Rayakan Pek Tjun, Makan Bakcang di Gang Pinggir Semarang

193
Haryanto Halim makan bakcang di gedung Rasa Dharma Jl Gang Pinggir, Pecinan, Semarang, Kamis (25/6/20220), bertepatan dengan perayaan Pek Tjun 2571. (Ali Arifin - aa)

SMOL.ID – SEMARANG – Ada banyak rangkaian perayaan Pek Tjun. Mulai dari festival perahu naga, mandi tengah hari, hingga makan bakcang. Merayakan Pek Tjun di masa pandemi Covid-19 cukup dengan makan bakcang bersama di gedung Rasa Dharma Gang Pinggir, Pecinan, Semarang.

Sebagaimana dilakukan Haryanto Halim (Liem Tun Hian), Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis). Haryanto yang juga Ketua Perkoempoelan Sosial Rasa Dharma (Boen Hian Tong) Semarang itu mengajak Ling Ling, manajer perkumpulan, dan pengurus lainnya untuk makan siang bersama dengan menu utama bakcang.

Smol.id yang diundang siang itu ikut merasakan bakcang yang diduga sudah ada sejak Dinasti Jin.

Haryanto didampingi Ling Ling menyatakan, tradisi makan bakcang secara resmi dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Pek Tjun (Peh Cun) sejak Dinasti Jin. Sebelumnya, walaupun bakcang telah populer di Tiongkok, tetapi belum menjadi makanan simbolik festival ini.

”Bentuk bakcang sebenarnya juga bermacam-macam dan yang kita lihat sekarang hanya salah satu dari banyak bentuk dan jenis bakcang tadi. Di Taiwan, di akhir Dinasti Ming, bentuk bakcang yang dibawa oleh pendatang dari Fujian adalah bulat gepeng. Agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita lihat sekarang,” jelasnya.

Isi bakcang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging. Ada sayur-sayuran, ada pula yang dibuat kecil-kecil namun tanpa isi yang kemudian dimakan bersama srikaya dan gula manis.

Apa Sih Bakcang itu?

Dilansir dari id.wikipidea.org, bakcang atau bacang (Hanzi: 肉粽, hanyu pinyin: ròuzòng) adalah penganan tradisional masyarakat Tionghoa. Kata ‘bakcang’ sendiri berasal dari dialek Hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku Tionghoa di Indonesia.

Haryanto Halim dan Agung Kurniawan, pengelola Kantin Kebajikan Rasa Dharma Gang Pinggir, Pecinan Semarang, memegang bakcang. (Ali Arifin – aa)

Bakcang menurut legenda kali pertama muncul pada zaman Dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo. Pada saat itu, bakcang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk dalam air supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. Untuk kemudian, bakcang menjadi salah satu simbol perayaan Pek Tjun atau Peh Cun atau Duanwu.

Bakcang secara harfiah bak adalah daging dan cang adalah berisi daging. Jadi arti bakcang adalah (penganan) berisi daging, tetapi pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang, chai adalah sayuran dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan srikaya atau gula disebut kicang.

Bakcang dibuat dari beras ketan sebagai lapisan luar; daging, jamur, udang kecil, seledri, dan jahe sebagai isi. Ada juga yang menambahkan kuning telur asin. Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap, dan sedikit minyak nabati.

Tentunya yang tidak kalah penting adalah daun pembungkus dan tali pengikat. Daun biasanya dipilih daun bambu panjang dan lebar yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Bakcang biasanya diikat berbentuk limas segitiga. (Ali arifin – aa)

Tinggalkan Balasan