Warung Kudusan, Makan Semur Kuthuk yang Enak Sembari Belajar Budaya

7
Semur Kuthuk khas Kota Kretek Kudus/grab food

SMOL.ID, KUDUS – Berkunjung ke Kabupaten Kudus rasanya kurang pas jika tak mampir di Warung Kudusan. Di sini pengunjung bisa belajar budaya sambil menikmati kuliner khas Kota Kretek yakni Semur Kuthuk.

Warung Kudusan terletak di Jalan Kyai Mojo nomor 72 Desa Jepang Pakis Kecamatan Jati Kudus. Dari pusat Kota Kudus berjarak 3,9 km atau ditempuh selama 9 menit. Warung ini menjadi destinasi wisatawan lokal untuk mengenal budaya khas Kudus.

Di Warung Kudusan yang berdiri sejak tahun 2017 itu, pengunjung disambut dengan suasana kuno Kudus tempo dulu. Tampak rumah adat Kudus terlihat dari gerbang masuk. Di depan gerbang terdapat tulisan Warung Kudusan.

Warung Makan Kudusan di Kota Kudus/dtc

Masuk ke dalam, warung menempati bangunan tempo dulu yang terbuat dari kayu jati. Di sisi depan terdapat ruang pendopo. Kemudian di sisi kanan terdapat pendopo inggil. Sedangkan di sisi sebelah pendopo terdapat rumah adat Kudus yang berukiran cantik.

Sementara saat masuk ke dalam rumah adat Kudus masih terlihat kesan tempo dulu. Rumah adat Kudus masih tampak kekhasannya berupa joglo pencu atau atap pencu.

Bangunan rumah adat Kudus didominasi seni ukir sederhana yang merupakan perpaduan budaya Jawa, Islam, China dan Eropa. Bangunan rumah adat Kudus dibuat dengan kayu jati asli dan utuh.

Di kawasan Warung Kudusan juga terdapat benda – benda kuno, seperti dokar hingga jendela dan pintu rumah tempo dulu.

Pemilik Warung Kudusan, Ali Imron (50) warga Megawon Kecamatan Jati, Kudus mengatakan awalnya sudah memiliki usaha dibidang furniture membuat rumah adat Kudus. Kemudian Ali begitu sapaan akrabnya membuat galeri agar pengunjung bisa belajar tentang budaya Kudus.

“Punya keinginan itu kan karena memang saya sudah punya usaha furniture dan sudah punya usaha untuk reproduksi rumah adat Kudus dan aplikasi ornamen rumah ada Kudus didesain modern,” kata Ali saat ditemui di Warung Kudusan, Rabu (23/9/2020) sore.

Perabotan unik Warung Kudusan/dtc

“Dengan adanya usaha itu, saya memiliki keinginan bikin galeri dan bisa untuk belajar display, bagi orang milenial juga bisa belajar budaya Kudus. Nah kemudian kita bikin galeri muncul, ide bikin resto keunikan ornamen membawa budaya Kudus,” sambung Ali.

Menurutnya, rumah adat Kudus sendiri miliki keunikan dan sejarah. Rumah adat Kudus dibuat dari perpaduan antar beberapa kebudayaan, seperti Jawa, China, Islam, Hindu dan Buddha.

“Merupakan aplikasi terbentuknya rumah adat Kudus karena ada perpaduan budaya Cina, Islam, Hindu dan Buddha. Masuknya islam masuknya budaya diimplementasikan di rumah Kudusan ini,” kata dia.

Bapak empat anak ini mengungkapkan bahwa saat di Warung Kudusan pengunjung bisa belajar mengenal budaya Kudus dan sambil kuliner makanan khas Kota Kretek. Terlebih pengunjung bisa menikmati foto di spot Warung Kudusan tempo dulu.

“Kita mengusung budaya Kudus, maka pengunjung ini bisa menikmati spot seperti ada pakaian adat Kudus. Dilengkapi dengan Kudus foto studio, bisa foto bisa selfie. Semua sudut bisa untuk berfoto,” ujar dia.

“Apalagi bangunan rumah adat khas Kudus ini masih asli. Selain itu ada rumah pendopo, gerobak, ruang pertemuan, ada pendopo inggil. Dan ini bisa dibeli jika ada yang minat dengan harga yang telah ditentukan,” sambung Ali.

Sudah banyak pengunjung yang datang ke Warung Kudusan. Seperti dari Sumatra, Jakarta, Riau dan berbagai kota lainnya. Mereka datang untuk menikmati budaya Kudus tempo dulu dan kuliner khas Kudus.

“Dari Sumatra Riau, Jakarta, berbagai macam kota. Bisa foto selfie dan bisa pre-wedding. Kami juga menyediakan fotografer. Kami juga menyediakan pakaian khas Kudus bisa disewa. Untuk menyewa harganya Rp 30 ribu,” ujar dia.

Sedangkan untuk kuliner, di Warung Kudusan terdapat menu andalan semur khutuk. Selain itu ada menu lainnya yang khas Kudus. Seperti ayam kremes, ayam geprek, paket gongso sedangkan menu minuman seperti teh Kudusan, kopi Kudusan, dan lainnya.

“Kita juga saat ini tengah membuat makanan pizza khas italia dengan tungku kayu. Baru satu-satunya di Kudus, cara membuat pizza dengan dibakar, biasanya kan pakai mesin open, ini otentik dan rasanya khas bakar kayu. Harga dijamin di sini harga murah warung. Kisaran, Rp 15 ribu sampai dengan Rp 35 ribu,” tandas Ali.(lin/smol/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here