Rabu, 23 Juni 2021

Metode Pembelajaran Efektif di Masa Pandemi

Oleh: Prof Tri Joko Raharjo*)

SMOL.ID – Seluruh kegiatan di institusi pendidikan harus jaga jarak. Seluruh materi disampaikan di rumah masing-masing. Begitu bunyi Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 dari Menteri Pendidikan dan kebudayaan yang melatarbelakangi pembelajaran secara daring.

Setiap institusi pun dituntut untuk memberikan inovasi terbaru untuk membentuk proses pembelajaran yang sangat efektif ini.

Sayangnya, tak semua institusi pendidikan rupanya paham betul mengenai inovasi terbaru yang harus dipakai untuk melakukan pembelajaran selama pandemi.

Kebanyakan dari mereka masih belum bisa menyesuaikannya karena terkendala sarana dan prasarana.
Padahal jika dicermati ada metode pembelajaran yang efektif di masa pandemi Covid-19 ini.

Pertama, Project Based Learning.

Metode project based learning ini sangat efektif diterapkan untuk para pelajar dengan membentuk kelompok belajar kecil dalam mengerjakan projek, eksperimen, dan inovasi. Metode pembelajaran ini sangatlah cocok bagi pelajar yang berada pada zona kuning atau hijau. Metode project based learning ini diprakarsai oleh hasil implikasi dari Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020. 

Kedua Daring Method.

Metode daring ini sangatlah cocok diterapkan bagi pelajar yang berada pada kawasan zona merah. Dengan menggunakan metode full daring, sistem pembelajaran yang disampaikan akan tetap berlangsung dan seluruh pelajar tetap berada di rumah masing-masing dalam keadaan aman.

Ketiga, Luring Method.

Luring yang dimaksud pada model pembelajaran yang dilakukan di luar jaringan. Dalam artian, pembelajaran yang satu ini dilakukan secara tatap muka dengan memperhatikan zonasi dan protokol kesehatan yang berlaku. Metode ini sangat pas buat pelajar yang ada di wilayah zona kuning atau hijau terutama dengan protocol ketat new normal.

Keempat Home Visit Method.

Seperti halnya metode yang lain, home visit merupakan salah satu opsi pada metode pembelajaran saat pandemi ini. Metode ini mirip seperti kegiatan belajar mengajar yang disampaikan saat home schooling. Jadi, pengajar mengadakan home visit di rumah pelajar dalam waktu tertentu.

Kelima Blended Learning.

Metode blended learning adalah metode yang menggunakan dua pendekatan sekaligus. Dalam artian, metode ini menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka melalui video converence. Jadi, meskipun pelajar dan pengajar melakukan pembelajaran dari jarak jauh, keduanya masih bisa berinteraksi satu sama lain.

Tugas dengan Sistem STEAM

Metode pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics) berfokus pada aspek kolaborasi, komunikasi, riset, mencari solusi, berpikir kritis, dan kreativitas.

Sehingga, melalui metode STEAM, setiap murid dapat mengembangkan 5C, yakni Creativity, Collaboration, Communication, Critical Thinking, dan Character.

Ada beberapa manfaat dari metode pembelajaran STEAM, antara lain:

Anak belajar berproses, melihat pola, berlatih keterampilan berpikir kreatif, kolaborasi, dan komunikasi;
Pembelajaran yang digunakan berbasis teknologi ilmiah dan kemampuan menyelesaikan masalah di dunia nyata;
Anak dilatih untuk berani menyampaikan ekspresi diri, baik kritik maupun pendapat. Hal ini meningkatkan kemampuan komunikasi verbal dan non verbal anak, sehingga anak terbuka terhadap persepsi orang lain;
Mengembangkan potensi anak untuk membuat koneksi antara bahan pembelajaran, desain pembelajaran, serta lingkungan di sekitarnya;
Anak menemukan berbagai informasi sehingga menuntutnya untuk berpikir kreatif dan kritis terhadap hal-hal baru. Mereka didorong untuk memecahkan masalah bersama guru dan teman sebayanya.

5 Langkah Strategis

Ini 5 langkah strategis yang harus dilakukan untuk keberhasilan metode pembelajaran saat pandemi Covid-19:

1. Lakukan peninjauan kembali terhadap target pembelajaran yang ingin dicapai, agar secara rasional selaras dengan situasi dan kondisi baru dalam new normal.

2. Identifikasi sumber daya yang perlu dimiliki dan diadakan agar tujuan baru yang telah ditetapkan tersebut dapat dicapai dengan ketersediaan sumber daya yang ada.

3. Petakan situasi dan kondisi masing-masing guru dan siswa yang harus bersiap-siap melakukan model pembelajaran baru berbasis blended learning sebagaimana dirancang.

4. Kajilah gap antara kebutuhan dan ketersediaan untuk menyusun langkah-langkah strategis dan operasional yang perlu segera dilakukan untuk menjembataninya.

5. Eksekusi langkah-langkah tersebut secara kreatif dan inovatif dengan menjalin berbagai kemitraan dengan pihak-pihak eksternal yang peduli mengenai pendidikan. (aa)

*) Prof Tri Joko Raharjo, Koorprodi S3 Manajemen Kependidikan Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA