupun daring, yang disalahpahami oleh wartawan maupun editor media tersebut, yang otomatis menyebarkan informasi yang keliru kepada masyarakat.

Bahkan salah kaprah tersebut telah sampai pada ranah ilmiah, seperti praktisi, pengajar, pemilik usaha batik atau perancang busana, terkadang masih belum memahami apa itu batik.

“Sayangnya banyak orang yang paham tentang Batik, namun enggan memberi edukasi soal batik dan kain nusantara lainnya, karena banyak yang tidak berminat dengan tema ini. Makanya saya menulis buku yang isinya pengetahuan dasar soal batik, supaya menggugah masyarakat yang sama sekali tidak tahu tentang batik,” tutur pengajar Fashion Design di LaSalle College Surabaya tersebut.

Pada kesempatan tersebut, ia pun membahas mengenai sejarah pewarnaan kain atau perintang warna, serta ritual atau tradisi yang menggunakan batik.

Menurutnya, Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, berupa malam atau lilin, yang cara menggoreskan motif atau coraknya menggunakan canting.

Masing-masing motif batik pun memiliki nama, filosofi dan fungsinya. “Ada aturannya juga dalam menyusun pola motif pada kain batik, ada motif utama, motif pelengkap, dan ‘isen-isen’,” ujar pria yang juga pengurus Ikatan Tekstil Indonesia tersebut. (Tia Chasmani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA