Era Normal Baru dan Ancaman Gelombang Ke-2 Covid-19

246

Oleh: Ahmad Rofiq *)

SMOL.ID – Perkembangan warga yang terpapar Covid-19 di Dunia, Indonesia, Jawa Tengah, dan Kota Semarang, tampaknya masih mengkhawatirkan dan mencemaskan. Bisa disebut era normal baru dan ancaman gelombang ke-2 Covid-19 bukan sebuah keniscayaan.

Bahkan apabila warga tidak disiplin dalam menjalankan “tatanan” atau “kebiasaan baru” dalam mematuhi protokoler kesehatan, dikhawatirkan akan menjadi gelombang kedua. Kang Sakiman, yang belakangan viral gegara, komentarnya tentang RUU-HIP yang tampaknya masih tarik ulur di seputar “wakil rakyat”. Parpol pengusul katanya bersedia merevisi dan memasukkan TAP MPRS yang isinya melarang ajaran komunisme, marxisme, dan leninisme di Indonesia.

Kang Sakiman mulai melontarkan pertanyaan: “Sebenarnya Era Normal Baru” itu makanan apa sih Kang? Panjenengan kan tampaknya sudah beberapa kali diminta menjadi narasumber di Kantor Gubernuran, di MUI Demak, dan kemarin dengan Suara Merdeka Bersama ketua KADIN Jawa Tengah”.

“Kang Sakiman bersemangat sekali, tapi tolong maskernya dipakai, Om Dani dan Kang Konder juga, kopinya saja belum keluar” sudah tidak sabar. “Tadi tidak lupa pake hand sanitizer ya”? saya selalu menyiapkannya di teras rumah, demi mematuhi protokoler kesehatan, namun juga tidak mengurangi silaturrahim. “Monggo tetapi lagi-lagi maaf jaga jarak ya, minimal satu meter” sambung saya. “Siap Bapak”, jawab Om Dani, yang baru mau ikut bergabung. “Ijin ikut halaqah Bapak” kata Om Dani.

“Silahkan dinikmati kopi panas dan kue ndesonya, ibu rebus dan kacang rebusnya, itu sudah disiapkan Bi Omi. Bi Omi pun segera masuk setelah menyajikan kopi dan kue” saya menawari para tamu saya.

“Begini Kang Sakiman, Pak Konder, dan Om Dani, data Covid-19 hasil browsing saya di laman-laman resmi, semoga tidak hoax, per-Kamis, 25/6/2020 jam 10.19 versi WHO, Pandemi Covid-19 sudah menyebar di 216 negara, dengan terkonfirmasi Covid-19 dalam satu minggu ada penambahan dari 8.242.999-9.508.614 orang, meninggal 445.535-483.786 orang, dan sembuh 5.162.600 orang. Di Indonesia, positif Covid-19 selama seminggu dari 42.762-50.187 orang, sembuh dari 16.798-20.449 orang, dan meninggal dari 2.339-2.620 orang”. Kang Sakiman, Pak Konder, dan Om Dani pun pada menahan nafas dengan serius memperhatikan.

Saya teruskan ya: “Di Jawa Tengah, data dari 19/6/2020-26/6/2020, selama satu minggu, yang dinyatakan positif Covid-19 bertambah dari 2.578-3.474 orang (+896 orang), dirawat 1.208 (46,84%)/1.703 (49,02%) (+494 orang), sembuh 1.159 (44,94%)/1.497 (43,09%) (+338 orang), dan meninggal 212/274 orang (8,22%-7,89%) (+62). PDP sebanyak 8.359, dirawat 936, sembuh 6.286, meninggal 1.137, ODP 48.281, dalam pemantauan 1.893, selesai pemantauan 46.388 (96,08%). Di Kota Semarang, positif 294 orang-600 orang (+306), sembuh 432 orang-582 orang (+150), dan meninggal 104 orang-130 orang (+26).

Informasi Pak Wali Kota, ada beberapa klaster baru, dari acara pernikahan, car freeday. Karena itu, Pak Wali menganjurkan supaya kita tetap di rumah, jika tidak memang penting keluar, tidak usah keluar. Bosan sedikit ditahan, demi keselamatan dan Kesehatan kita, keluarga, dan tetangga kita”.

“Serem dan makin dahsyat ya Bapak, jangan-jangan memang sebenarnya sudah memasuki gelombang ke-2 Covid-19 njih? sahut Om Dani yang tidak kalah semangat. “Om Dani jangan buru-buru berkesimpulan begitu” Kang Sakiman menimpali. “Terus apa yang harus kita lakukan Bapak”? kata Kang Konder tidak mau ketinggalan.

“Begini Kang dan Om Dani, Covid-19 ini adalah ujian dari Allah, sebagian karena kesalahan manusia. Tetapi tidak ada musibah atau ujian apapun yang terjadi pada manusia dan di muka bumi ini, yang tidak tercatat sebelumnya di Lauhil Mahfudh, dan tanpa ijin Allah. Karena itu, kita musti melakukan muhasabah, introspeksi diri, tetapi sekaligus melakukan ikhtiar dan juga pasrah kepada Allah Yang Memberi Hidup kita.

Di Era normal baru ini, kita harus tetap mematuhi aturan protokoler kesehatan. Kita harus sadar, memberi contoh pada tetangga, dan mampu lebih berhati-hati, jangan sampai muncul gelombang baru yang lebih dahsyat. Selalu bersuci dengan sabun, hand sanitizer, mengenakan masker, menjaga jarak, ukur suhu badan, dan kalau positif mengarantina diri. Kalau berjamaah ke masjid, membawa sajadah sendiri, ikuti aturan Pengurus Ta’mir, agar tidak menimbulkan kemadharatan diri kita, keluarga, dan orang lain.

Kita diciptakan oleh Allah dan diberi hidup di muka bumi ini, adalah untuk beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat (51): 56). Untuk itu kita harus sehat afiat, karena sakit akan menjadikan ibadah kita tidak bisa sempurna kita laksanakan. Semangat beribadah itu sangat baik, tetapi jika semangat itu tidak diimbangi dengan cara beragama yang benar, akan dapat menimbulkan madharat, dan itu harus dihindari.

Karena itu tolong keyakinan kepada Allah, itupun harus mengikuti tuntunan Rasul-Nya” saya menjelaskan agak panjang.

“Monggo dilanjut kopi, ubi, dan kacang rebusnya. Kita jaga bersama kesehatan keluarga besar kita. Kalau ada yang lupa mengenakan masker, tolong dengan bahasa yang santun diingatkan”.

“Siap Kang, matur nuwun ilmunya”, kata Kang Sakiman.

“Kami mohon izin, dan terima kasih sudah diperkenankan ikut ngaji” kata Om Dani ikut pamit.

“Monggo-monggo, matur nuwun, jangan lupa masker dan cuci tangan sebelum masuk rumah”, saya meminta sambil melepas mereka. (aa)
Allah a’lam bi sh-shawab. Ngaliyan, Semarang, 4/Dzul Qa’dah/1441H-26/Juni/2020M.

*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.

Tinggalkan Balasan