Kemarau Datang, Petani di Klaten Curhat Harus Beli Elpiji untuk Pompa Air

21
Foto: Para petani menggunakan tabung gas 3 kg untuk bahan bakar diesel pompa air (Achmad Syauqi/detikcom)

SMOL.ID, KLATEN – Datangnya musim kemarau mulai membuat petani padi di Klaten resah karena kekurangan air. Para petani di beberapa daerah mulai menggunakan gas bersubsidi 3 kg atau gas melon untuk bahan bakar diesel pompa air.

“Sudah seminggu ini tidak ada air dari mata air Ponggok, Kecamatan Polanharjo. Hujan sudah tidak ada, jadi pakai gas agar irit,” kata petani warga Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Suradi saat ditemui di sawahnya, Senin (13/7/2020).

Suradi mengaku lebih irit menggunakan gas. Sebab satu tabung bisa digunakan hingga 5-7 jam, sedangkan satu liter pertalite hanya bisa satu jam menyedot air.

“Kalau dengan pertalite hanya satu jam padahal harganya sekitar Rp 7 ribuan, kalau 5 jam sudah Rp 35 ribu. Dengan gas hanya Rp 20 ribu,” terang Suradi.

Suradi mengaku belum ada bantuan pemerintah terkait kesulitan air ini. Menurutnya, para petani merogoh kocek sendiri, padahal tahun lalu diinformasikan ada bantuan gas melon.

“Katanya ada bantuan tapi sampai saat ini belum pernah ada. Gas ya beli sendiri,” imbuh Suradi.

Hal senada disampaikan warga Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom, Purwanto. Dia mengaku menggunakan gas melon agar bisa menghemat biaya di masa pandemi virus Corona.

“Kalau pakai gas melon bisa tujuh jam tapi jika dengan pertalite atau solar bisa lebih mahal sebab satu liter hanya untuk satu jam. Uangnya bisa untuk kebutuhan lain di tengah Covid saat ini,” kata Purwanto.

Purwanto mengaku sudah menghitung anggaran yang dia butuhkan untuk menggerakkan mesin pompa airnya. Jika dibandingkan dengan gas, penggunaan pertalite dalam waktu tujuh jam membutuhkan sekitar Rp 50 ribu.

“Pakai BBM butuh Rp 50 ribu padahal dengan gas melon paling Rp 20 ribu di pengecer kampung. Jadi bahan bakar gas jauh lebih irit setengahnya,” terang Purwanto.

Dia mengaku memodifikasi mesin diesel untuk penggunaan gas juga murah. Paling tidak dengan uang Rp 50-100 ribu sudah bisa digunakan untuk membeli selang, regulator, klip, dan lainnya. Penggunaan gas ini pun sudah banyak digunakan warga desanya selama setahun terakhir.

“Di sini sudah banyak pakai gas. Ada satu dua yang masih dengan BBM,” ucap Purwanto.

Diwawancara terpisah, Kabid Ketahanan Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Pemkab Klaten Erni Kusumawati mengatakan belum ada laporan gagal panen gara-gara kemarau. Dia juga sudah memetakan daerah rawan krisis air untuk padi di empat kecamatan.

“Sampai saat ini belum ada laporan puso karena kekeringan tapi kami imbau petani menanam palawija dan mulai hemat air. Daerah rawan ada di Kecamatan Karangdowo, Cawas, Bayat dan sebagian kecil Trucuk,” jelas Erni saat dimintai konfirmasi.

Foto: Tampilan modifikasi diesel pompa air untuk gas (Achmad Syauqi/detikcom)

Terpisah, Sales Branch Manager Wilayah V Yogyakarta PT Pertamina, Sandi Rahardian mengatakan penggunaan LPG untuk pertanian sudah diatur Perpres sejak tahun 2019. Dia menyebut dinas setempat akan mengajukan permintaan LPG untuk pertanian saat musim kemarau.

“Dinas kabupaten mengajukan, sebab sifatnya hanya seasonal atau musiman. Namun sejauh ini belum ada permohonan dari Dinas untuk kebutuhan LPG pertanian,” jelas Sandi.(dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here