Arafah: Puncak Mengenal Diri Sendiri dan Allah

460

Oleh: Ahmad Rofiq*)

SMOL.ID – Hari ‘Arafah, 9/Dzul-Hijjah adalah hari puncak pelaksanaan ibadah haji. Bagi yang tidak mengambil “proses tarwiyah” jamaah haji, 8/Dzulhijjah sudah diberangkatkan ke padang Arafah.

Biasanya jamaah haji Indonesia, tidak kurang dari 211.00 jamaah Arafah. Tahun 2020 ini, hanya 13 WNI expatriate (muqimin) yang terdaftar melaksanakan ibadah haji. Sementara 211.000 yang sebagian besar sudah bersiap diri, hingga vaksinasi meningitis, tidak jadi diberangkatkan, karena pandemic Covid-19.

Postingan jamaah yang thawaf umrah bagi yang mengambil haji tamattu’/qudum bagi yang haji ifrad, dilaksanakan dengan protokoler kesehatan tinggi, jaga jarak, baik di pelataran Ka’bah maupun Sa’i antara bukit Safa dan Marwa.

Jamaah haji pagi ini sudah di padang Arafah, guna persiapan ibadah wuquf, serentak akan dimulai menjelang dhuhur, dengan Khutbah Wuquf, Adzan, Shalat Dhuhur dan Ashar dijama’ taqdim qashar.

Selesai shalat, bermunajat, taqarrub mendekatkan diri, berdzikir, bermuhasabah, berdoa, dan memohon kepada Allah. Bagi jamaah haji, ini adalah puncak kebahagiaan, karena wuquf di Arafah merupakan ritual proses pencucian dosa segala macam dosa.

“Di hari-harinya, syaitan tidak tampak lebih kecil, terjungkal, hina dan lebih muram daripada hari Arafah” (Riwayat Malik dari Ibrahim bin Abi Ablah).

Al-Ghazali mengutip dalam “Hikmah dan Rahasia Haji” bahwa “Manusia yang paling besar dosanya adalah orang yang wuquf di Arafah, lalu ia menyangka bahwa Allah Ta’ala tidak mengampuni (dpsa)-nya” (Riwayat al-Khathib).

Orang yang haji di Baitullah, tidak rafats, tidak fasik, maka ia keluar dari dosa-dosanya laksana di hari ia dilahirkan dari kandungan ibunya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Lebih dari itu, di hari Arafah juga Rasulullah saw pada saat melaksanakan haji wada’ (Riwayat Al-Bukhari (4240)) menerima wahyu, QS. Al-Maidah (5): 3) “al-yauma akmaltu lakum dinakum. ” artinya “Pada hari ini Aku (Allah) sempurnakan bagi kamu sekalian agama kamu sekalian….”.

Tentu ini menjadi kesempurnaan keyakinan dan pengenalan pada Allah yang Maha Pengasih dan Maya Penyayang, pada hamba-hamba-Nya. Karena ayat ini didahului tentang pengharaman bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang tidak disebut Asma Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang kamu sempat menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala.

Islam adalah agama yang sempurna, yang apabila diikuti dengan baik, berarti mengikuti jalan lurus (al-shirath al-mustaqim) dijanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bagi orang yang tidak melaksanakan haji, adalah momen belajar pada pengalaman sejarah Nabi Ibrahim as. Karena iman dan taqwanya, ia persembahkan harta kekayaan dan bahkan putranya yang sudah bertahun-tahun berumah tangga, setelah berdoa, dan dikaruniai putra yang sangat disayangi, ia persembahkannya kepada Allah. Allah pun sangat menyayangi, karena begitu Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail alaihimassalam siap melaksanakan perintah Allah, setelah yakin dan mengenal (ma’rifat) bahwa perintah menyembelih tersebut adalah wahyu, maka Allah pun segera menggantinya dengan sembelihan besar (QS. Ash-Shaffat (37): 107).

Dalam Islam, anak – baca keturunan – adalah bagian dari lima kebutuhan dasar (dlarury) bagi manusia, selain agama, jiwa, akal, dan harta. Karena itu, Allah memberi separo agama, apabila seorang laki-laki dikarunia istri yang shalihah (HR. Al-Baihaqi (1916). Melalui pernikahan dan istri shalihah, akan lahir keturunan yang shalih dan shalihah. Namun, manusia yang tidak mengikuti panduan agama, ia cenderung menjadi lebih buas dari serigala. Terutama ketika sudah dikuasai pada cinta harta dan kedudukan (hubbu l-mal wa l-jah). Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas di kendang kambing, lebih merusak agamanya, katimbang ketamakan seseorang pada harta dan kedudukan (kemuliaan)” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Manusia dikaruniai watak cinta kedudukan dan harta. Al-Ghazali menyebutnya sebagai dua pilar kehidupan dunia (Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 3: tt.: 272). Pada umumnya, “jabatan itu lebih dicintai dari harta, karena dengan jabatan bisa digunakan mendapatkan harta” (h. 273). Implikasinya, orang yang sudah didera dengan jabatan dan harta, dia takut mati. Karena itu, ia akan larut dalam upaya menciptakan dinasti dan kekuasaan, untuk menumpuk pundi-pundi hartanya.

Masih kata Al-Ghazali (273) “sesungguhnya harta akan memantik kekacauan dan kerusakan. Bisa dilakukan dengan mencuri, ghasab, tamak, dan bahkan tidak segan-segan melakukannya dengan kedzaliman”. Al-Ghazali menegaskan: “Maka kerusakan rakyat, adalah sebab kerusakan para raja – baca pemimpin – dan rusaknya para raja (pemimpin) karena sebab rusaknya ulama, dan rusaknya ulama adalah karena dikuasai cinta harta dan jabatan. Dan orang yang sudah dikuasai hatinya cinta dunia maka ia tidak mampu untuk mengintrospeksi (menghisab) diri pada hal-hal yang menghinakan/merendahkan. Maka bagaimana dengan raja-raja (pemimpin) dan para pembesar”?

Jabatan apapun, biasanya tentu berimplikasi pada uang atau harta. Maka tidak aneh, siapapun yang mendapatkan jabatan tersebut, apakah itu di pemerintahan, di ormas, atau apapun, akan berusaha untuk mendudukinya selama-lamanya. Jalan apapun akan ditempuhnya. Itu naluri alamiah manusia.

Karena itu, di hari Arafah inilah, merupakan momentum yang sangat baik. Berbahagialah Anda yang berpuasa, karena janji Rasulullah saw, akan menghapus dosa satu tahun, dan bahkan yang akan datang. Yang terpenting bagi kita adalah, bagaimana kita mengenali diri kita sendiri, dari apa kita diciptakan, untuk apa kita diberi hidup di dunia ini, dan apakah kita menjalani hidup ini sudah pada jalan yang benar dan lurus (al-shirath al-mustaqim) atau kita masih disibukkan pada urusan jabatan, uang, harta, dan memonopolinya, apalagi sampai menghalalkan berbagai cara yang tidak terpuji, fitnah, ghibah, tajassus, dan lain sebagainya, layaknya machiavelis?. Na’udzu biLlah.

Allah mengingatkan kita semua, “Ia menciptakan mati dan hidup adalah untuk menguji kita, siapa di antara kita yang terbaik amalannya” (QS. Al-Mulk (67): 2). Sebelum kita menyesali diri, mari kita merenungi diri kita, muhasabah dan instrospeksi diri, agar kita menjalankan “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” atau “barang siapa mengenali dirinya sendiri, maka sungguh ia mengenali Tuhan-nya”. Allah a’lam bi sh-shawab. Ngaliyan, Semarang, 9/Dzulhijjah/1441H/30/Juli/2020M. (aa)

*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.

2 KOMENTAR

  1. Trima kasih pencerahan dan motivasnya Prof Rofiq.

    Kita bisa belajar lebih mengenali diri dan tauladan oara nabi sehingga bisa menemukan jalan dan solusi meningkatkan amal dan menghapus dosa dosa kita

Tinggalkan Balasan