3 Perusahaan Jadi Klaster Terbesar Corona di Kota Semarang

1395
Foto: Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, Rabu (8/7/2020). (Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

SMOL.ID, SEMARANG – Klaster penyebaran virus Corona atau Covid-19 pada perusahaan di Kota Semarang menjadi klaster Corona terbesar di wilayah ini. Pemkot Semarang kini fokus menangani klaster tersebut.

“Pantauan terhadap history cluster, kan ada pasar, tenaga medis, rumah sakit, Puskesmas dan yang terakhir cukup besar di pabrik atau kawasan industri, fokus nanti patroli ke pabrik,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi usai rapat penanganan Covid-19 di Balai Kota Semarang, Rabu (8/7/2020).

“Jumlah kasus Corona di Klaster perusahaan) Cukup tinggi. Klaster terbesar. Ini kami jadikan fokus,” lanjutnya.

Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu menjelaskan klaster dari tiga perusahaan berpengaruh cukup besar terhadap penambahan kasus Corona di ibu kota Jawa Tengah itu.

“Kita sampai 972 (kasus Corona), lonjakan (jumlah kasus Corona di klaster) industri dan pabrik sampai 33 persen,” kata Hendi.

Ia tidak menyebut detail nama perusahaan tersebut namun perusahaan tersebut bergerak di bidang garmen, migas, dan BUMN. Ia berharap protokol kesehatan di perusahaan diperketat termasuk saat jam istirahat dan makan. Hendi juga menyarankan adanya bilik penyemprotan agar steril.

“Pabrik kan punya duit, siapkan chamber, pegawai masuk semprot steril, tempat makan yang jadi tempat penularan juga diatur. Teman patroli nanti arahkan ke situ,” jelasnya.

Hendi mengungkap tracing sudah dilakukan terkait klaster tersebut hingga ke lingkungan tempat tinggal. Untuk di lingkungan tempat tinggal, Hendi berharap konsep Kampung Hebat Siaga COVID bisa dilaksanakan dengan baik.

“Kalau di lingkungan pakai Kampung Hebat Siaga Covid, kan mereka punya kemandirian swadaya penanganan Covid. Di pabrik, harus punya pengelolaan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID, jadi kita keroyok,” ujar Hendi.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam mengatakan dari hasil tracing tiga perusahaan, didapati 300-an orang positif Corona. Jumlah tersebut termasuk karyawan perusahaan dan lingkungan yang di-tracing.

“Total itu dari perusahaan itu hampir 300-an,” kata Hakam.

Ia menegaskan 99 persen dari mereka merupakan orang tanpa gejala (OTG). Namun memang awal diketahui yaitu dari pasien dalam pantauan (PDP) yang ternyata bekerja di pabrik dan akhirnya dilakukan tracing.

“Karena indeks case-nya ada PDP, ketemu di rumah sakit, akhirnya kita tracing,” ujarnya.(dtc)

Tinggalkan Balasan