Modus “Lama” Orang Gila Persekusi Ulama

289
Foto ilustrasi orang gila ditangkap Satpol PP. (aa)

Oleh: Ahmad Rofiq*)

SMOL.ID – Seluruh warga negara Indonesia, yang sedang dilanda keprihatinan akibat pandemi Covid-19, Minggu, 13/9/2020 sore antara jam 17.20 dikejutkan oleh peristiwa penusukan oknum anak muda terhadap da’i/muballigh terkenal, Syeikh Ali Jaber yang sedang berdakwah di Masjid Falahuddin Sukajawa, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Lampung.

Karena penusukan dilakukan di atas mimbar, yang mengakibatkan luka dan berdarah di lengan kanan, dan harus segera mendapatkan perawatan, maka penusuk yang diketahui bernama A Alfin Andrian (AAA) (24 th) yang beralamat di Jl Tamin Gang Kemiri, langsung segera ditangkap dan lumayan babak belur.

Alpin Andria pelaku penusukan Syekh Ali Jaber saat berceramah di Lampung. (indozone.id)

Anehnya, dalam waktu sekejap, tanpa harus melalui pemeriksaan oleh para psikolog atau psikiater, sudah berkembang spekulasi bahwa anak muda, bahwa Andrian ini – kata orang tuanya — ditengarai mengidap “gejala kurang waras”. Foto-fotonya pun langsung beredar medsos dalam berbagai versi dan gaya.

Reaksi spontan para netizen pun bervariasi, yang “mengesankan” ada semacam “kelatahan” dan sekaligus mengisyaratkan adanya “distrust” masyarakat kepada yang memiliki otoritas, untuk dapat menangani dan mengusut secara tuntas. Siapa sesungguhnya inisiator atau “otak” dan “sutradara” yang mengatur dan mendesain aksi yang tak berprikemanusiaan itu.

Kapolda Lampung Irjen Pol Purwadi Arianto menjelaskan “Pelaku membawa pisau dari rumah. Tapi sedang dalam pendalaman dokter jiwa bagaimana informasi tentang yang bersangkutan”.

Kapolresta Bandar Lampung Kombes Yan Budi, sudah menetapkan AAA sebagai tersangka, yang terancam Pasal 351 KUHP tentang “penganiayaan berat”. Melalui Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono, Polri segera mengirim tim medis, ke Bandar Lampung untuk membantu Polda. Supaya bisa diusut tuntas.

Foto ilustrasi orang gila di pinggir jalan. (aa)

Modus Lama

Sebagai orang awam, kalau dalam seminggu ini, nanti hasilnya tiba-tiba bahwa penyerang atau pelaku penusukan dinyatakan sebagai orang gila atau kurang waras, ini sepertinya akan “mengulang modus lama” yang di era keterbukaan sekarang ini, sudah “wagu” atau “tidak masuk akal”.

Mengapa, karena “orang gila itu” yang dalam Bahasa Arabnya “majnun” itu artinya “otaknya gelap”, sehingga untuk mengurus dirinya sendiri saja tidak ada kesanggupan.

Maka menjadi sangat kontradiktif alias “lucu”, kalau orang yang “gila” atau kurang waras, bisa mengambil dan membawa pisau dapur dari rumah, lalu datang ke panggung dan menuju Syeikh Ali Jaber dan menusuknya.

Ini mengingatkan pada waktu menjelang Pilpres yang lalu, di mana banyak “orang gila” yang melakukan “persekusi” pada para ulama, yang oleh Menteri Polhukam Wiranto (waktu itu) tanpa lebih dahulu melalui pemeriksaan oleh dokter yang ahli, para pelaku kekerasan sudah dinyatakan “gila”.

Menkopulhukam Mahfudh MD, setelah menjenguk Syeikh Ali Jaber, pun berjanji akan mengusut tuntas pelaku penusukan. Menteri Agama pun berharap pelaku diusut tuntas, dan menyatakan agar ulama wajib dilindungi. Persoalannya adalah, apabila mata dan pisau hukum yang diberlakukan itu masih positifistik, maka yang bisa diproses adalah hanya pelaku yang secara kasat mata tampak dan dapat dibutikan dengan mudah.

Karena “dalang” di balik penusukan tersebut, tentu tidak akan bisa “dijangkau”.

Tentu “tidak boleh su’udhzan”, begitu kata Syeikh Ali Jaber.

Memang tidak boleh bersuudhzan kepada siapapun. Akan tetapi demi keamanan, kesatuan, dan persatuan, apalagi dua bulan lagi, akan digelar Pilkada serentak, maka negara yang memiliki aparat dan BIN (Badan Intelijen Negara) tampaknya perlu mengusut siapa yang terlibat, dan yang mengotaki perencanaan penusukan Syeikh Ali Jaber tersebut.

“Petualangan” politik, dengan cara mengorbankan para ulama – melalui Syeikh Ali Jaber — yang notabene bersih dari afiliasi partai politik, dakwahnya yang sejuk, apalagi sering muncul di Damai Indonesiaku di stasiun TV swasta ternama, peristiwa penusukan itu, menjadi perlu dipertanyakan dan ditelusuri sampai ketemu siapa “dalang” sesungguhnya di balik kasus penusukan itu.

Semoga kita semua, warga yang merindukan adanya kerukunan, kedamaian, persaudaraan, dan persatuan, masih menyimpan harapan, supaya bisa ditemukan. Bahwa Ketika ketemu, nanti dimaafkan, atau diberi ganjaran, itu soal nanti.

Ini sekaligus menjawab spekulasi yang berkembang, bahwa “persekusi” ulama, itu modus musiman menjelang Pilkada atau even politik yang dilakukan oleh “orang-orang gila”.

Semoga “orang-orang gila” yang tidak mampu mengelola dirinya, dan tidak mampu mempertanggungjawaban urusannya sendiri, diberi kesembuhan, dan diampuni segala dosa-dosa politiknya jika memang ada. Allah a’lam bi sh-shawab. Ngaliyan, Semarang, 27/Muharram/1442 H – 15/September/2020 M. (aa)

*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.

1 KOMENTAR

  1. Di tempat yg sdh amanpun ternyata blm aman.
    Klo yg nyerang ulama dibilang orang gila, klo yg nyerang pejabat dibilang teroris
    Smg setalah ini berakhir menjadi aman nyaman.
    Tugas aparat keamanan belum bisa membuat rasa nyaman.
    Smg sgr ada solusi negara utk aman. Kita mulai dari hati yg aman dan mengamankàn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here