Bocah 13 Tahun, Bikin Kulit Lumpia dan Sendirian Rawat Ibu

32
Foto: Hilal bocah 13 tahun bikin kulit lumpia dan sendirian rawat ibu, Kamis (23/7/2020). (Uje Hartono/detikcom)

SMOL.ID – BANJARNEGARA – Hilal Dwi Bagus Priyadi (13) harus banting tulang bekerja sebagai pembuat kulit lumpia di sela sekolahnya. Siswa kelas VIII MTs Merden, Banjarnegara ini bahkan harus merawat ibunya yang sakit.

Sejak 2 tahun lalu, Hilal sapaan akrabnya, mulai bekerja sebagai pembuat kulit lumpia di rumah tetangganya. Tepatnya setelah ibunya, Nasirom (45) jatuh sakit dan tidak bisa bekerja lagi dengan maksimal.

“Kondisi ibu sering kambuh, dan kalau sedang kambuh tidak bisa jalan. Tiduran aja,” kata Hilal, Kamis (23/7/2020).

Sebagai pembuat kulit lumpia, setiap harinya Hilal berangkat pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, mengingat saat ini sekolah menerapkan belajar di rumah akibat pandemi virus Corona atau COVID-19. Namun, kadang kala dia juga harus lembur hingga pukul 22.00 WIB saat banyak pesanan.

Anak bungsu dari dua bersaudara ini pun mengaku ingin punya waktu bermain seperti teman-temannya. Namun keinginan itu dia kubur dalam-dalam mengingat ibunya kini tak bisa bekerja seperti dulu lagi.

“Saya sebenarnya ingin bermain seperti yang lain. Tetapi saya sadar dengan kondisi yang saya alami sekarang,” tuturnya.

Hilal saat ini tinggal bersama ibunya Nasirom (45), dan kakak perempuannya Aprilia Intan (18). Namun, kakaknya Intan lebih sering tinggal di pondok pesantren di Kabupaten Sukoharjo karena disekolahkan salah seorang donatur. Sedangkan bapaknya sudah meninggal saat Hilal berusia empat tahun.

“Di rumah hanya bertiga. Tetapi karena sedang libur, jadi kakak pulang. Biasanya setahun pulang ke rumah 1 sampai 2 kali,” terangnya.

Sementara itu, ibu Hilal, Nasirom mengatakan kondisinya terus drop sejak 2017 lalu. Nasirom didiagnosis masalah jantung. Dengan kondisinya itu dia masih rutin periksa di Rumah Sakit Islam Banjarnegara maupun Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta.

“Kondisi saya mulai ngedrop tahun 2017. Dulu masih di Jakarta, karena kondisinya terus lemah kemudian pulang ke rumah,” kata Nasirom.

Nasirom menuturkan sejak dia sakit, putra bungsunya itu rajin mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Termasuk bekerja membuat kulit lumpia di tetangganya.

“Kalau lagi kambuh saya tiduran aja. Semua pekerjaan rumah Hilal yang mengerjakan. Apalagi kalau musim kemarau, Hilal juga yang mencari air bersih untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Meski sakit, Nasirom juga tak mau berpangku tangan. Kala fit dia membuat keranjang pindang yang dijual per biji Rp 90. Dia pun berharap untuk sembuh agar putranya tak lagi bekerja.

“Sekarang keinginan saya sembuh seperti yang lain. Agar bisa bekerja lagi seperti dulu. Tetapi di luar itu saya juga bersyukur, alhamdulillah dua anak saya nurut. Kalau pas sekolah, setelah pulang sekolah bantu-bantu. Malahan mau bekerja juga,” tuturnya.

Terpisah, pembuat kulit lumpia di Desa Merden, Dwi Angga mengaku prihatin dengan kondisi Hilal dan keluarganya. Sehingga, dia menawari Hilal untuk bekerja membantunya membuat kulit lumpia.

“Saya prihatin dengan Hilal. Ibunya sakit dan harus bolak-balik rumah sakit. Jadi saya suruh bantu di sini untuk membuat kulit lumpia,” kata dia.

Dwi menyebut Hilal diupah dengan hitungannya adalah per karung. Satu karung, Hilal diberi upah Rp 50 ribu.

“Upahnya itu per karung, jadi setiap minggunya berbeda-beda. Satu karung Rp 50 ribu. Tetapi karena kondisi Hilal seperti itu, jadi saya tambahin,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Merden, Sadar membenarkan terkait kondisi keluarga Hilal. Dia menyebut kondisi keluarga Hilal pun berkekurangan meski sebelum ibunya sakit-sakitan seperti saat ini.

“Sebelum sakit-sakitan, latar belakangnya memang dari keluarga kurang mampu. Rumahnya saja seperti itu, tidak layak,” kata Sadar.

Foto: Hilal bocah 13 tahun bikin kulit lumpia dan sendirian rawat ibunya Nasirom. Nasirom kala sehat bekerja membuat keranjang pindang Rp 90/biji. (Uje Hartono/detikcom)

Sadar menyebut pemerintah desa pun sudah berupaya memberikan bantuan untuk keluarga Hilal. Namun ada keterbatasan anggaran sehingga bantuan tersebut belum maksimal.

“Sejauh ini kami dari desa sudah ada langkah-langkah untuk membantu. Tapi karena keterbatasan anggaran jadi tidak bisa membantu jauh,” ujarnya.

“Kalau bantuan ada warga di situ yang rutin melakukan pendampingan, misal seperti mengantar ke rumah sakit, mencarikan Hilal sekolah dan lain-lain termasuk akhirnya ada donatur untuk kakak perempuannya,” sambung Sadar.

Hingga saat ini, kondisi Nasirom juga masih sering drop. Bahkan, meski sudah sering berobat ke rumah sakit namun hasilnya belum sesuai yang diharapkan.

“Sampai sekarang masih sering drop, terutama setelah ditinggal suaminya. Ini memang membutuhkan uluran tangan orang yang peduli,” terang Sadar. (sal/smol/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here