Sabtu, 6 Maret 2021

Khutbah Jumat: Islam Agama Rahmatan Lil’alamin

SMOL.ID – JAKARTA – Tema khutbah Jumat hari ini mengambil tema Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Kita harus selalu bersyukur karena Allah SWT telah memberikan berkat rahmat-Nya sehingga kita diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah.

Dalam surat Al-Jumuah ayat 9 menyebutkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Al-Jumuah ayat 9).

Berikut materi khutbah Jumat Islam sebagai rahmatan lil’alamin yang dikutip dalam buku ‘Kumpulan Naskah Khutbah Jum’at terbitan Kementerian Agama’:

Khutbah Jumat Foto: istimewa

Jama’ah Jum’at yang berbahagia

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan taufiq-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita sekalian, sehingga kita dapat melaksanakan sholat Jum’at di masjid yang mulia ini.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Marilah kita merefleksikan diri tentang hidup dan kehidupan, termasuk kehidupan beragama, mewujudkan Islam sebagai agama yang membawa kesejahteraan dan keselamatan bagi sekalian alam, manusia dari berbagai suku, adat istiadat dan antar golongan.

Islam yang kita peluk harus menjadi penguat dan sumber motivasi dalam membina kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam Al-Quran Islam memiliki beberapa arti yaitu sebagai lawan dari syirik (6:14) sebagai lawan dari kufur (3:80), sama dengan ikhlas pada Allah (5:125), tunduk dan patuh kepada Allah (39:54). Dengan demikian kata kunci dari Islam adalah tunduk dan patuh terhadap segala apa yang diperintahkan dan menjauhi atas segala apa yang dilarang-Nya.

Islam dalam Al-Quran telah mendeklarasikan diri sebagai agama yang rahmatan lil’aalamin. “Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT tidak lain untuk menyebarkan rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam.” (QS. 21: 107). Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah SWT memberikan pesan perdamaian, kesejahteraan kerukunan dan persatuan.

Islam melalui Al-Quran dan hadits melarang segala hal yang berkaitan tentang penindasan dan ketidakadilan.

Banyak penulis sejarah, Islam bukan saja dianggap sebagai liberting force, suatu kekuatan pembebasan umat. Hal inilah yang menyebabkan agama Islam cepat menyebar di Jazirah Arab dan juga Indonesia, termasuk Aceh yang dikenal sebagai Serambi Makkah.

Menurut C.Y Glok dan R. Start, dalam Religion and Society in Tension sebagaimana setiap agama setidaknya memiliki lima dimensi: ritual, mistikal, idiologikal, intelektual dan sosial. Dimensi ritual berkenaan dengan upacara-upacara keagamaan, ritus-ritus religius seperti sholat, misa dan kebaktian.

Sedangkan dimensi mistikal menunjukkan pengalaman keagamaan. Keinginan untuk mencari makna hidup, kesadaran akan kehadiran yang Maha Kuasa, tawakal dan taqwa, dimensi idiologikal adalah mengacu pada kepercayaan yang menjelaskan eksistensi manusa vis-a-vis Tuhan dan makhluk lain.

Pada dimensi inilah misalnya, orang Islam memandang manusia sebagai khalifatullah fil ard dan orang Islam dipandang mengemban tugas luhur untuk mewujudkan amar ma’ruf Allah di bumi.

Dimensi intelektual menunjukkan tingkat pemahaman orang terhadap doktrin-doktrin kedalamannya tentang ajaran agama dalam masyarakat. Hal ini meliputi seluruh perilaku yang didefinisikan oleh agama.

Dalam prakteknya dimensi-dimensi tersebut tidak dapat berdiri sendiri, satu sama lain saling melengkapi sehingga menjadi satu keutuhan sikap seorang muslim (Islam kaffah). Upaya untuk mewujudkan Islam yang mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bagi sekalian umat tentu dengan cara mengaplikasikan seluruh ajaran Islam di atas.

Terutama pada dimensi sosial yang akan menggerakkan umat untuk melakukan perubahan (taghyir). Termasuk perubahan tatanan sosial masyarakat, berbangsa dan bernegara di Nangro Aceh Darussalam umpamanya.

Sudah diuraikan sebelumnya bahwa inti dari Islam sebagai rahmatan lil’aalamin adalah upayanya untuk menciptakan kesejahteraan, kebahagiaan dan kedamaian hidup dunia dan akhirat. Untuk mencapai semua ini tentu harus ada kehidupan yang egaliter, inklusif dan anti penindasan.

Untuk mewujudkan kita harus menjadikan Islam sebagai solusi bagi upaya pembebasan manusia dari kekuasaan tirani, pemikiran yang membelenggu dan kekuatan yang menindas kaum mustad’afin (lemah).

Pusat ajaran Islam adalah bermuara pada teologi (ketuhanan). Kita mempunyai landasan pijak yang kuat untuk mewujudkan teologi pembebasan. Teologi pembebasan adalah suatu teologi yang menekankan pada arti kebebasan dan keadilan distribusi dan menolak penindasan, penganiayaan dan eksploitasi manusia.

Demikian sebagai khutbah Jumat ini kami sampaikan sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Marilah kita bina kerukunan, semangat persaudaraan, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai dari unsur pemecah belah persatuan bangsa.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 126:

“Semoga Negara ini terbebas dari rasa kebencian dan tumbuh suburnya kekuatan sehingga menjadi negeri yang baldatun, tayyibatun, warrabun ghofur.” Amin.

Khutbah Jumat Foto: istimewa

(sal/smol/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA