Beranda Features Opini Bumi Kritis, Manusia Apatis

Bumi Kritis, Manusia Apatis

0
Bumi Kritis, Manusia Apatis

SMOL.ID – Greta Thunberg, seorang gadis muda berusia 16 tahun asal Swedia membuat ramai seluruh dunia dengan aksi yang dilakukannya. Greta merupakan salah satu dari sekian banyak aktifis peduli lingkungan di seluruh dunia yang berhasil menjadi pusat perhatian.

Hal ini setelah dirinya berpidato di Pertemuan Tinggi PBB tentang perubahan iklim di New York pada September 2019 lalu. Greta gigih menyuarakan kekesalannya terkait kinerja yang dilakukan para pemimpin dunia untuk masalah pemanasan global dan perubahan lingkungan.

Greta dengan dengan berani memarahi para pemimpin dunia yang dinilai lalai mengurus permasalahan lingkungan dengan mengatakan “How Dare You” di depan sejumlah pemimpin negara anggota PBB yang hadir.

Sejak akhir 2018 Greta memulai aksinya berupa mogok sekolah setiap hari Jum’at dan berdiri di depan gedung parlemen Swedia sembari membawa poster untuk menyuarakan pendapatnya. Lambat laun aksinya mendapat perhatian dan berhasil menginspirasi para pelajar di seluruh dunia.

Dilansir dari Wikipedia, lebih dari 20.000 siswa telah melakukan pemogokan di setidaknya 270 kota pada tahun 2019. Greta terus menyuarakan kampanye dan berpartisipasi dalam demonstrasi perubahan iklim dengan menghadiri berbagai pertemuan Internasional.

Hingga pada Desember 2018, Greta disebut sebagai salah satu dari 25 remaja paling berpengaruh di dunia tahun 2018 versi majalah Time.

Kelalaian Manusia

Kondisi lingkungan di bumi beberapa tahun belakangan bisa dibilang sangat memprihatinkan. Hal ini banyak dipicu oleh kelalaian manusia. Perilaku manusia yang ingin menguasai segalanya seolah-olah membuat lingkungan menjadi konsekuensi yang harus dibayar.

Baru-baru ini lingkungan hidup mulai berkembang sebagai sebuah topik perhatian di kalangan masyarakat. Hal ini didasari oleh kondisi sumber daya alam yang kian menurun. Berbagai masalah lingkungan hidup seperti polusi, perubahan iklim, populasi, penipisan sumber daya alam dll memang bisa diasumsikan bahwa sebagain besar penyebabnya ialah karena ulah manusia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia melalui Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) 2018 menyatakan bahwa sampah dan limbah telah menjadi permasalahan nasional. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKHK) dan Kementrian Perindustrian tahun 2016, jumlah timbulan sampah di Indonesia sudah mencapai 65,2 juta ton per tahun.

SLHI juga menyebutkan bahwa timbulan sampah dan buangan limbah berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan, oleh karena itu perlu dilakukan langkah penanganan. Lebih lanjut data publikasi SLHI merumuskan upaya yang dilakukan pemerintah, di antaranya dengan mengalokasikan anggaran perlindungan lingkungan pada APBN dan APBD untuk alokasi sarana prasarana dan kebutuhan lain dalam upaya penanganan sampah dan limbah.

Menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan perlu dilakukan oleh semua kalangan, namun sayangnya pada hasil Susenas Modul Ketahanan Sosial 2017, menunjukkan hanya 8,7 persen rumah tangga selalu membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah.

Bisa diasumsikan bahwa kepedulian manusia terhadap lingkungan sekitar masih rendah. Manusia terus menuntut ini itu pada sumber daya alam, namun tidak memperlakukan alam dengan semestinya. Manusia seakan bungkam dan tidak peduli dengan akibat yang ditimbulkan dari perilakunya.

Penebangan liar, memburu hewan-hewan liar yang bahkan dilindungi, dan terus memproduksi sampah plastik setiap hari merupakan beberapa tindakan merugikan yang masih terus dilakukan. Sampah plastik sendiri merupakan salah satu faktor utama penyebab kerusakan lingkungan yang menjadi pusat perhatian. Kantong plastik dan berbagai produk-produk plastik yang sebelumnya diciptakan untuk memudahkan manusia menghadapi kemajuan ekonomi dan industri itu justru malah menjadi hal yang harus diperangi saat ini.

Berbagai Kampanye

Di samping itu berbagai kampanye juga telah dilakukan, baik oleh badan lembaga maupun individu untuk menekan bertambahnya kerusakan lingkungan. Saat ini sudah banyak beredar di berita bahkan di media sosial berbagai fenomena kerusakan lingkungan yang bertujuan untuk menyadarkan pentingnya menjaga lingkungan demi kelangsungan hidup di bumi.

Berbagai upaya pun sudah mulai dilakukan oleh sebagian masyarakat untuk mengurangi perilaku merusak lingkungan, seperti mengurangi limbah plastik dengan mulai menggunakan berbagai produk reusable.

Melakukan pengelolaan dan penanganan limbah dengan mendaur ulang menjadi produk berguna, serta melakukan kampanye terkait pengurangan penggunaan sampah plastik. Berbagai hal kecil yang dilakukan juga cukup signifikan untuk membantu mengurangi penggunaan produk plastik.

Menyikapi kondisi bumi yang kian memprihatinkan ini, mari kita sebagai manusia mulai sadar dan peduli akan pentingnya menjaga lingkungan untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.

Mulai dari diri sendiri untuk sadar tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak lingkungan dan mengurangi sikap hidup konsumtif. Kita harus mulai hidup bersahabat dengan lingkungan. Hal ini bisa menjadi perubahan besar untuk bumi yang lebih baik. Karena perubahan tidak akan terjadi apabila hanya sebagian orang saja yang melakukannya.

Kita harus turut mengambil peran dalam perubahan itu sendiri, barulah mengajak orang lain untuk turut andil. Mari wujudkan kembali Bumi kita yang hijau. (Septi Kumala Sari, mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan, Unnes)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here