Rabu, 21 April 2021

Hampa, Jika Hidup Tanpa Misi

oleh : Ruruh Chandra Pasha *)

SMOL.id – Banyak keluarga muda lebih fokus membangun bisnis namun abai pada pendidikan anak. Mereka mengira cukup dengan meningkatkan aset dan omzet akan bisa dijadikan ATM untuk pendidikan anak. Kemudian mereka mengira anak-anak mereka bisa denganmudah menjadi sholeh dan berhasil dalam menghadapi tantangan hidupnya kelak.

Maka di sinilah pentingnya family busines coaching. Coaching bisnis ini tidak berbicara cara menaikkan omzet penjualan, investasi aset, atau membangun usaha supaya booming. Namun bagaimana melakukan coaching untuk menyadarkan para keluarga bahwa bisnis adalah membangun misi hidup (tugas peradaban).

Bisnis keluarga hanya alat dan kendaraan untuk mencapai misi hidup keluarga masing-masing. Sehingga setiap anggota keluarga menjadi bagian dari bisnis itu dan punya vibrasi yang sama dalam menjalani misi hidup itu.

Pertanyaannya, apakah setiap keluarga telah mengenali misi hidup keluarga mereka masing-masing? Apakah bisnis keluarga itu sudah di jalan menuju pencapaian misi hidup?

Sebenarnya konsepnya senderhana. Yaki, dengan menguatkan bisnis utama dan membangun bisnis penyangga. Bagaimana ayah harus memiliki bisnis utama yang bisa disangga oleh bisnis istri dan anaknya yang telah selesai pendidikan atau sudah baliq. Sehingga keluarga akan harmoni dan bukan keluarga yang kehilangan sakinah mawadah dan warohmah-nya.

Apa bahaya ketika bisnis keluar dari misi hidup keluarga? Semisal bisnis ayah sukses. Omzet keren. Omzet bisnis Bunda juga keren. Anak-anak dengan kreativitas melenialnya juga bisa berbisnis, dan omzetnya juga bagus.

Namun semua itu jika tanpa misi hidup keluarga yang memandu, maka keluarga itu akan menjadi hampa. Terkadang malah timbul perceraian orang tua dan anak kehilangan bonding kepada kedua orang tuanya.

Ketika Allah Swt memberikan bakat dan kompetensi, seharusnya kita bertanya pada diri sendiri, Allah sedang “dhawuh” apa ini pada kita? Karena misi hidup keluarga adalah tugas hidup yang Allah Swt berikan. Sehingga kata kuncinya tanyakan kepada Allah, mandat apa yang harus dijalankan oleh setiap keluarga.

Dari kajian spiritual, dengan memahamkan tadzkiatun nafz (penyucian jiwa atau nafsu kita), dari berbagai noda dan kotoran sebagai cara untuk bertanya kepada Allah Swt. Apa sesungguhnya misi hidup keluarga kita. Apa tugas keluarga kita dalam peradapan ke depan.

Sehingga setiap keluarga tahu betul ”dhawuh” apa yang harus diembannya. Dengan tertunaikannya “dhawuh” Allah Swt, maka target bisnis apapun yang kita inginkan secara alamiah akan tercapai.

Saya tidak bicara soal strategi apapun. Saya tidak sedang bicara bagaimana agar bisnis Anda begini dan begitu. Sudah terlalu banyak coach-coach hebat di luar sana.

Kita juga sedang tidak mungukur pencapaian. Bisa jadi bisnis kita biasa-biasa saja, tetapi kita masih bisa rasakan nikmatnya sholat. Atau mungkin, kita sedang diuji dengan masalah bertubi-tubi, tapi dengan begitu kita bisa bangun di sepertiga malam.

Seiring dengan sholawat yg terdengar sejak awal bulan Maulid ini- seorang Muhammad juga tidak pernah terpikir akan dipilih menerima tugas hidup atau dhawuh sebagai Nabi dan Rasul.

Mungkin, di usia 40, Beliau juga betul-betul galau, hingga perlu mengasingkan diri demi mencari “informasi langit”.

Kita tutup semua katup kognitif dulu. Bukan tidak dipakai. Tapi kita mencoba melakukan refleksi besar-besaran. Karena bisa jadi, bukan bisnis kita yang bermasalah, tapi kitalah yang belum tahu tentang apa yang harus diemban.

Sebenarnya, family business coaching adalah acara parenting untuk menjawab kegalauan orang tua menyelaraskan kewajiban mencari nafkah keluarga di tengah tekanan ekonomi dengan pendidikan anak berdasarkan fitrah. (aa)

*) Ruruh Chandra Pasha, Family Busines Coaching and Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA