Kehebatan Atsiri Bisa Sulap Lahan Biasa Jadi Produktif (1)

105
Adlan di lahan tanaman serai wangi miliknya. (Dimas - aa)

SMOL.ID – BANJARNEGARA – Salah satu kehebatan usaha rumahan penyulingan minyak atsiri adalah bisa menyulap lahan biasa menjadi produktif.

Jangan tanya pada Andi alias Lasidin, si pengusaha penyulingan minyak atsiri di Desa Pagak, Kecamatan Purwarejo Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Tapi coba telisik info ini dari Sarikin, Turyono, Adlan, Turyono, dan Pribadi.

Beginilah bentuk tanaman nilam. Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama (minyak nilam). (Dimas – aa)

Mereka itu para pemilik lahan pertanian yang selama ini ditanami padi. Biasa saja, dan terus begitu sepanjang tahun. Namun, sejak ada usaha penyulingan minyak atsiri, lahan mereka menjadi sangat produktif.

Sawah seluas 12 hektare milik Sarikin dan Adlan kini jadi lahan tumpangsari setelah ditanami sirih (Piper betle) dan nilam (Pogostemon cablin Benth.).

”Ya benar. Sawah 12 hektare semula hanya untuk menanam padi, namun kini juga ada tanaman sirih dan nilam. Sistemnya tumpangsari. Hasilnya jadi berlipat,” jelas Sarikin dari Kutasari, Purbalingga.

”Saya menanam serai wangi di lahan sawah seluas 10 hektare,” ujar Adlan warga Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja Banjarnegara.

Andi (kiri) dan Sudarwo, Kades Pagak, Kecamatan Purworeja Klampok, Banjarnegara, di depan tumpukan daun sirih yang akan disuling. (Dimas – aa)

Turyono dari Punggelan, Banjarnegara juga menanam nilam dengan model tumpangsari di lahan seluas 10 hektare. Ada juga tanaman pala di lahan milik Prihadi di Desa Pagedongan, Banjarnegara.

Para petani itu rerata mengaku sangat beruntung. Karena lahan miliknya yang semula lahan biasa saja, ditanami padi dua kali setahun, kini menjadi lahan produktif karena dengan sistem tumpangsari ada nilai lebih dari lahan yang semula biasa menjadi luar biasa.

”Semua bibit tanamannya dari Mas Andi,” kata Turyono.

”Yang penting setelah panen, kita menjualnya kepada Mas Andi,” tambah Prihadi.

Perawatan tanaman bahan baku minyak atsiri itu, kata para petani tersebut, sangat mudah. Mereka hanya membersihkan rerumputan di sekeliking tanaman.

”Tidak membutuhkan pupuk kimia. Sebab, jika menggunakan pupuk kimia, malahan hasil panen kurang maksimal. Sebab, minyak atsiri yang dihasilkan akan terkontaminasi unsur atau zat kimia,” tandas Sarikin.

Lihat, serai wangi ini kayak rumput pakan sapi dan ternak lainnya. Namun di tangan Andi, dengan proses penyulingan yang benar, menjadi minyak atsiri yang harga jualnya jutaan rupiah/kg. (Dimas – aa)

Masa Panen

Menurut Sarikin dan Adlan, menanam nilam sangat menguntungkan. Enam bulan setelah ditanam langsung bisa dipanen.

”Itu panen yang pertama kali. Panen selanjutnya pemangkasan daun selama 3 bulan. Waktu memanennya sama dengan tanaman serai wangi. Adapun untuk jarak panen tanaman sirih dari pertama ke panen kedua lamanya 4 bulan,” jelas Adlan.

Menurut Andi, rerata 1 hektare tanaman nilam bisa menghasilkan 2.5 ton kering. ”Saya beli bahan baku minyak atsiri nilam dari petani mitra tersebut dengan harga Rp 9 ribu/kg kering dan Rp 2.500/kg basah,” katanya.

Adapun untuk kulit jeruk purut, Andi membeli Rp 3.000/kg sedangkan daunnya Rp 1.000/kg. Untuk daun sirih kering kering Rp 6.000/kg sedangkan sirih basah Rp 3.000/kg, daun cengkeh basah Rp 1.300/kg, serai wangi basah Rp 600/kg. (Dimas – aa/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here