Membumikan Keberkahan Al Qur’an

190

Oleh Ahmad Rofiq

SMOL.ID – Indonesia sebagai negara yang penduduk Muslimnya terbesar di dunia, 87,2% dari 273,5 juta penduduk, sebesar 229 juta jiwa, sedang menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXVIII di Kota Padang, 12-21 November 2020 DI Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Tema yang diusung, mewujudkan SDM Unggul, Profesional, Qur’ani untuk Indonesia maju. Tentu harapannya, Indonesia maju itu yang dimaksudkan dalam pancaran keberkahan dari Allah.

Penghafal Al-Qur’an di Indonesia, menurut laman republika.co.id (25/11/2010) merupakan yang tertinggi di dunia. Tahun 2010 diperkirakan ada 30.000 orang, tentu dalam waktu 10 tahun, boleh jadi bertambah menjadi dua kali lipat.

Sementara Arab Saudi waktu itu, memiliki 6.000 penghafal Al-Qur’an. Meskipun dibanding dengan rasio penduduk Muslim, angka tersebut relatif masih kecil.

Rumah Tahdfidh Al-Qur’an yang terverifikasi ada 1.200 orang.
Tidak mudah mendapatkan data valid, berapa jumlah penghafal Al-Qur’an pada tahun 2020 ini.

Namun makin banyaknya pesantren tahfidh, pimpinan perguruan tinggi, banyak yang membuka kesempatan beasiswa penuh kepada para calon mahasiswa yang hafal/hafidh Al-Qur’an.

Kiranya kampus-kampus seperti PTIQ, IIQ, Unsiq, dan LPTQ, perlu melakukan penelitian, agar di negeri yang dulu dikenal religious, santun, dan berakhlak mulia, bisa dipertahankan, dan ada data akurat tentang para penghafal Al-Qur’an.

Di salah satu Kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan di beberapa daerah lain, ada Kepala Daerah yang memprogramkan “mencetak” hafidh-hafidhah Al-Qur’an di setiap desa, dan diberi beasiswa – atau dibiayai – sampai betul-betul hafal Al-Qur’an 30 juz.

Anehnya, ada Kepala Daerah yang membuat program mulia, strategis, berkarakter, dan berakhlak mulia, untuk masa depan bangsa ini, dianggap “tidak populer” dan bahkan “diimpeach” atau “dimakzulkan”, meskipun tampaknya “kandas” dan bahkan maju lagi meskipun mengulanginya melalui jalur independen.

Berbahagialah para penghafal Al-Qur’an, karena akan diposisikan bersama para Malaikat yang mulia. Riwayat dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda: “Orang yang membaca dan menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia.

Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala” (HR. Al-Bukhari 4937). Kehidupan para penghafal Al-Qur’an tentu akan dijamin oleh Allah, Yang Maha Pemberi Rizqi, demikian juga keluarganya.

Bumikan Keberkahan

Di balik gebyar dan gemerlap even MTQ Nasional yang digelar dua tahunan, dan Seleksi Tilawatil Qur’an dua tahunan ini, ada hal-hal yang kontradiktif dan cenderung menyisakan keprihatinan sangat mendalam.

Pertama, kerugian negara akibat korupsi masih mencapai Rp 168 Trilyun. Angka Fantastis.

Misalnya untuk membiayai Rumah Tahfidh dan menyiapkan santri-santri hafidh/hafidhah tentu bisa menghasilkan jutaan generasi muda yang handal, agamis, berkahlak mulia, dan berkarakter.

Sepanjang 2019, Badan Nasional Narkoba (BNN) RI, mencatat ada 33.371 kasus penyalahgunaan narkoba dan menangkap 42.649 pelaku (20/12/2019).

Pengguna narkoba menembus 3,6 juta orang. Angka kriminalitas, data BPS menyebutkan ada penurunan 19,3 persen atau sebanyak 222.543 kasus. Tahun 2018 ada 275.903 kasus.

Yang paling dominan adalah kasus kejahatan konvensional, 202.292 kasus (90,9%), diikuti kejahatan transnasional, 36.219 kasus (16,2%). Tentu masih banyak kasus-kasus kejahatan yang mungkin tidak terdeteksi oleh apparat yang berwenang.

Bangsa ini sangat berkepentingan, para Ahli Al-Qur’an dapat menyiapkan program “literasi dan membumikan keberkahan Al-Qur’an” yang difasilitasi Kementerian Agama RI, pada sasaran-sasaran strategis yang diduga menjadi “penyumbang” pelanggaran dan kemungkaran yang merusak masyarakat, dengan sentuhan keberkahan Al-Qur’an, mereka dapat direhabilitasi dan disadarkan untuk bisa kembali ke jalan yang benar dan diberkahi Allah.

Even MTQ Nasional XXVIII ini,diharapkan mampu memberikan resonansi – atau baca radiasi positif – kepada seluruh elemen bangsa ini, mulai dari para pemimpin hingga rakyat paling bawah, agar mereka bisa kembali kepada khithah-fitrah-nya, yang menurut Ibnu Sina, hanya berfikir, berangan-angan, dan menjalankan usaha dan amalannya, hanya pada yang baik, benar, dan indah.

Karena itulah hakikat dari fitrah manusia, yang Allah limpahi amanat sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami (Allah) siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf (7): 96).

Kita semua patut bertanya dan muhasabah, apakah bangsa ini belum “sempurna” iman dan taqwanya kepada Allah, sehingga keberkahan Al-Qur’an – yang semestinya bertambah hari bertambah kebaikan – masih belum merata.

Seakan-akan ada “jurang yang mendalam” yang menghalangi “terpancarkannya” keberkahan Al-Qur’an kepada mereka yang “sedang salah jalan” atau “tersesat” akibat tidak tahan godaan kehidupan duniawi yang “menipu” dan “mainan” tersebut.

Apakah iman dan taqwa kita, masih terbatas pada personal-individual saja, sehingga ibarat “rel-kereta api” yang ahli Al-Qur’an berjalan di rel yang satu, sementara kejahatan dan kemungkaran dengan “leluasanya” berjalan di satu rel lainnya, sehingga tidak pernah bertemu.

Semoga MTQ Nasional XXVIII 2020 ini, mampu melahirkan generasi Unggul, Profesional, Qur’ani, namun yang lebih penting lagi, even ini mampu memancarkan keberkahan bagi bangsa ini, dan menyadarkan saudara-saudara kita yang “sedang khilaf dan tersesat” di jalan kemungkaran.

Semoga mampu mengirim sinyal dan getaran-getaran positif di hati dan fikiran mereka, mampu menangkap sinar dan nilai ajaran Al-Qur’an, dan meluruskan kembali niat dan ikhtiar menjadi hamba-hamba Allah yang terbaik, dan ikut serta dalam mewujudkan baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Allah a’lam bi sh-shawab.
Hotel Axana, Padang Sumatera Barat, 14 November 2020. (aa/smol)

Berita sebelumya4 Batu Berukir Bunga Diduga Bagian Candi Ditemukan di Areal Pemakaman Semarang
Berita berikutnyaKawanan Monyet Liar Serang Sawah di Semarang, Petani Khawatir Gagal Panen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here