Memajukan Inovasi Pembelajaran di Era Society 5.0

2792

Oleh; Susi Indriyani

smol.id – Saat ini dunia pendidikan sedang mengalami masalah yang serius. Dengan perubahan Iptek yang sangat cepat dan kompleks, menuntut untuk lebih mempersiapkan secara matang dalam menghadapi perubahan dunia yang serba cepat ini.

Revolusi industri 4.0 memiliki perubahan yang sangat signifikan, dimana teknologi informasi dan komunikasi digunakan secara sepenuhnya. Revolusi industri 4.0 yang tidak terlepas dari teknologi robotisasi, kecerdasan artifisial dan internet of think yang sebagian telah menggantikan peran manusia. Sehingga kemunculan industri 4.0 membuat resah sebagian masyarakat.

Belum lama ini Society 5.0 sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Jepang salah satu negara yang telah mengenalkan Society 5.0. dilansir di kompas.com bahwa Pemerintah Jepang sudah mulai memperkenalkan Society 5.0 dimana teknologi digital diaplikasikan pada kehidupan manusia.

Pada konsep ini tidak jauh beda dengan industri 4.0, hanya saja dalam Society 5.0 lebih mempersiapkan SDM nya lebih tepatnya sebagai penetralisir atas tantangan yang diberikan dari industri 4.0 yang melahirkan berbagai inovasi dan industrialisasi. Dengan datangnya Society 5.0 dapat menyelesaikan masalah dan sistem dalam dunia maya dan dunia sosial

Sebelumnya revolusi industri yang pertama ditandai dengan mesin uap. Kedua yaitu dengan penerapan konsep produksi massal dan mulai memanfaatan tenaga listrik. Ketiga, dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri, dan pada yang keempat merupakan loncatan besar dalam penerapan teknologi komunikasi dan informasi secara menyeluruh.

Sebagaimana yang kita tahu konsep Industri 4.0 bermula di inggris. Dalam Industri 4.0 hampir semua kebutuhan manusia serba melalui internet. Adanya Industri 4.0 memudahkan dan menjadi pekerjaan lebih cepat baik dalam bidang pendidikan, usaha bisnis, maupun bidang lainnya.

Namun dengan adanya konsep Industri 4.0 juga membuat khawatir khususnya di Jepang, sebab hanya mengutamakan pada teknologinya saja dan tidak memperhatikan pada aspek SDMnya. Maka munculah konsep baru yang bernama Society 5.0.

Konsep ini jauh beda dari konsep industry 4.0, dimana pada konsep Society 5.0 menekankan pada manusianya, bagaimana manusia tersebut bisa melakukan antisipasi terhadap tren global dari akibat munculnya industry 4.0.

Walaupun Indonesia belum menerapkan Society 5.0, tapi tetap saja sebuah negara harus mempersiapkan masyarakatnya untuk bisa beradaptasi dengan peradaban yang baru. Dimana zaman sekarang IPTEK sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, bahkan dari IPTEK tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.

Untuk menghindari resiko yang akan muncul dalam masalah sosial, maka ada beberapa komponen untuk diterapkan dalam pendidikan. Komponen tersebut menyiapkan peserta didik untuk siap menghadapi Society 5.0.
Komponen menuju Society 5.0.

Untuk mewujudkan atau mempersiapkan Society 5.0 dalam bidang pendidikan, anak tidak cukup hanya sebatas memahami atau di berikan sebuah teori saja. Hal tersebut belum cukup untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi Society 5.0 melainkan cara berpikir.

Cara berpikir ini untuk membiasakan peserta didik dalam beradaptasi ke depanya. Beberapa cara berpikir tersebut diantaranya harus kritis, kontruktif, dan inovatif.

Seperti yang di ungkapkan Direktur HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services ) Jakarta (mediaindonesia.com. 2019) era Society 5.0 menuntut siswa dan masyrakat untuk mampu berpikir kritis dan konstruktif.

Dapat dilihat secara umum guru-guru kita belum mampu melakukan pengajaran dengan metode tersebut. Bisa dikatakan bahwa Indonesia belum siap menghadapi era Society 5.0 . Tetapi ini bukanlah masalah siap ataupun tidak siap, namun kita harus melakukannya, harus siap menghadapi era Society 5.0 tersebut.

Seperti yang telah dilansir di alinea.id bahwa konsep pembelajaran di sekolah dalam menghadapi Sociery 5.0 perlu dikembangkan dengan beberapa komponen yang diantaranya
pertama kemampuan HOTS dalam proses pembelajaran. HOTS ( Higher, Order, Thinking, Skills ) merupakan kemampuan dalam memecahkan masalah secara kompleks,berpikir kritis dan kreativitas.

Penerapan HOTS dapat dilakukan dengan mengenalkan dunia nyata kepada peserta didik dengan permasalahan yang ada. Seperti masalah lingkungan dan kesehatan serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. sehingga peserta didik diharapkan dapat menganalisis serta memecahkan masalah tersebut.

Kedua, pembaharuan orientasi pembelajaran pembelajaran yang futuristic, mengenalkan pembelajaran yang tidak hanya pada penguasaan materi tetapi juga perlu menghubungkan terkait dengan pemanfaatan untuk kemajuan masyarakat Society 5.0 .

Ketiga, dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat. Untuk memberi ruang kepada perserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan dan kreativitas. Guru boleh memilih berbagai model pembelajaran seperti discoverey learning, project based learning, problem based learning, dan inquiry learning . dari berbagai model tersebut mendorong perseta didik untuk membangun kreativitas serta berpikir kritis.

Keempat, pengambangan kompetensi guru. Kompetensi dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik guru juga perlu ditingkatkan agar mampu beradaptasi dengan industry 4.0 dan society 5.0. dengan dibekali wawasan keilmuan, attitude dan skill merupakan ciri dalam mempersiapkan society 5.0.

Kelima, penyediaan sarpras dan sumber belajar yang futuristic sesuai kebutuhan berupa smart building berbasis IT berupa ruang kelas, perpustakaan , dan laboratorium yang didukung fasilitas IoT dan AI yang mendukung sumber belajar dan media belajar peserta didik.

Bagaimanapun kondisi yang sedang dihadapi sekarang,siap tidak siap dunia pendidikan harus mampu menghadapi industry 4.0 dan society 5.0. Dan dengan menggunakan metode pembelajaran pendidikan yang tepat, harapanya generasi muda siap menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadi akibat dari industry 4.0 serta society 5.0. (aa)

*) Susi Indriyani, mahasiswi Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Unnes

Tinggalkan Balasan