Ngaji Fiqh Ngaji Sugih

373

Oleh: Ahmad Rofiq*)

SMOL.ID – Dampak ekonomi pandemi Covid-19 ini bagi negara kita sangat dahsyat. Kata RI-1, untuk menghadapi pendudk Indonesia 268 juta, dibutuhkan manajemen krisis, dan yang terpenting memiliki sense of crisis. Itulah grundelan pagi-pagi Om Dani, setelah menyaksikan bersama Kang Sakiman dan Kang Konder, setelah menyimak secara seksama postingan Bang Arjun tentang arahan presiden pada para menteri supaya memiliki jiwa dan perasaan yang sama dalam menghadapi crisis pandemi Covid-19.

Kang Sakiman, ini makin ke mana-mana saja, sampai mengamati arahan presiden. “Bahkan presiden juga mengatakan, jika perlu perpu, saya buatkan. Kalau butuh perpres, saya buatkan” ujar Kang Sakiman menirukan statemen Presiden.

“Pripun Kang menurut Panjenengan”? Tanya Kang Sakiman pada saya.

“Kang Sakiman, sampeyan ini aneh, saya tidak ahli ekonomi. Kebetukan saja diamanati sebagai Ketua KSPPS Damar, saya tahunya sedikit-sedikit saja, memang diamanati menjadi ketua DPS Bang Jateng dan RSI-SA, tetapi itu kan lebih pada aspek fiqh dan syariahnya. Memang untuk menjadi DPS harus lulus sertifikasi oleh BSNP, dan itu sudah saya dapatkan tahjn 2009 dan yang kedua 2015. Juga sertifikat manajemen risiko, masih level 1 sih” saya berharap Kang Sakiman, Om Dani, dan Kang Konder memahami.

“Bagaimana kalau kita bicara yang ringan-ringan saja, tetapi kira-kira akan sangat bermanfaat bagi masa depan anak-anak kita dan bangsa ini ke depan” saya mencoba menghindar dari tema berat yang disodorkan Kang Sakiman.

“Nanti isu berat itu, kalau siatuasi memungkinkan, saya akan undang Bang Arjun, yang mungkin bisa membahas secara tajam namun jernih tentang isu politik ekonomi namun sensitif itu, apalagi katanya, pak presiden, sempat nyinggung reshufle segala.

“Begini Kang dan Om Dani, putra-putrine Panjenengan kan masih kecil-kecil. Hemat saya, perlu direncanakan distribusi ilmunya. Kalau ada yang diarahkan ke pesantren, itu saya sangat mendukung, karena menghadapi tantangan sosial-budaya ekonomi ke depan makin berat, kalau bahasa ndeso saya, makin sangar. Bahasa gaulnya, makin materialistik, hedonis, dan pragmatis. Tetapi kalau bisa yang juga mengajarkan bukan saja ngaji fiqh saja tetapi juga ngaji sugih” kata saya. Kang Sakiman mulai penasaran, jiga Kang Konder, dan Om Dani.

Om Dani meskipun dalam hatinya penasaran, ia bisa mengendalikan mimik muka dan bahasa tubuhnya. Om Dani menyambung “maksudnya apa itu Bapak, ngaji fiqh dan ngaji sugih? Selama ini kalau ke pesantren kan ngaji fiqh, apa memang sudah ada pesantren yang sudah berubah visi dan orientasinya menjadi bervisi dunia”?

“Manusia itu, dari masa azali atau catatan di buku besar di Lauhil Mahfudh itu sudah ada kapan lahir, siapa kedua orang tuanya, nasib, rizqi, jodoh, dan umurnya, dan ajalnya. Namun Allah juga memberikan anugerah akal, hati, nafsu, dan kelengkapan fisik lainnya, agar manusia bisa memanfaatkan karunia Allah tadi itu, untuk merencanakan perubahan dan perbaikan masa depannya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”(QS. Ar-Ra’du (13):11).

“Karena itu, umat Islam yang merupakan bagian terbesar bangsa ini, selain perlu ngaji fiqh juga ngaji sugih. Istilah ini saya dapat dari Pak Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia. Mungkin Pak Perry tidak kenal saya, tetapi diksi atau pilihan istilah yang disampaikan saat Halal Bu Halal secara daring — kebetulan saya juga sebagai salah satu anggota dewan pakar MES saya diundang — itu menarik. Dan saya yakin, sudah banyak pesantren yang santri-santrinya diajari ngaji fiqh, namun sekaligus juga ngaji sugih, melalui berbagai usaha ekonomi yang secara keseluruhan diserahkan kepada para santri. Sebut saja Pesantren Sidogiri Jawa Timur yang memiliki KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah), Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus,dan lain-lain”.

“Apa alasan Panjenengan” sela Om Dani makin penasaran.

“Begini Om, umat Islam ini merupakan bagian terbesar warga negeri ini. Seandainya mereka, 50 persen saja, adalah alumni pesantren yang ilmu agamanya bagus, dan keterampilan ekonomi atau usahanya sangat baik, dan 10 persennya saja, menjadi orang-orang kaya di negeri ini, maka tentu akan memiliki pengaruh sangat signifikan dalam memandu mengatasi permasalahan umat di negeri ini. Zakat infak sedekah yang terhimpun akan sangat besar. Itu artinya sebagian warga yang kurang beruntung, bisa dibiayai sekolah mereka sampai perguruan tinggi. Dan yang terpenting, fundamental ekonomi — karena sektor riil dan umkm — akan makin kokoh” saya menjelaskan.

“Lagi pula, doa kita kan selalu mohon kepada Allah diberi kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, sekaligus dijaga oleh Allah dari api neraka. Maksudnya usaha-usaha yang menabrak rambu aturan dan agama”.

“Rasulullah saw mengajarkan: “Berdaganglah kamu sekalian, karena di dalam berdagang — atau berwirausaha — itu, sembilan persepuluh rizqi”. Tentu pedagang atau pengusaha yang jujur. Karena pedagang yang jujur itu kelak di akhirat disamakan kedudukannya bersama para Nabi dan Syuhada’” saya menarasikan.

“Tetapi apa mungkin di negeri kita ini, menjadi pengusaha yang jujur”? Tanya Om Dani yang rupanya banyak pengalaman pahit dalam dunia bisnis. Karena dia punya CV yang sering berurusan soal tender dengan berbagai dinas dan kantor.

“Mudah-mudahan yang dialami Om Dani, hanya oknum yang di era pandemi Covid-19 ini, segera menyadari bahwa apa yang dilakukan di luar aturan perundang-undangan itu segera diakhiri dan bertaubat” sahut saya membesarkan harapan Om Dani.

Kang Sakiman dan Kang Konder pamit, karena isu yang dikemukakan di awal, belum mendapatkan respon. “Ijin pamit Kang, insyaa Allah, besok disambung lagi” kata Kang Sakiman seakan mewakili Kang Konder. “Monggo-monggo Kang, matur nuwun, dihabiskan dulu kopinya” sahut saya mengakhiri pembicaraan. (aa)
Ngaliyan, Semarang, 7/Dzul Qa’dah/1441H/29/6/2020M.
*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.

Tinggalkan Balasan