Sate Klatak Pak Pong Habiskan 20-30 Ekor Kambing Sehari

511
'Sate Klatak Pak Pong'.

SMOL.ID, BANTUL – Kabupaten Bantul terkenal sate klataknya yang banyak dijumpai di Bumi Projotamansari. Salah satu warung sate klatak yang terkenal dan laris adalah ‘Sate Klatak Pak Pong’.

Warung sate klatak tersebut begitu terkenal karena potongan daging kambing yang besar serta menggunakan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Bahkan, dalam sehari warung tersebut mampu menghabiskan 20-30 ekor kambing muda.

Sate Klatak Pak Pong sendiri berlokasi 12 kilometer dari jantung Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Sultan Agung No.18, Jejeran II, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Berada di pinggir jalan raya sehingga warung sate tersebut sangat mudah ditemukan.

Sate Klatak Pak Pong

Salah satu pengelola Sate Klatak Pak Pong, Muhammad Abdun Nafik (28) menjelaskan, bahwa warung sate tersebut adalah milik Dzakiron atau yang saat ini lebih dikenal dengan nama Pak Pong. Menurutnya, nama Pak Pong berasal dari sapaan masa kecil Dzakiron.

“Pong itu sebetulnya dari kata bahasa Jawa yakni ‘njempong’ yang artinya suka tidur. Jadi dulu pak Dzakiron kalau didatangi temannya untuk diajak main sering masih tidur lalu dipanggil njempongan, dan sampai sekarang dipanggil pong gitu. Jadi nama Pak Pong nama panggilan masa kecil pak Dzakiron,” katanya.

Selanjutnya, sejak masih duduk di bangku Sekolah, Pak Pong memang kerap membantu kakeknya yang sudah berjualan sate klatak sejak tahun 1960an. Bermodal pengalaman tersebut, Pak Pong berkeinginan untuk meneruskan usaha kakeknya.

“Sejarah Pak Pong mendirikan usaha sendiri itu tahun 1997, karena Pak Pong mau meneruskan usahanya kakeknya. Tahun 1997 itu buka di Jalan Imogiri Timur KM.10,” ucapnya.

“Terus ceritanya yang di Jalan Imogiri Timur (tempat berjualannya) tidak bisa diperbesar, karena tanah kas Desa. Setelah itu (Pak Pong) buka di Timur Stadion (Sultan Agung) pada tahun 2008, dan sekarang cabangnya jadi yang di sini (timur SSA),” lanjut Nafik.

Setelah pindah lokasi itu sate klatak Pak Pong semakin ramai. Menurutnya, selain akses yang lebih mudah, sate klatak Pak Pong memiliki ciri khas dalam hal penyajiannya. Mengingat potongan daging kambing yang berukuran cukup besar ditusuk menggunakan jeruji sepeda dan selanjutnya dibakar.

“Ciri khasnya kami pakai jeruji sepeda, kalau lainnya kan hanya pakai tusuk bambu. Alasan pertamanya, dulu untuk memaksimalkan matangnya daging, karena besi kan penghantar panas dan bisa membuat daging yang di (bagian) dalam matang. Kedua bisa jadi ciri khas dan ketiga kan bisa dipakai lagi jerujinya,” katanya.

Menyoal bumbu khusus, Nafik menyebut resep sate klatak Pak Pong berasal dari kakek Pak Pong. Menurutnya, untuk bumbu sate klatak sangatlah simpel namun yang membedakan sate klatak Pak Pong dengan lainnya adalah penggunaan daging kambing yang fresh.

“Bumbu sate klatak cuma simpel, aslinya dulu kan hanya daging kasih garam, terus berkembang saat ini ditambahi bawang putih, kemiri dan garam agar gurih. Terus penyajiannya pakai kuah gulai (kambing),” ucapnya.

Tak hanya itu, sate klatak Pak Pong tidak menyertakan gajih dalam setiap potongan sate klatak. Menurutnya, hal itu untuk memberikan cita rasa enak.

“Terus yang bedakan kita dengan lainnya karena kita pakai daging kambing yang masih segar dan gajih yang tidak layak kami buang. Jadi kambingnya itu sembelih dadakan, mulai dari pagi, siang dan sore,” katanya.

“Selain itu, untuk kambing yang digunakan adalah kambing muda dengan usia di bawah satu tahun,” sambung Nafik.

Dalam sehari pengunjung di warung sate klatak Pak Pong mencapai ratusan orang. Karena itu, dalam sehari ia mampu menghabiskan puluhan ekor kambing muda.

“Untuk hari biasa minimal 20 ekor kambing habis, terus kalau weekend seperti ini minimal habis 30 ekor kambing,” ujarnya.

Selain sate klatak ada beragam menu olahan daging kambing lain. Seperti tongseng, tengkleng, sate bumbu kecap, gulai hingga nasi goreng kambing yang dibanderol dengan harga yang terjangkau.

“Untuk satu porsi sate klatak isinya 2 tusuk dan harganya Rp 24 ribu, terus nasi putih Rp 5 ribu dan aneka minuman Rp 5 ribu, kalau minuman yang khas ya teh poci pakai gula batu,” katanya.

Menurutnya, harga tersebut disesuaikan dengan kualitas dan potongan daging yang diberikan untuk konsumen. Warung sate Pak Pong sendiri buka dari jam 9 pagi hingga jam 11 malam setiap harinya.

“Sedangkan untuk sate kambing biasa bumbu kecap, tongseng daging, gulai daging, kicik harganya Rp 24 ribu. Terus tongseng kepala, tongseng otak dan tengkleng itu harganya Rp 29 ribu,” lanjut Nafik.

Nafik menambahkan, saat ini Pak Pong memiliki 70 hingga 80 orang karyawan. Bahkan, pihaknya berencana untuk membuka unit usaha baru dengan menonjolkan menu tongseng kambing.

“Ini baru rencana, rencananya mau buka di Jalan Imogiri Barat, (bulan) puasa ini, konsepnya tongseng (kambing Pak Pong),” ucapnya.

(dtc/smol)

Tinggalkan Balasan