Selasa, 2 Maret 2021

Ini Kisah Sesepuh Sayung Terkait Rob di Demak (2)

SMOL.ID – DEMAK – Musim kemarau benar-benar membalikkan keadaan hampir seluruh wilayah Kabupaten Demak. Sudirto (61) sesepuh Kecamatan Sayung yang sebelumnya berkisah tentang gemah ripah lohjinawi-nya Kecamatan Sayung sebelum rob, menjadi berbalik 180 derajat ketika musim kemarau tiba.

”Pola kampung di desa-desa di Kecamatan Sayung sangat seragam. Rumah-rumah warga saling berhadap-hadapan dan di tengahnya ada sungai. Air sungai yang jernih itu dihubungkan ke blumbang (kolam kecil) di belakang rumah-rumah warga untuk kebutuhan memasak (makan/minum), mandi, dan mencuci pakaian,” jelasnya.

Sebuah alat berat digunakan Sudirto untuk membuat tambak di belakang rumahnya. Sebelumnya tanah milik Sudirto itu adalah sawah. Karena abrasi di wilayah Kecamatan sayung, Demak, sudah demikian tinggi, tanah sawah itu kemudian disulap jadi tambak udang Vanamei. (dok – aa)

Di belakang blumbang biasanya ada lahan sawah/tegalan dan tambak ikan. Antara sawah/tegalan dan tambak dibatasi saluran tersier.

”Waktu itu Sayung belum terpapar polusi industri. Maka hasil panen tambak yang ditebari benih udang atau beragam jenis ikan sangat melimpah. Hasil panen tanaman padi sawah juga melimpah ruah.”

Karena alamnya yang subur, Sayung menjadi magnet bagi masyarakat pendatang. Sudirto mencotohkan, orang tua kakeknya berasal dari Brakas, Dempet, Demak dan orang tua neneknya dari daerah Kalikayen, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Warga meninggikan jalan antar desa di Kecamatan sayung yang hampir hilang ditelan rob. (Ali Arifin – aa)

”Di Sayung semua kebutuhan hidup tersedia. Kecuali sandang. Untuk kebutuhan sandang/pakaian, masyarakat biasanya ke Pasar Johar, Kota Semarang,” ujarnya.

Musim Kemarau

Namun, ketika musim kemarau tiba, lanjut Sudirto, semua berubah. Sungai-sungai menjadi kering. Lahan sawah, tegalan, bahkan tambak juga kerontang.

”Dulu masyarakat belum mengenal sumur bor atau artetis. Tanaman nyiur (kelapa) dan tanaman karang kitri layu. Jika terlimpas air pasang laut membuat kadar garam di dalam tambak terlalu tinggi, sehingga ikan dan udang mampu bertahan, biasanya gagal panen.”

Ketika musim hujan tiba, roda ekonomi kembali berjalan. Masyarakat petani mulai membuat lahan pesemaian benih padi. Banyak petani dari luar membeli benih padi dari para petani Sayung.

”Hasil panen padi, jagung, dan ketela yang sudah djadikan gaplek disimpang di lumbung-lumbung desa.
Semua itu untuk persediaan pangan jika musim paceklik datang. Baik musim kemarau yang bekepanjangan maupun musim hujan yang curah hujannya di atas rata-rata. Biasanya di bulan November, Desember, Januari,” kenangnya.

Dari tahun ke tahun, siklus kehidupan warga Sayung begitu terus menerus. Sayangnya, sama dengan daerah lain, Sayung belum tersentuh pembangunan infrastruktur. Jalan-jalan desa masih berujud tanah. Jika musim hujan becek dan musim kemarau retak-retak atau merekah.

”Istilahnya yen rendheng matol lan jeblok, yen mongso ketigo nelo. Belum adanya listrik masuk desa mengharuskan warga menggunakan teplok/senthir dan lampu petromaks/stromking.”

Saat kemarau panjang, lanjut Sudirto, warga pendatang yang kebanyakan tidak punya sawah atau tambak, biasanya eksodus ke kota. Mereka menjadi pekerja serabutan di Kota Semarang, Kudus, Demak, bahkan ada yang sampai ke Surabaya dan Jakarta.

Sudirto dan para guru SD di Bedono sebelum dia purna tugas. (dok – aa)

”Di awal musim penghujan, warga yang sempat eksodus ke kota-kota besar itu kembali datang ke Sayung. Mereka ada yang menjadi buruh tandur (cocok tanam), bekerja di tambak, atau pekerjaaan lain yang cukup beragam ketika musim penghujan mulai datang,” tambah Sudirto yang mengaku menjelang purna tugas pernah diberi tanggungjawab pelaksanaan Program SMP 3 Satu Atap Sayung (Program Percepatan Wajar 9 Tahun) di Kabupaten Demak. (Bersambung/Ali Arifin – aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA