Senin, 8 Maret 2021

KTIQ dan Proses Pembumian Al-Qur’an

SMOL.ID – SEMARANG – Ketua Dewan Hakim Musabaqah Tilawatil Al-Qur’an Nasional (MTQN) cabang Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ), Prof. Ahmad Rofiq, dalam “MKTIQ Siapkan Kolumnis dan Mufassir” berharap melalui MKTIQ terlahir penulis produktif dan dapat mendiseminasi ajaran Al-Qur’an dengan ragam pendekatan. Harapan tersebut patut menjadi catatan bersama, mengingat Al-Qur’an pada hakikatnya adalah petunjuk bagi umat manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 185. Oleh karenanya, diperlukan seperangkat hal yang dapat mendorong diseminasi yang dimaksud, agar “pesan langit” yang terkandung di dalam Al-Qur’an dapat membumi, hidup di tengah-tengah masyarakat.

Cabang musabaqah KTIQ ini memang tidak hanya menekankan pada eksplorasi kandungan Al-Qur’an semata, melainkan juga mengemasnya dengan gaya populer. Sederhananya, tulisan dengan corak ilmiah populer. Pada satu sisi, para peserta dituntut untuk menghadirkan kajian Al-Qur’an yang berbobot sesuai dengan tema yang ditentukan, baik pada fase penyisihan maupun semifinal, di sisi lain kajian “berat” tersebut harus dikemas secara populer dan sederhana. Hal ini menarik, sebab menantang kreativitas dan keluasan pembacaan peserta, untuk menghadirkan tawaran praktis (solusi qur’ani) yang dapat diterima dan dipahami secara mudah atas problematika yang dihadapi masyarakat.

KTIQ pada MTQ Nasional Tahun 2020 ini mengambil dua tema besar. Pertama, “Etika  Komunikasi di Media Sosial” sebagai tema penyisihan, dan kedua “Patriotisme Perspektif Islam” sebagai tema semifinal. Berangkat dari tema tersebut tentu terlahir tulisan yang bernas, merefleksikan kondisi masyarakat kita hari ini, ditopang dengan serangkaian hasil penelitian, kajian teori dan tentunya memuat ragam kajian tafsir, baik tafsir klasik maupun kontemporer. Tulisan yang pada gilirannya menjadi sumbangsih diseminasi ajaran Al-Qur’an merespons tantangan alam digital, sekaligus tantangan patriotisme abad 21.

Keterbukaan Pemikiran

Mengamini pendapat Prof. Ahmad Rofiq dalam rangka diseminasi ajaran Al-Qur’an, memang perlu dibangun keterbukaan pemikiran agar pesan Al-Qur’an dapat dihadirkan sesuai kondisi masyarakat. Pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak boleh tercerabut dari realitas kemasyarakatan. Dalam konteks KTIQ, terdapat pembacaan utuh atas kondisi masyarakat sebagai wujud kegelisahan dan tanggung jawab intelektual penulis. Pembacaan yang utuh tersebut akan melahirkan sebuah tawaran yang pas, sesuai, tidak jauh panggang dari api. KTIQ memang harus menghadirkan tulisan yang menegaskan posisi Islam sebagai agama yang shalih li kulli zaman wa makan.

Keterbukaan pemikiran yang dimaksud yakni kemauan mendialogkan kajian Al-Qur’an dengan disiplin keilmuan lain. Disiplin keilmuan psikologi, sains, atau disiplin ilmu sosial, misalnya. Sebagai contoh, tatkala mengkaji patriotisme dalam perspektif Islam, bisa dihadirkan kajian seputar hegemoni yang dipopulerkan Antonio Gramsci. Kajian hegemoni akan membawa pada hamparan pengaruh global yang merangsek masuk pada setiap negara, termasuk Indonesia. Pada tataran ini, istilah globalisasi dan internasionalisasi, bukan dimaknai sekedar istilah, melainkan dibaca secara cerdas bahwa terdapat “sesuatu” yang sedang beroperasi.

Pembacaan di atas akan berpengaruh pada pola pemikiran penulis KTIQ, agar secara cerdas dan seksama memahami pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an.  Ihwal patriotisme, umpama, kandungan Al-Qur’an akan dipahami secara “terbarukan” bagaimana hakikat manusia yang memang mencintai tanah air sebagaimana tertuang dalam QS. al-Qasas: 85, atau Nabi Ibrahim alayhissalam yang mencintai tanah air Makkah dan berkonstribusi secara positif sebagaimana terekam dalam QS. al-Baqarah: 126. Pola semacam itu, kiranya akan membawa pada tulisan dengan racikan yang pas, didialogkan dengan Al-Qur’an, bahwa tantangan patriotisme abad 21 lebih berupa penjajahan lunak, bukan penjajahan fisik seperti pada abad 19 atau abad 20.

Perihal keterbukaan pemikiran ini sebenarnya adalah persoalan kemauan. Bagaimana seseorang pengkaji bisa mengasah kepekaan atas realitas, sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses memahami Al-Qur’an. Setidaknya, melalui keterbukaan pemikiran yang dimaksud, dapat dicapai dua hal sekaligus. Pertama, KTIQ turut menjadi medium pengembangan keilmuan yang luas (lintas disiplin keilmuan). Kedua, KTIQ tidak akan tercerabut dari realitas kemasyarakatan. Keterbukaan pemikiran yang dimaksud, tiada lain sebagai tanggung jawab seorang muslim untuk turut membumikan ajaran Al-Qur’an. Selamat dan sukses MTQN 2020 di Provinsi Sumatera Barat. Adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah. Manusia unggul, professional dan qur’ani untuk Indonesia Maju.

Robbah MA

(Finalis MTQ Nasional Tahun 2020 Cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an/ Dosen Ma’had Aly Al-Hasaniyyah, Tuban Jawa Timur)

Ketua Dewan Hakim Musabaqah Tilawatil Al-Qur’an Nasional (MTQN) cabang Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ), Prof. Ahmad Rofiq, dalam “MKTIQ Siapkan Kolumnis dan Mufassir” berharap melalui MKTIQ terlahir penulis produktif dan dapat mendiseminasi ajaran Al-Qur’an dengan ragam pendekatan. Harapan tersebut patut menjadi catatan bersama, mengingat Al-Qur’an pada hakikatnya adalah petunjuk bagi umat manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 185. Oleh karenanya, diperlukan seperangkat hal yang dapat mendorong diseminasi yang dimaksud, agar “pesan langit” yang terkandung di dalam Al-Qur’an dapat membumi, hidup di tengah-tengah masyarakat.

Cabang musabaqah KTIQ ini memang tidak hanya menekankan pada eksplorasi kandungan Al-Qur’an semata, melainkan juga mengemasnya dengan gaya populer. Sederhananya, tulisan dengan corak ilmiah populer. Pada satu sisi, para peserta dituntut untuk menghadirkan kajian Al-Qur’an yang berbobot sesuai dengan tema yang ditentukan, baik pada fase penyisihan maupun semifinal, di sisi lain kajian “berat” tersebut harus dikemas secara populer dan sederhana. Hal ini menarik, sebab menantang kreativitas dan keluasan pembacaan peserta, untuk menghadirkan tawaran praktis (solusi qur’ani) yang dapat diterima dan dipahami secara mudah atas problematika yang dihadapi masyarakat.

KTIQ pada MTQ Nasional Tahun 2020 ini mengambil dua tema besar. Pertama, “Etika  Komunikasi di Media Sosial” sebagai tema penyisihan, dan kedua “Patriotisme Perspektif Islam” sebagai tema semifinal. Berangkat dari tema tersebut tentu terlahir tulisan yang bernas, merefleksikan kondisi masyarakat kita hari ini, ditopang dengan serangkaian hasil penelitian, kajian teori dan tentunya memuat ragam kajian tafsir, baik tafsir klasik maupun kontemporer. Tulisan yang pada gilirannya menjadi sumbangsih diseminasi ajaran Al-Qur’an merespons tantangan alam digital, sekaligus tantangan patriotisme abad 21.

Keterbukaan Pemikiran

Mengamini pendapat Prof. Ahmad Rofiq dalam rangka diseminasi ajaran Al-Qur’an, memang perlu dibangun keterbukaan pemikiran agar pesan Al-Qur’an dapat dihadirkan sesuai kondisi masyarakat. Pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak boleh tercerabut dari realitas kemasyarakatan. Dalam konteks KTIQ, terdapat pembacaan utuh atas kondisi masyarakat sebagai wujud kegelisahan dan tanggung jawab intelektual penulis. Pembacaan yang utuh tersebut akan melahirkan sebuah tawaran yang pas, sesuai, tidak jauh panggang dari api. KTIQ memang harus menghadirkan tulisan yang menegaskan posisi Islam sebagai agama yang shalih li kulli zaman wa makan.

Keterbukaan pemikiran yang dimaksud yakni kemauan mendialogkan kajian Al-Qur’an dengan disiplin keilmuan lain. Disiplin keilmuan psikologi, sains, atau disiplin ilmu sosial, misalnya. Sebagai contoh, tatkala mengkaji patriotisme dalam perspektif Islam, bisa dihadirkan kajian seputar hegemoni yang dipopulerkan Antonio Gramsci. Kajian hegemoni akan membawa pada hamparan pengaruh global yang merangsek masuk pada setiap negara, termasuk Indonesia. Pada tataran ini, istilah globalisasi dan internasionalisasi, bukan dimaknai sekedar istilah, melainkan dibaca secara cerdas bahwa terdapat “sesuatu” yang sedang beroperasi.

Pembacaan di atas akan berpengaruh pada pola pemikiran penulis KTIQ, agar secara cerdas dan seksama memahami pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an.  Ihwal patriotisme, umpama, kandungan Al-Qur’an akan dipahami secara “terbarukan” bagaimana hakikat manusia yang memang mencintai tanah air sebagaimana tertuang dalam QS. al-Qasas: 85, atau Nabi Ibrahim alayhissalam yang mencintai tanah air Makkah dan berkonstribusi secara positif sebagaimana terekam dalam QS. al-Baqarah: 126. Pola semacam itu, kiranya akan membawa pada tulisan dengan racikan yang pas, didialogkan dengan Al-Qur’an, bahwa tantangan patriotisme abad 21 lebih berupa penjajahan lunak, bukan penjajahan fisik seperti pada abad 19 atau abad 20.

Perihal keterbukaan pemikiran ini sebenarnya adalah persoalan kemauan. Bagaimana seseorang pengkaji bisa mengasah kepekaan atas realitas, sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses memahami Al-Qur’an. Setidaknya, melalui keterbukaan pemikiran yang dimaksud, dapat dicapai dua hal sekaligus. Pertama, KTIQ turut menjadi medium pengembangan keilmuan yang luas (lintas disiplin keilmuan). Kedua, KTIQ tidak akan tercerabut dari realitas kemasyarakatan. Keterbukaan pemikiran yang dimaksud, tiada lain sebagai tanggung jawab seorang muslim untuk turut membumikan ajaran Al-Qur’an. Selamat dan sukses MTQN 2020 di Provinsi Sumatera Barat. Adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah. Manusia unggul, professional dan qur’ani untuk Indonesia Maju.

Robbah MA

(Finalis MTQ Nasional Tahun 2020 Cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an/ Dosen Ma’had Aly Al-Hasaniyyah, Tuban Jawa Timur)

(aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA