Jumat, 25 Juni 2021

Baznas Majene dan Penurunan Angka Kemiskinan

Oleh: Ahmad Rofiq *)

SMOL.id – Hari ini (15/11/2019), saya diberi kesempatan oleh Allah SWT menjadi nara sumber dalam Halaqah Zakat dan Pemberdayaan Masyarakat. Saya mempresentasikan judul tentang Baznas Majene dan Penurunan Angka Kemiskinan.

Zakat sebagai instrumen ekonomi, memiliki misi dan tujuan mulia, untuk menurunkan angka kemiskinan, yang masih sangat besar di negeri ini.

Saudara-saudara kita di Sulawesi Barat yang berada dalam kemiskinan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), masih ada 11,25% (151,780). Bahkan data terakhir, BPS menyebutkan, per September Kemiskinan di Sulbar Bertambah 1,05 Persen (Tribuntimur.com, 15 Januari 2019).

Di Kabupaten Majene sendiri masih ada 23,530. Di Polewali Mandar ada 69,680, Mamasa 21,220, Mamuju 20,427, Mamuju Utara 7,650, Mamuju Tengah 9,280). Ini tentu menjadi tantangan dan tugas Baznas yang sangat mulia.

Tentu ini bisa dipetakan dan skala prioritas, mana di antara mereka dan di wilayah mana mereka berada. Boleh jadi mereka ini adalah nelayan, termasuk yang sebagiannya menjadi binaan P3M STAIN Majene, yang beberapa waktu lalu, saya ikut memberikan motivasi pada mereka.

Baznas Majene, sebagaimana dirilis oleh antara.news (23/10/2019) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat kembali menyalurkan zakat kepada 389 masyarakat tidak mampu, terutama kalangan lanjut usia, di Kecamatan Ulumanda.
Rata-rata penerima zakat itu adalah warga lansia yang berjumlah 389 orang dengan umur di atas 70 tahun.

Penyerahan zakat yang dilaksanakan di Masjid Besar Al Muttahidah Kecamatan Malunda, dihadiri Bupati Majene Fahmi Massiara, Ketua Baznas Majene K.H. Syauqaddin Gani, serta para lansia di Kecamatan Ulumanda. Ini tentu merupakan langkah yang sangat mulia.

Zakat Produktif, Jihad dan Dakwah bil Amwal
Mengutip dari Sayyidina ‘Umar ibn al-Khaththab ra, dalam Mausu’ah Fiqh ‘Umar ibn al-Khaththab ra. zakat mal bertujuan merubah mustahik menjadi muzakki.

Sementara zakat konsumtif yang bersifat charity bias diatasi dari infaq, sadaqah, dan lain-lain. Karena itu, pendistribusian zakat produktif, hemat saya perlu ditempatkan sebagai instrument jihad bil amwal.
Rasulullah saw memberikan warning atau peringatan, bahwa kaada al-faqru an yakuuna kufran artinya “nyaris kefakiran itu menjadikan kekafiran”.

Peringatan Rasulullah saw tersebut dalam dunia empirik, sepertinya tidak bisa dipungkiri. Karena tampaknya menurut Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia itu tidak bisa ditunda-tunda.

Dalam falsafah Jawa, “wong kuwi yen dipangku mati” artinya, ketika seseorang sangat membutuhkan pertolongan, maka mereka yang dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka tersebut, itulah yang akan mendapatkannya. Karena mereka yang sangat membutuhkan bantuan itu, dia tidak berdaya untuk menolak.

Tanpa harus berbicara untuk kepentingan apa dia memberi, maka inilah cara-cara yang sangat efektif untuk dikembangkan.

Dakwah bil amwal seharusnya menjadi perhatian semua pihak, terlebih para pengelola zakat. Karena itu, tugas dan tantangan pertama, bagaimana meningkatkan dana yang terhimpun oleh Baznas. Baik dari mereka yang menjadi aparat sipil negara (ASN), para pedagang, dan semua yang memiliki penghasilan dalam setahun setara dengan 85 gram emas dan rentang waktu aman satu tahun (haul).

Jika asumsi harga emas 1 gram=Rp 500.000,- maka nishab adalah 85xRp 500.000,- = Rp 42.500.000,- Apabila seseorang sudah memiliki penghasilan kolektif, apapun profesinya, maka dia berkewajiban mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5 persen. Jika di ambang batas nishab, maka zakatnya sebesar Rp 1.700.000,-

Baznas, merupakan badan Amil yang diamanati oleh Negara melalui UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat. Ini sejalan dengan kaidah yang dirumuskan oleh Prof. Muhammad Abu Zahrah, bahwa “pada dasarnya zakat itu keseluruhannya adalah dikumpulkan oleh waliyyu l-amri (pemerintah) atau badan yang ditunjuk untuk mewakilinya.

Ada empat fungsi Amil yang karenanya, Amil ditempatkan pada skala prioritas ketiga setelah fakir dan miskin, pertama, adalah menjamin agar para muzakki mengeluarkan zakatnya melalui amil. Karena manusia di dalam dirinya terdapat sifat bakhil dan kikir, karena itu butuh Lembaga yang mengingatkan. Kedua, menjaga “air muka” mustahik, supaya tidak perlu meminta-minta kepada para muzakki. Selain itu, juga menghindarkan sifat riya dan sumah pada muzakki, jika membagikan zakat mereka secara langsung kepada mustahik.

Ketiga, mengontrol dan menyeleksi, agar zakat bisa disalurkan secara produktif, dan berdampak dalam mengurangi angka kemiskinan. Keempat, adalah pemerataan ekonomi, para mustahik yang tidak mau meminta-minta, perlu didatangi oleh Amil, sebagaimana pesan penting bahwa zakat itu “diambil dari orang kaya dan dibagikan kepada para fakir mereka” atau tu’khadzu min aghniyaa-ihim wa turaddu ilaa fuqaraa-ihim”.  Allah a’lam bi sh-shawab. Hotel Abrar, 15/11/2019. (aa)

*) Prof Ahmad Rofiq, Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Guru Besar Unisulla Semarang, pengurus Masjid Agung Jawa Tengah, Waketum MUI Prov Jawa Tengah, dan Direktur LPPOM MUI Jawa Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA