Pilihan Kita Bukan Lokdon, Bung…

1456
Sigit Pramono, mantan Dirut Bank BNI

Oleh : Sigit Pramono *)

SMOL.ID – Pada judul di atas, saya sengaja menulis sebuah istilah dari kata bahasa Inggris “lock down” sesuai bunyinya, bukan karena tidak bisa mengejanya dengan benar. Saya mengajak anda semua menggunakan kata “lokdon”, karena istilah itu sudah terlanjur terkenal. Sebaiknya kita pungut saja istilah ini ke dalam kosa kata baru bahasa Indonesia menjadi “lokdon”.

Selain perbankan, dunia Sigit Pramono tak lepas dari fotografi. (aa)

Istilah lokdon ini tiba-tiba menjadi sering diucapkan orang di seluruh dunia bersama dengan kata “corona”. Dua kata ini barangkali kata yang paling banyak ditulis dan diucapkan manusia di muka bumi akhir-akhir ini.

Tanpa bermaksud untuk merendahkan atau melecehkan, tukang listrik saya yang asli dari daerah Songgon, Banyuwangi yang namanya pak Sakerah, dia ternyata paham arti kata lokdon.

Pak Sakerah beberapa hari yang lalu dengan cara halus menolak ketika saya tugaskan ke Semarang, dengan alasan karena Semarang sedang dilokdon, katanya. Meskipun kita tahu kenyataannya bahwa tidak benar Semarang dilokdon, saya tidak berani memaksa dia berangkat ke Semarang.

Tetapi ada yang menarik di sini. Di jaman yang sangat maju di sektor komunikasi dan pemakaian media sosial ini, seorang Sakerah yang tinggalnya di desa Songgon yang terkenal dengan durennya yang enak, yang jarak tempuhnya 2 jam naik sepeda motor dari kota Banyuwangi, ternyata tahu artinya “lokdon”. Sekurang-kurangnya dia paham intinya bahwa jika ada kota atau daerah yang dilokdon orang dari luar kota itu tidak boleh masuk, dan orang yang sudah berada di dalam kota itu tidak boleh ke luar.

Dari berbagai pertimbangan, dari mulai aspek politik, sosial, budaya dan yang terutama pertimbangan ekonomi, Pemerintah kita sudah menetapkan bahwa untuk menangani wabah virus Corona ini tidak dilakukan dengan cara lokdon. Tidak dengan cara menutup atau mengisolasi negara, daerah atau kota di Indonesia.

Pilihan Pemerintah Indonesia adalah mirip dengan cara yang dipilih Korea Selatan, yaitu melakukan pengetesan massal yang cepat untuk mendeteksi orang yang terkena Covid 19. Singkatnya pilihan Pemerintah adalah Tes Cepat Covid 19 secara massal. Jadi jangan diperdebatkan atau ditafsirkan lagi.

Negeri kita tidak dilokdon seperti Italia. Jakarta tidak dilokdon seperti Wuhan. Di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Banyuwangi atau kota lainnya di Indonesia, tidak ada lokdon.
Pemerintah akan melakukan pengetesan massal warga.

Mari kita dukung Pemerintah agar bisa bekerja baik melakukan tugasnya melakukan pengetesan massal. Dukungan masyarakat sangat penting karena ini bukan pekerjaan yang ringan. Kita belum tahu apakah akan dilaksanakan seperti kata Presiden Jokowi, yaitu petugas kesehatan yang akan mendatangi ke rumah-rumah warga, atau warga yang akan mendatangi tempat pengetesan massal yang ditetapkan, bisa Puskesmas, kantor kelurahan, kantor kecamatan, rumah sakit dan sebagainya, tentu dengan tetap menjaga kaidah jaga jarak antar orang.

Mobilisasi petugas kesehatan dan aparat sipil pemerintahan dalam menjalankan tes massal ini akan menjadi tantangan yang tidak mudah.

Lalu apa tugas dan kewajiban kita sebagai warga negara?

Pertama, kita harus patuhi petugas jika harus mengikuti Tes Cepat Covid 19.
Selain itu warga harus terus mematuhi peraturan untuk tetap tinggal di rumah, jauhi kerumunan orang , jaga jarak (social distancing), tidak bersentuhan langsung satu sama lain. Itu semua harus terus dilakukan.
Mengingat salah satu syarat keberhasilan cara tes Covid 19 massal harus dibarengi dengan kepatuhan warga untuk tetap tinggal di rumah

Mengapa itu penting?

Karena begitu hasil test diketahui dan seseorang dinyatakan positif Covid 19, dia akan segera dirawat dan diisolasi agar tidak menulari orang lain dan bisa sembuh.

Seperti sudah diantisipasi sebelumnya, pada tahap-tahap awal setelah hasil tes diketahui, akan semakin banyak orang yang diketahui sakit Covid 19. Ini sebetulnya wajar saja karena sebelumnya banyak orang sakit yang tidak terdeteksi sebelum tes dilakukan. Lonjakan jumlah pasien yang diketahui sakit akan berlomba dengan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Para ahli kedokteran kesehatan masyarakat menyebutnya sebagai masa paling kritis, dalam penanganan virus Corona ini, karena kita akan kekurangan tempat tidur di RS.

Itulah pentingnya pada masa kritis ini warga tetap tinggal di rumah, jaga jarak, jangan bersentuhan agar bisa membantu memutus rantai penularan.

Kalau kita tidak patuh, ada risiko jumlah pasien tertular virus Corona akan semakin banyak dan sudah dapat dipastikan jumlah tempat tidur di rumah sakit semakin tidak mencukupi.

Para ahli kedokteran bidang keahlian kesehatan masyarakat menyebutnya sebagai : kita gagal dalam upaya melandaikan kurva jumlah penderita Covid 19 ( flattening the curve). Ini artinya sebuah bencana bagi bangsa kita. Oleh karena itu kita sebagai warga negara harus disiplin dan mau melakukan pengorbanan kecil dengan tetap tinggal di rumah guna memutus rantai penularan. Tetaplah tinggal di rumah untuk menolong nyawa orang lain.

Di masa kritis yang taruhannya nyawa ini, diharapkan para pemimpin apapun, termasuk kepala daerah, para tokoh masyarakat, tokoh politik, pemuka agama, pemimpin informal, para tokoh panutan dan tokoh yang punya pengaruh ( influencer) bersatu melawan virus Corona ini.

Mari kita lupakan perbedaan apapun dan menempatkan kepentingan kesehatan masyarakat yang menyangkut nyawa ini di atas kepentingan politik, agama, bisnis dan kepentingan lainnya. Kalau kita mau “bertengkar” untuk urusan yang berkaitan dengan kepentingan politik kita tunda dulu hingga menjelang tahun 2024. Kini saatnya kita fokus dan konsentrasi bergotong royong mengatasi Corona.

Keberhasilan kita menangani pandemi atau wabah Corona salah satunya adalah menekan jumlah kematian. Tetapi tidak hanya itu. Masyarakat dunia internasional juga mengamati bagaimana bangsa Indonesia menangani wabah Corona ini. Akan dinilai bagaimana keberhasilan kita memutus rantai penyebarannya dalam waktu singkat.

Suka tidak suka, sekarang ini dunia internasional meragukan kemampuan Pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menangani Corona. Apa buktinya? Lihat saja berbagai tulisan yang tersebar di berbagai media internasional. Dan bukti yang paling nyata adalah kita ini warga negara yang sangat dibatasi masuk ke Singapura.
Jamaah umroh Indonesia termasuk yang dilarang masuk ke Arab Saudi. Menyakitkan hati bukan?

Tetapi itulah persepsi bangsa lain terhadap kemampuan Indonesia menangani wabah penyakit. Kita tidak bisa menyalahkan bangsa lain, kita sendiri yang harus mengubah persepsi buruk bangsa lain terhadap bangsa kita.

Kini saatnya para pemimpin politik, kepala daerah, pemuka agama dan semua pemimpin apapun membuktikan bahwa mereka mencintai negeri ini, mencintai rakyatnya dan mencintai ummatnya. Kini bukan saatnya lagi menyampaikan khotbah dengan retorika yang mengarahkan kepada kesimpulan jamaah bahwa jika jamaah mematuhi anjuran untuk beribadah di rumah, mengurangi kerumunan, mencegah kontak langsung antar jamaah, berarti kita lebih takut Corona dari pada kepada Allah.

Kini bukan lagi saatnya mendemonstrasikan keimanan dengan tidak takut dan menantang virus Corona , padahal seorang Sayidina Umar bin Khattab saja menurut riwayat, beliau takut dan menghindari daerah yang terjangkit wabah penyakit . Memang ‘sampeyan’ lebih sakti mandraguna dari Umar bin Khattab? tanya seorang kyai sepuh yang sangat berpengaruh, sambil mengingatkan jamaahnya.

Peran para kyai, da’i dan para pemuka agama sangat penting dalam membantu Pemerintah menjalankan program tes massal Covid 19 ini.

Karena jika gagal maka persepsi negatif dunia internasional terhadap kemampuan Indonesia menangani wabah virus Corona ini tidak akan membaik.

Apa anda tidak malu jika sebagai warga negara Indonesia masih terus dipersulit masuk ke negara lain?
Apa “sampeyan” para kyai, da’i yang masih tidak mendukung penanganan wabah Corona, bersedia bertanggung jawab dunia akhirat jika jamaah ‘sampeyan” masih saja tidak bisa umroh atau naik haji karena ditolak Pemerintah Arab Saudi? Karena kita dianggap sebagai bangsa yang tidak becus menangani Corona?

Ayo bung kita bergerak demi negeri tercinta. Kinilah saatnya kita lupakan perbedaan, dan bersatu melawan virus Corona. Semoga Allah mempersatukan Indonesia melalui virus Corona.

Ingat ya bung,
Pilihan kita adalah Tes Massal Covid-19. Bukan lokdon. Sigit Pramono, ditulis dari rumah. (aa)

*) Sigit Pramono, Bankir, fotografer, mantan Dirut BNI, mantan Presiden Direktur BII, putra Batang Jawa Tengah, alumnus Undip, alumnus Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya, Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (2006–2009, 2009–2012, 2012–2016)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan