1 Juli 2020 Candi Prambanan dan Ratu Boko Dibuka

92
Direktur Utama PT TWC Eddy Setijono, Kepala Dispar DIY Singgih Raharjo, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, Zaimul Azzah, Wakil Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY yang juga Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantara, menerangkan rencana pembukaan kembali obyek wisata Candi Prambanan dan Ratu Boko. (Foto : Smol.id/Rangga Permana - aa)

SMOL.ID – YOGYAKARTA – Mulai 1 Juli, objek wisata Candi Prambanan dan Ratu Boko, dibuka untuk umum. Namun, salah satu syaratnya pengunjung wajib mengenakan masker. Hal itu Demi keamanan dan kenyamanan wisatawan, operasi kali ini dilakukan secara terbatas.

Hal ini terpaksa dilakukan, karena untuk mencegah penyebaran virus Corona. Selain itu, pengunjung juga diminta untuk mentaati prosedur kesehatan. Misalnya, pengunjung wajib mengenakan masker, cuci tangan dan selalu jaga jarak agar semua bisa aman dan nyaman dari bahaya virus jahat tersebut.

Direktur Utama PT. Taman Wisata Candi (TWC) Eddy Setijono mengatakan itu dilapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan, kemarin. Demi kenyamanan wisatawan, maka uji coba operasional distinasi wisata tersebut dilakukan secara terbatas.

Pihaknya hanya membatasi jumlah kunjungan wisatawan selama masa uji coba bagi 1.500 orang. Ini hanya 20% dari jumlah kunjungan wisatawan meskipun pihaknya diperbolehkan untuk membuka operasional hingga 50%,.

“Kami tetap berhati-hati, sementara dibuka 20 persen atau 1.500 orang jumlah kunjungan dulu. Untuk pembelian tiket bisa dilakukan 1.000 tiket secara offline dan 500 tiket secara online. Tiket kunjungan, katanya, disediakan di web resmi milik PT TWC,” ujar Eddy Setijono menjelaskan.

Dia menjelaskan, uji coba operasional secara terbatas tersebut dilakukan selama dua minggu. Mulai 1 Juli besok. Pengunjung tidak terbatas orang dewasa tetapi juga anak-anak dan ibu hamil dengan syarat memenuhi protokol kesehatan.

Selama di lokasi wisata, pengujung wajib menggunakan masker, jaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun yang telah disediakan diberbagai titik kawasan Candi Prambanan dan tidak boleh membawa makanan dari luar.

Meskipun syarat di atas mudah, namun menurut Edy, masih sering pengunjung abai saat tiba di lokasi wisata. Oleh karenanya, ia meminta agar pengunjung harus disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Pada minggu pertama, kata Edy, selama operasional dilakukan monitoring baik dari pemerintah, Satgas Covid-19 dan satuan internal TWC. “Kami melarang pengujung membawa makanan dari luar. Di pintu masuk ada pemeriksaan kecuali makanan konsumsi bayi, diizinkan,” katanya. ”Kami tidak tahu, itu makanan dari mana?,” imbuhnya.

Menanggapi rencana tersebut Kepala Dispar DIY Singgih Raharjo menyambut baik terkait persiapan SOP yang diterapkan destinasi wisata Candi Prambanan dan Ratu Boko.

Dia memastikan setiap tahapan dan uji operasional terbatas tetap dilakukan monitoring dan evaluasi. “Jadi ini belum operasional penuh tapi terbatas. Baik dari sisi kapasitas maupun jam operasionalnya,” kata Singgih.

Uji coba tersebut untuk memastikan wisata di DIY aman bagi wisatawan. Dia berharap, uji coba terbatas di destinasi lainnya di DIY juga bisa terus dilakukan secara terbatas. Diharapkan dengan uji coba tersebut, ekonomi masyarakat juga bisa bergerak.

“Kami dalam waktu dekat untuk Sleman menyiapkam uji coba terbatas untuk destinasi wisata Tebing Breksi. Distinasi wisata lainnya juga akan melakukan tahapan-tahapan uji operasional secara terbatas,” jelas Singgih.

Sementara Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, Zaimul Azzah mengapresiasi uji coba operasional di Candi Prambanan dan Ratu Boko. Uji coba digelar setelah pengelola melakukan empat kali simulasi operasional sesuai protokol kesehatan.

“Pengunjung hanya dibolehkan di halaman satu dulu. Tidak boleh naik ke candi. Jumlah pengunjung dibatasi sesuai Protap mulai pukul 08.00 hingga 16.00,” katanya. ”Jadi waktu kunjungan juga dibatasi, mulai dari pukul O8.00 sampai pukul 16.00 WIB,” katanya.

Sedangkan Wakil Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY yang juga Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantara mengatakan, perpanjangan status tanggap darurat non bencana alam hingga akhir Juli di wilayah DIY tidak melarang rencana uji coba operasional destinasi wisata.

“Tanggap darurat periode ketiga ini, untuk memastikan penanganan aspek kesehatan di lokasi wisata bisa berjalan optimal. Artinya baik status tanggap darurat dan uji coba operasional ini bukan kontradiktif, tetapi memastikan uji coba berjalan sisi kesehatan juga dilakukan,” katanya.

Dia mengatakan, dengan dibukanya kembali lokasi wisata semua pihak harus bahu membahu mencegah penularan virus Covid-19. Sebab potensi penularan virus tidak hanya di lokasi wisata tetapi bisa terjadi di transportasi, lokasi belanja dan lainnya. Hal ini, katanya, harus diantisipasi semuanya secara menyeluruh.

Uji coba ini, lanjut dia, bukan sekadar pengalaman baru bagi pengunjung tetapi juga mengedukasi masyarakat agar meningkatkan pola hidup bersih dan sehat. (Rangga Permana – aa)

Tinggalkan Balasan