Idul Adha, Ketaqwaan, Kedermawanan, dan Kebahagiaan

195

Oleh: Ahmad Rofiq *)
Islam menganjurkan pada pemeluknya, agar menjadi dermawan. Termasuk di dalamnya berkurban dengan menyembelih hewan yang terbaik.

SMOL.ID – Allah SWT telah melimpahkan karunia yang sangat besar pada kita. Menghirup udara/oksigen setiap saat gratis, sementara saudara kita di RS, semalam saja sewa ventilator, bisa Rp 1 juta,- sd Rp 1,2 juta/hari.

Karena itu mumpung kita dikarunia rezeki yang melimpah, kalau hari belum, masih ada sisa wkatu tiga hari untuk berkurban dan menyembelihnya. Allah SWT berfirman: (1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Perintah berkurban adalah wujud uji keimanan dan ketaqwaan kita. Apakah dengan rezeki yang berlimpah, kita mampu memposisikan harta itu, sebagai instrumen atau perantara saja, agar kita mampu meraih kebahagiaan sejati, atau kebahagiaan semu namun sejatinya kita sedang dijajah dan diperbudak oleh harta yang diamanatkan oleh Allah kepada kita menjadi hamba-hamba yang bakhil-melintir? Subhanallah. Islam menganjurkan pada pemeluknya, agar menjadi dermawan. Termasuk di dalamnya berkurban dengan menyembelih hewan yang terbaik.

Para Sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw: “Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?” Beliau bersabda: “(Qurban) ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Nabi Ibrahim as.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah Saw, apa yang kami dapatkan dengan qurban itu?” Beliau menjawab: “Setiap satu helai rambut terdapat satu kebaikan”. Mereka bertanya: “Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Setiap satu helai rambut pada bulu-bulu terdapat satu kebaikan.” (HR. Ibnu Majah (3118) dan Ahmad (18480)).

Baginda Nabi Ibrahim as adalah seorang yang terlalu banyak melakukan korban. Suatu ketika Baginda menyembelih korban sebanyak 1000 kambing, 300 lembu dan 100 unta, hingga masyarakat sekeliling bahkan malaikat kagum dan heran.

Berkata Nabi Ibrahim: “Semuanya itu belum apa-apa lagi bagiku. Demi Allah, kalau aku dikaruniakan anak lelaki, pasti dia juga akan kusembelih di jalan Allah dan aku korbankan dia untuk-Nya”.

Para Ulama memang tidak ada yang mengatakan bahwa berkurban adalah wajib, paling tinggi adalah sunnah muakkad, atau madzhab Syafi’i menyebutnya dengan “sunnatu ‘ainin li l-munfaridi laa li ahli l-baiti waahidí” artinya “sunnah (anjuran) personal pada setiap individu, bukan kepada satu rumah satu” (Ibid.,hlm. 716).

Namun Rasulullah SAW dalam menganjurkan umat beliau, menggunakan bahasa yang sarkastik: “Man wajada sa’atan wa lam yudlahhi fa laa yaqrubanna mushallaanaa” artinya “barangsiapa menemukan kelonggaran dan tidak berkurban maka sungguh janganlah mendekati tempat shalat kami” (Dishahihkan Hakim). Seakan-akan orang yang shalat, shalatnya tidak berarti atau tidak “ngefek apabila, dia berkelonggaran tidak mau berqurban.

“Rasulullah saw menyembelih dua ekor domba yang warna putihnya lebih banyak daripada warna hitam, aku melihat beliau meletakkan kaki beloau di atas rusuk domba tersebut sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri” (HR. Bukhari, no. 5132, riwayat dari Anas). Berkurban adalah wujud dan manifestasi iman dan taqwa kita kepada Allah. “Daging-daging unta (hewan lainnya) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj (22): 27).

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita semua, bahwa kaya itu bukan karena berlimpahnya harta dan materi, akan tetapi kaya adalah manakala seseorang dapat merasa cukup atas apa yang dikaruniakan Allah, berupa rezeki pada kita. Rezeki tentu tidak sevatas materi, uang, atau kekayaan lainnya.

Akan tetapi kenikmatan iman dan Islam adalah kenikmatan yang tidak bisa dinilai dengan apapun. Makin banyak materi, akan makin lama pertanggungjawabannya, dari mana kita dapat, dan untuk apa kita belanjakan.

Karena itu, bagi yang hari ini mungkin, belum tergerak hati dan fikirannya, untuk berkurban, masih ada waktu tiga hari, sabtu, ahad, dan senin, terutama bagi saudara-saudara saya yang berkelonggran rezeki. Karena itu juga, setiap habis shalat fardlu, kita dianjurkan bertakbir sebagai bentuk dzikir kita bakda shalat, hingga bakda ashar tanggal 13 Dzul Hijjah.

Semoga persembahan hewan kurban kita hari ini, dicatat oleh Allah bahwa kita adalah manifestasi iman dan taqwa, serta ungkapan rasa syukur kepada Allah, atas berbagai karunia nikmat dan keberkahan-Nya. Berkah adalah bertambah-tambahnya kebaikan. Selamat merayakan Idul Adha 1441 H dan selamat berbahagia, semoga hidup kita bertabur kebahagiaan di dunia dan dilimpahi keberkahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ngaliyan, Semarang, Hari Tarwiyah, 8/Dzul Hijjah/1441 H/28/Juli/2020 M. (aa)

*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.

1 KOMENTAR

  1. Trima Kasih Pencerahannya Prof Rofiq.

    Smg kami bisa memanfaatkan moment tersebut dgn berqurban sesuai yg d ajarkan Rosulullah dgn pemahaman yg benar dan semakin bertaqwa

Tinggalkan Balasan