Ulama dan Tantangan Dakwah

122
Aula PKM Unand Padang, 15/11/2020.

Oleh Ahmad Rofiq
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah menggelar Orientasi Kader Ulama (OKU) selama dua hari 14-15/11/2020 di Hotel Grasia. Saya mendapat amanat untuk mempresentasikan materi – melalui zoom dari Kampus Universitas Andalas (Unand) Padang – karena bersamaan dengan even MTQ Nasional, tentang “Pendidikan Kader Dakwah dan Tantangannya”.

MUI yang merupakan wadah berhimpunnya ulama, zuama, dan cendekiawan, “memberanikan” diri, mengambil peran penerus misi kenabian (nubuwwah) terasa semakin berat mengemban amanat. Selain karena “parameter” ke-ulama-an versi MUI ada yang memandang tidak jelas, karena ada beberapa pengurus yang “tidak jelas” ngaji dan “nyantrinya” di mana, tahu-tahu menjadi pengurus MUI? Padahal para pendiri MUI, sudah sangat jelas menyadari bahwa di dalamnya ada zuama dan cendekiawan. Karena itu, yang “sudah bersedia” menjadi pengurus, harus “sadar” dan “rela” bahwa masih banyak orang yang “lebih ulama” katimbang yang menjadi pengurus, namun tidak bersedia atau tidak menjadi pengurus.

Kritik demikian, harus dimaknai secara lebih rendah hati, bagi siapapun yang “sudah terlanjur” menjadi pengurus MUI, harus terus menerus belajar dan belajar. Agar apa yang sudah dirumuskan oleh para Ulama, “al-muhafadhah ‘ala l-qadimi sh-shalih wa l-akhdzu bi l-jadidi l-ashlah” artinya “memelihara (nilai/tatanan) lama yang baik dan mengambil (nilai/tatanan) baru yang lebih baik”. Ulama itu adalah “orang yang hanya takut kepada Allah” (QS. Fathir (35): 29).

MUI “memberanikan” diri, menjalankan amanat (1). Menjaga negara (Himayatu d-daulah); (2). Menjaga dan memelihara umat (himayatu wa ri’ayatu l-ummah); dan (3). Menguatkan ummat (taqwiyatu l-ummah).

Namanya ikhtiar, memang tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Tantangan perubahan dan perkembangan sains dan teknologi demikian cepat, problematika sosial keumatan juga, makin dahsyat, perubahan budaya dan masih banyaknya kemungkaran dan penyakit sosial, maka orientasi kader ulama, menjadi sesuatu yang niscaya (conditio sine quanon).

Tantangan Dakwah
Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda: “Akan datang suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Akan datang suatu zaman pada manusia yang ketika itu seseorang tidak peduli lagi tentang apa yang didapatnya apakah dari barang halal ataukah haram”? (Riwayat Al-Bukhary).
Karena itu, Ali bin Abi Thalib ra mengatakan: “Janganlah kalian mendidik anak-anak kalian sebagaimana Orang tua kalian mendidik kalian, karena mereka diciptakan di masa yang berbeda dengan zaman kalian”.

Pada masa saya kecil dulu di kampung, memang belum ada alat komunikasi information and technology (IT) yang canggih seperti sekarang. Karena itu, anak-anak sudah harus dibiasakan dengan IT, apalagi di masa-masa yang seharusnya belajar secara langsung pada guru di sekolah, sekarang harus daring (dalam jaringan) melaksanakan pembelajaran jarak jauh dan harus familier dengan teknologi.

Waktu saya masih anak-anak, setelah “makan” di sore hari, anak-anak berbondong-bondong ke Masjid atau Mushalla sebelum maghrib, siap untuk shalat berjamaah, wiridan, berdoa, dan mengaji sampai dengan Isya’ shalat berjamaah baru acara lain. Sekarang, Masjid dan Mushalla setelah maghrib sampai dengan Isya relative “sepi”, kecuali di pesantren-pesantren. Mereka berpindah ke warung internet, main game, dan lain-lain. Tentu ini membutuhkan perhatian ekstra dari para orang tua, jika mereka menginginkan anak-anak mereka tidak “keranjingan” dan “kecanduan” main game.

Belum lagi serbuan barang-barang lainnya, seperti narkoba yang para “bandar” dan pemasok sangat licik, dan biasanya pada awalnya dibagi secara gratis dalam kemasan yang sangat menarik. Mereka membuat perangkap, begitu ketagihan dan sakau apabila tidak mengonsumsi, maka saat itulah perangkap itu akan terus mendera dan bahkan “menyiksa” mereka. Tidak sedikit awalnya korban, menjadi “pecandu” dan atau bahkan menjadi “pengedar”.

BNN (Badan Narkotika Nasional) menyebutkan, tidak kurang dari 58 orang meninggal dunia secara sia-sia akibat nenggak narkoba. Rata-rata mereka usia muda. Ada juga mereka dalam posisi “hidup” dalam “kematian” akibat ketergantungan pada narkoba. Mereka mirip pengikut faham radikal, suka mengisolasi diri, dan tidak mau bergaul kecuali dengan kelompok mereka, yang sama-sama pecandu. Biasanya pecandu ini merembet ke seks bebas, dan implikasinya HIV/Aids.

Sejak reformasi dan kran kebebasan dibuka lebar, banyak aliran-aliran yang tidak cocok bagi bangsa Indonesia bermunculan. Ada kelompok radikal dan gerakan teror di negeri ini terjadi meskipun secara sporadic.

Anehnya, mereka justru “unjuk keberanian”, banyak kasus bom bunuh diri dilakukan di markas-markas kepolisian ayau di tempat-tempat ibadah.

Mereka mengajarkan doktrin “jihad” dan “hijrah” namun dengan pemahaman dan implementasi berbeda. Tidak seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Masih lebih banyak lagi berbagai persoalan yang “menggelayuti” perjalanan bangsa ini, MUI dan para ulama, tentu tidak bisa mendiamkannya. Karena tugas ulama adalah membimbing umat, untuk mencari solusi bagi umat. Apa saja yang harus dilaksanakan oleh MUI? Insyaa Allah, Allah a’lam bi sh-shawab. (Bersambung).

Berita sebelumyaDelapan Puluhan Komunitas Sepeda Ikut Uji Coba Jalur Khusus Sepeda
Berita berikutnyaFilm Aku Bukan Marsinah Momentum Kebangkitan Alumni Asdrafi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here