Rabu, 23 Juni 2021

Kereta ART Bisakah Atasi Macet Semarang?

SEMARANG – Kemacetan kota-kota besar di Indonesia, termasuk di Semarang, semakin menjadi. Pertumbuhan kendaraan bermotor, baik mobil atau motor, tidak bisa diimbangi oleh penyediaan sarana prasarana jalan.

Jakarta berupaya mengatasi dengan sarana transportasi menggunakan kereta yang berbasis pada rel, baik MRT atau LRT. Areanya dan situasinya memang memungkinkan untuk melaksanakan pembangunan moda kereta tersebut.

Bagaimana dengan Semarang? Mungkin akan butuh dana besar untuk membangun jaringan kereta, baik di atas maupun di bawah tanah. Namun opsi mengatasi kemacetan dengan moda berbasis kereta nampaknya tetap bisa dilaksanakan. Yakni menggunakan autonomous-rail rapid transit (ART).

ART beroperasi tidak di atas rel, tetapi di jalan biasa dan menggunakan ban. Dengan menggunakan sensor, ART akan mengikuti jalur yang sudah dibuat, yakni garis putus-putus di jalan. Namun demikian jika terjadi kemacetan, masinis bisa mengambil alih dengan mencari jalur lain.

Teknologi kereta yang dikembangkan China ini menggunakan daya listrik, terdiri dari tiga gerbong. China pertama kali menguji coba dua tahun lalu, dan berhasil dengan baik.

Dengan kecepatan 70 km per jam, mampu mengangkut 500 penumpang. Kereta ini seperti gabungan antara bus dan trem, dan yang unik adalah jalurnya yang merupakan garis di jalan biasa. Sensor akan memandu ke arah mana jalur dibuat.

Dengan kapasitas muatnya yang besar, moda transportasi publik ini bisa diandalkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Jika memang bisa diwujudkan dan dipelihara dengan baik, oleh pemerintah maupun warga, mungkin bisa untuk mengurangi kemacetan di Semarang. (bp)

1 KOMENTAR

  1. Menurut saya, tambahan transportasi umum oke2 aaja..yang penting pemerataan jurusan. Dengan kata lain tidak harus berkapasitas besar mengingat lebar jalan yg terbatas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA