Rabu, 21 April 2021

Ringankan Bumi dari Beban Beratnya

Oleh: Wardjito Soeharso *)

SMOL.id – Ketika manusia menemukan bahan baku baru yang disebut plastik, kehidupan pun berubah dengan cepat dan mengesankan. Bahan baku baru ini sangat ringan tetapi kuat. Di samping itu sifatnya lentur sehingga mudah dibentuk untuk berbagai variasi model dan ukuran. Karena sifatnya yang istimewa itu, hampir semua industri memanfaatkan plastik sebagai salah satu bahan bakunya. Dari industri rumah tangga sampai industri pesawat luar angkasa, semua tidak terlepas dari penggunaan plastik.

Makin lama penggunaan plastik makin menggila. Yang semestinya tanpa plastik pun masih bisa berjalan dengan baik, rasanya menjadi tidak sempurna bila tidak ada komponen plastik di dalamnya. Akhirnya, penggunaan plastik menjadi tidak rasional. Manusia menjadi tergila-gila dengan plastik, yang memang sangat istimewa. Mudah dan cepat didapat, murah harganya, kuat berdaya tahan, sekaligus memberikan hasil akhir yang lebih rapi dan indah.

Namun sekarang manusia baru sadar, ternyata di samping kelebihan keistimewaannya, plastik menyimpan bahaya yang sangat besar. Pemakaian yang tidak bijaksana, tidak rasional dan tidak terukur, membuat plastik mengancam kehiduan manusia. Residu dan sampah plastik bertebaran di mana-mana. Residu dan sampah itu mengotori alam dan lingkungan, karena sifatnya yang sangat kuat, tidak bisa busuk, tidak bisa dihancurkan secara alamiah oleh alam dan lingkungan.

Bisa dibayangkan kemudian. Sampah plastik menjadi problem baru bagi alam dan lingkungan. Sampah plastik menjadi pengotor dan perusak alam dan lingkungan. Tanah kotor dan rusak karena plastik. Udara kotor dan rusak karena plastik. Air kotor dan rusak karena plastik. Seluruh makhluk penghuni bumi menjadi menderita karena rusaknya bumi oleh sampah plastik. Plastik akhirnya menjadi beban berat bagi bumi.

Kesadaran baru tentang bahaya plastik membuat manusia kembali berpikir, bagaimana upaya mengatasi problem sampah plastik. Berjuta ton sampah plastik setiap hari mencemari tanah, air, udara, lautan. Karena plastik memang tidak mudah untuk dihancurkan, maka volumenya tiap hari terus menerus bertambah, semakin menggunung membuat repot tata cara penanganannya. Sementara ini, yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi penggunaannya untuk hal-hal yang tidak perlu. Selama masih bisa dilakukan tanpa plastik, sebaiknya memang tidak perlu menggunakan plastik.

Plastik memang sudah menjadi ancaman baru. Banyak penelitian yang memberikan gambaran adanya kecenderungan plastik sebagai sumber masalah kesehatan. Penyakit kanker pada manusia, plastik juga dicurigai sebagai salah satu penyebabnya. Kematian biota sungai, danau, dan laut, sebagian besar juga disebabkan oleh sampah dan limbah plastik.

Tidak diragukan lagi, plastik telah berubah menjadi malapetaka bagi kehidupan bumi. Oleh karena itu, kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik harus terus didukung. Selama masih bisa tanpa plastik, mengapa harus menggunakan plastik?

Kampanye produksi tanpa kemasan plastik harus terus dilakukan. Penggunaan plastik secara rasional dan terukur harus terus didukung dan disebar luaskan. Kalau memang belum mampu sepenuhnya melepaskan diri dari penggunaan plastik, jangan bosan terus berusaha mencari alternatif untuk sedikit demi sedikit, pelan-pelan mengurangi volume penggunaannya.

Pertama, produk dapat menggunakan kemasan karton, bila diperlukan yang tahan air (waterproof) untuk menjaga kualitas dan ketahanan produk dalam distribusi dan penyimpanan. Kedua, bila produknya liquid atau gel, kepada para outlet atau jaringan produksi disarankan untuk melakukan penjualan langsung dengan sistem curah. Pembeli atau konsumen disarankan membawa wadah sendiri (refill atau isi ulang) ketika membeli. Penjualan curah paling tidak sudah mengurangi kemasan plastik dalam jumlah tertentu. Dan itu sudah cukup berarti untuk mengurangi beban alam dan lingkungan.

Sekarang, kampanye tidak menggunakan plastik sudah bergaung di mana-mana. Seluruh dunia membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menghindari produk berkemasan plastik. Sekadar ilustrasi bagaimana kita mengurangi sampah plastik.

Tas kresek belanjaan sekarang mulai digantikan dengan tas belanjaan (shopping bag) terbuat dari kertas karton. Orang tidak lagi mau menggunakan plastik sebagai kemasan makanan. Makanan lebih baik dibungkus pakai daun yang alami. Keranjang belanja lebih baik memakai keranjang terbuat dari karton. Air kemasan dan sedotan plastik untuk minum sudah ditinggalkan.

Orang mulai lebih suka membawa tempat minum (tumbler) dan sedotan terbuat dari aluminium atau logam anti karat (stainless steel). Walaupun mahal harganya, tetapi lebih higienis dan awet pemakaiannya.
Begitu pula produk-produk sabun mandi batangan yang dulu dibungkus dengan plastik, mulai diperkenalkan dengan bungkus baru terbuat dari bahan kertas. Produk-produk cair (liquid) seperti minyak goreng, banyak yang kembali tampil dalam penjualan model curah untuk melayani pembelian isi ulang (refill).
Termasuk deterjen cair yang selama ini menggunakan kemasan botol plastik, seharusnya juga sudah mulai melakukan penjualan model refill untuk melayani konsumennya. Penjualan curah model refill bisa menjadi solusi terbaik untuk ikut menjadi bagian dari barisan pendukung pecinta dan pelestari lingkungan. Prinsipnya, kalau yang dibutuhkan hanya isi, mengapa harus beli kemasannya?

Inilah tantangan baru bagi manusia. Tetap harus memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks, namun juga harus berpikir bagaimana caranya supaya tetap bisa berkompromi, bekerja sama yang harmonis dengan alam dan lingkungan. Fakta dan data sudah membuktikan, pencemar alam dan lingkungan terbesar di dunia adalah plastik. Bumi kotor dan rusak oleh plastik. Begitu pula, makhluk bumi terancam keberlangsungan hidupnya juga oleh plastik. Kini saat yang tepat untuk bilang, plastik berkurang bumi pun senang.

Bumi sudah semakin renta. Bumi sudah semakin rusak. Beban bumi terhadap perilaku manusia semakin lama semakin berat. Manusia memang boleh dikatakan tidak tahu diri. Tidak tahu terima kasih atas kebaikan bumi yang telah memberikan kehidupan kepadanya.

Betapa indahnya bumi seisinya bila kita kembalikan kepada eksistensi asalnya. Tentu itu satu hal yang mustahil. Manusia pada dasarnya tidak mungkin lepas dari sampah. Sekarang manusia sedang berkampanye berusaha hidup tanpa sampah (zero waste).

Tentu saja itu kampanye perilaku hidup yang sangat berat. Meskipun demikian, mari kita terus berusaha. Untuk saat ini, kalau belum mampu bebaskan, paling tidak, mari ringankan bumi dari beban beratnya.

Kurangi sampah dan limbah. Terutama sampah dan limbah plastik! (aa)

*) Wardjito Soeharso, pemerhati masalah lingkungan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA