Bicara Corona, Bos BCA Sebut Banyak Negara Bergantung China

90
Bicara Corona, Bos BCA Sebut Banyak Negara Bergantung China Foto: Jahja Setiaatmadja - Presiden Direktur BCA (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

SMOL.ID – JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan pertumbuhan kredit perseroan pada tahun ini akan tumbuh di kisaran 5%-7%. Sejumlah faktor penyebabnya, adalah sentimen negatif dari meluasnya penyebaran virus korona yang turut berdampak ke sektor perbankan yang bersumber dari terganggunya sektor wisata hingga manufaktur.

Sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, beberapa sektor yang terkena dampak langsung dari meluasnya virus korona jenis baru ini (Covid-19) antara lain industri pariwisata karena hampir semua negara menutup penerbangan dari dan menuju ke China. Imbasnya, bisnis perhotelan dan penerbangan langsung terdampak.

Dampaknya BCA akan cenderung lebih konservatif pada tahun ini. Pertimbangan ini juga dilatarbelakangi dengan sejumlah kasus yang menimpa pasar modal seperti kasus gagal bayar reksa dana dan asuransi.

“Dalam keadaan seperti ini, credit growth kita bisa 5%-7%. Apalagi banyak masalah di capital market, reksa dana, asuransi, ini harus kita siapkan, jaga-jaga ke nasabah kita,” kata Jahja di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Jahja menambahkan dampak dari mewabahnya virus corona (Covid-19) belum dapat diinventarisir sepenuhnya. Dia meyakini, perusahaan-perusahaan di Tanah Air mempunyai skema meredam dampak corona dari sisi pasokan bahan baku untuk industri terutama dari China. Pelaku usaha melakukan buffer stock dalam menghadapi momen paling dekat yakni Lebaran Idul Fitri sehingga diprediksi tidak segera berdampak pada kuartal I-2020.

Hanya saja, ada industri tertentu memang belum langsung terpengaruh, tetapi menjadi perhatian perbankan nasional dengan catatan hingga Maret 2020 wabah ini belum pulih.

“Saya tanyakan ke beberapa pengusaha, kesan utama, bahwa peran (pasokan barang) China ternyata cukup besar, bukan hanya ke Indonesia, tapi ke India, Eropa dan AS,” jelas Jahja.

“Yang terjadi banyak pabrik di Eropa relokasi ke China, banyak juga bahan baku bahan dasar mereka, harganya lebih murah. Ini menyebabkan ketergantungan kepada China cukup besar. Pertanyaannya berapa lama virus corona akan dikatakan aman, lalu China bisa normal production,” katanya.

Angka kematian karena virus corona di China terus bertambah. Kamis pagi (20/2), mengutip AFP, pemerintah Provinsi Hubei yang menjadi pusat penyebaran virus, kembali melaporkan 108 kematian baru.

Alhasil, per Kamis pagi, angka kematian karena corona di negeri Panda sudah naik menjadi 2.112. Jika ditambah dengan kematian di luar China yang berjumlah 6 orang, maka total kematian secara global adalah 2.118 orang. (smol – aa)

Leave a Reply