Selasa, 22 Juni 2021

MKTIQ Siapkan “Kolumnis” dan “Mufassir”

Oleh Ahmad Rofiq

Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mati dan hidup bagi manusia, untuk berkontestasi, mana di antara kita yang paling baik amal perbuatannya (QS. Al-Mulk (67): 2.

Orang yang memahami ayat tersebut, maka tidak mau berdiam diri. Hidup itu hidup harus bergerak (moving). Seseorang yang tidak bergerak dan tidak melakukan apapun dalam hidupnya, laksana ia “mati” dalam hidup. Bahasa vulgarnya, dirinya laksana “onggokan” tulang berbalut daging, yang berjalan ke mana-mana, tanpa memberikan manfaat apapun bagi dri dan lingkungannya.

Kesempatan hidup di dunia, yang tidak lama terkadang terasa panas, kemrungsung, dan saling “memangsa” antara satu dan yang lainnya, apabila tidak ada “wasit” atau “hakim” yang adil. Kata Rasulullah saw Riwayat Abu Na’im, “lau laa ‘adlu l-‘umara’ la akala n-naasu ba’dluhum ba’dlan” artinya “sekiranya tidak ada keadilan umara, sungguh sebagian manusia memangsa sebagian lainnya”.

Kementerian Agama RI. yang dituan-rumahi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-XXVIII di ranah minang Padang Sumatera Barat (12-21/11/2020). Tema yang diusung adalah “Manusia Unggul, Profesional, dan Qur’ani untuk Indonesia Maju”. Saya lebih senang menyebut “Indonesai berkah”. Karena definisi berkah, adalah “maa min yaumin illaa wa ba’dahuu ziyaadatu khairin”. Artinya: “Tidak ada bertambah hari, kecuali sesudahnya bertambah kebaikan”. Itulah berkah.

MTQ Nasional 2020 ini di antara cabang musabaqahnya, Menulis Karya Ilmiah Al-Qur’an. Ada 30 peserta dari sleuruh Indonesia. Putra diikuti 24 peserta putri dan 26 putra. Pada babak penyisihan diambil 12 (dua belas) semifinalis, peserta menulis tentang tema “Etika Penggunaan Media Sosial” dan pada semifinal, mereka menulis tentang patriotisme dalam perspektif Al-Qur’an. Dari dua belas semifinalis, diambil enam finalis, masing-masing tiga putra dan tiga putri, untuk mempresentasikan, pokok-pokok pikiran tentang patriotisme perspektif Al-Qur’an dari yang sudah mereka tulis.

Komposisi nilai presentasi ini, “sayangnya” hanya 20 persen, sementara 80 persennya adalah makalah. Idealnya, seorang penulis, kolumnis, dan “mufassir” yang bagus, adalah “presentator” yang baik dan menarik. Namun ada yang presentasi sangat baik, tulisannya bernilai selisih sedikat dibanding lainnya, ada yang nilai makalahnya baik, presentasinya kurang meyakinkan, dan ada dan ini yang lebih banyak, bobot makalahnya kurang meyakinkan. Bahkan masih ada semifinalis yang menulis tentang tema yang sudah ditulis saat penyisihan, boleh jadi karena memorinya masih fokus pada tema sebelumnya.
Sebagai ketua Majlis Dewan Hakim MKTIQ, saya sudah menyampaikan tata terib dan tema yang harus ditulis dan rambu-rambu lainnya, agar pelaksanaan musabaqah berjalan dengan lancar dan tertib, sesuai rambu dan panduan Al-Qur’an yang lebih mengedepankan kejujuran dan keadilan.

Kolumnis dan “Mufassir”

MKITQ – yang penyebutannya oleh panitia masih sering digunakan MMQ (Musabaqah Makalah Al-Qur’an) – dimaksudkan untuk menyiapkan kolumnis berbasis Al-Qur’an dan atau setidaknya “mufassir” tematik (maudl’u’i), yang diharapkan ke depan dapat berkontribusi membangun budaya Qur’ani dalam menghadapi budaya pop yang cenderung mengharu-biru generasi millennial.

Hafidh-hafidhah atau hammalat Al-Qur’an dan rumah tahfidh pertumbuhannya cukup menggembirakan. Penghafal Al-Qur’an di Indonesia, laman republika.co.id (25/11/2010) menyebutkan, adalah yang tertinggi di dunia. Tahun 2010 diperkirakan ada 30.000 orang, tentu dalam waktu 10 tahun, boleh jadi bertambah menjadi dua kali lipat. Sementara Arab Saudi waktu itu, memiliki 6.000 penghafal Al-Qur’an. Meskipun dibanding dengan rasio penduduk Muslim, angka tersebut relatif masih kecil. Rumah Tahdfidh Al-Qur’an yang terverifikasi ada 1.200 orang.

Banyaknya hafidh-hafidhah Al-Qur’an ini tentu merupakan fenomena yang wajib disyukuri, akan tetapi jika perkembangan kajian Al-Qur’an makin intens, apalagi di era digital dan virtual, mereka harus terus menerus aktif dan itens pula dalam mengisi konten-konten moderasi Islam atau Islam wasathiyah, agar mampu menghadapi kompoetisi global, untuk menekan dan mendiseminasi ajaran-ajaran Al-Qur’an dengan pendekatan inter, multi, dan trans-disipliner, dengan corak ilmiah popular, reflektif referensial, agar menarik minat dan menjadi “santapan rohani” generasi millennial tersebut.

LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Nasional yang merupakan leading-sector Ditektorat Penerangan Islam (DitPenais) Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama RI, bisa juga menggelar event Musabaqah Kliping Opini atau Wacana yang sudah dipublikasi Media Cetak, untuk diseleksi oleh dewan hakim yang berkompeten, untuk membangun budaya menulis tema-tema tertentu dari perspektif Al-Qur’an.

Tentu untuk menjadi mufassir Al-Qur’an, dibutuhkan pendalaman khusus, melalui sekolah atau kuliah dalam waktu tertentu, agar kompetensi sebagai mufassir, dan iomu alat dan ilmu bantunya juga memadai. Tidak asal menerjemahkan Al-Qur’an saja, apalagi Bahasa Arab saja tidak faham, ilmu tafsir dan ulumul Qur’an, hadits dan ulumul hadits saja tidak mumpuni, tahu-tahu menjadi “mufassir dadakan”, besar kemungkinan akan menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain. Na’udzu biLlah. Semoga para “pemenang” dalam MKTIQ dari MTQ Nasional XXVIII di Padang Sumatera Barat yang baru saja usai, dapat membuktikan bahwa mereka memang “pemenang sejati” bukan karena target memenangi musabaqah, setelah itu selesai.

Allahumma irhamnaa bi l-Qur’an wa ij’alhu lanaa imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah, Allahumma dzakkirnaa minhu ma nasiinaa wa ‘allimnaa minhu maa jahilnaa wa urzuqnaa tilaawatahuu aana-al laili wa athraafa n-nahaar wa ij’alhu lanaa hujjatan yaa Rabba l-‘aalamin. (Ya Allah sayangilah kami dengan Al-Qur’an, jadikannya (Al-Qur’an) itu imam, penerang, petunjuk, dan kasih sayang bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami dengan Al-Qur’an apa yang kami lupa, dan ajarkanlah kami ilmu atas apa yang kami tidak mengetahuinya, dan limpahilah kami untuk membacanya di tengah malam dan siang hari, jadikan Al-Qur’an itu sebagai hujjah (argumentasi) bagi kami wahai Tuhan alam ray aini). Allah a’lam bi sh-shawab.

Ngaliyan, Semarang, 23/11/2020. (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA