Senin, 8 Maret 2021

Munas X: Khitah MUI dan Moderasi Islam

Oleh Ahmad Rofiq

Rabu, 25-27/11/2020 Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar gawe besar Musyawarah Nasional (Munas) X di Hotel Sultan Jakarta. Munas X ini bersamaan dengan situasi pandemic Covid-19 yang masih mengancam, karena per-25/11/2020 data di Indonesia, total kasus positif 506.000 (+4.192 orang per-24 jam terakhir), sembuh sebanyak 425.000, dan meninggal dunia 16.111 (+109). Seluruh dunia Total kasus 59.400.000 kasus, sembuh 38.000.000, dan meninggal dunia sebanyak 1.400.000 orang.

Munas ke-X ini merupakan forum tertinggi lima tahunan, untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja lima tahunan, menyusun program lima tahun ke depan, dan tentu saja memilih pengurus yang akan diamanati melaksanakan program kerja.

Tema yang diusung Munas MUI X ini, cukup mengundang pertanyaan serius, “Meluruskan Arah Bangsa dengan Wasathiyatul Islam, Pancasila, serta UUD NRI 1945 secara Murni dan Konsekuen”. Apabila dicermati secara seksama, pilihan kata “Meluruskan Arah Bangsa” ini tentu ini, karena dilatarbelakangi pengamatan, kajian, dan analisis yang mendalam MUI, bahwa arah perjalanan bangsa Indonesia ini, telah dirasakan ada inkonsistensi dan “pembelokan” arah dari cita-cita para pendiri bangsa ini dan para pahlawan yang telah gugur dan syahid demi NKRI.

MUI sebagai wadah berhimpunnya ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim/Muslimah di Indonesia, dari lahirnya sudah mengemban “beban sejarah” karena MUI dilahirkan atas inisiatif presiden waktu itu, 1975. Mengapa, karena pemerintah saat itu, sudah merasa pentingnya dukungan, fatwa, taushiyah para Ulama, atas suksesnya beberapa program Pemerintah, demi kelangsungan proses pembangunan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Rasulullah saw memberikan rambu-rambu “Dua kelompok manusia, yang apabila mereka baik, maka umat dan rakyat akan baik, dan apabila kedua mereka itu tidak baik, maka rakyat dan umat juga akan tidak baik juga, yakni ulama dan umara”. Ulama tugasnya memberikan ilmu dan nasehatnya kepada umara, dan umara – yang berasal dari kata tunggal amir artinya orang yang diperintah – tugasnya adalah “melayani umat dan rakyat”. Ungkapan berbahasa Arab “amiiru l-qaumi huwa khaadimuhum wa aakhiruhum syurban” artinya “pemimpin suatu kaum (pada hakikatnya) adalah pelayan mereka dan paling akhir minumnya”.

Islam wasathiyah atau moderasi Islam, harus terus menerus diarusutamakan (mainstreaming) di jagad NKRI. Karena harus diakui bahwa sejak kran reformasi dan demokrasi dibuka, maka semua arus pemikiran baik yang produk lokal, trans-nasional, yang notabene berbeda dengan arus utama moderasi beragama di Indonesia, pun ikut mewarnai arah perjalanan reformasi di Indonesia. Islam yang seharusnya bisa mewujudkan kasih sayang di seluruh penjuru alam (rahmatan lil ‘alamin). Rasulullah saw pun menegaskan bahwa “kualitas keber-Islaman seseorang, adalah manakala ia bisa menjaga kenyamanan orang Islam dan lainnya, dari tutur kata lisannya dan tangan kekuasaannya” (Riwayat Muslim).

MUI yang “memposisikan diri” sebagai penerus pelaksana tugas-tugas kenabian, dalam menjaga agama (hirasah al-din) dan mengatur urusan dunia (siyasah al-dunya) yang realisasinya telah dibagi secara diametral. MUI dan juga para Ulama yang tergabung dalam ormas Islam lainnya, adalah menjaga agama. Sementara urusan dunia, menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan rakyat secara bersama-sama.

Tampaknya ada tiga hal penting, yang disoroti MUI. Pertama, para wakil rakyat di DPR_RI telah melakukan “langkah blunder” dengan mengusung RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang tujuannya ingin mengotak-atik dan membelokkan Pancasila menjadi trisila dan ekasila. Pancasila yang kata Alamsyah Ratu Perwiranegara, Menteri Agama waktu itu, merupakan hadiah terbesar umat Islam pada bangsa ini. Pancasila sudah ditetapkan keabsahannya pada 18/8/1945 sebagai falsafah dan dasar ideologi negara, dan menjiwai UUDN Republik Indonesia, maka jika diotak-atik menjadi trisila dan ekasila, sama halnya meruntuhkan bangunan NKRI itu sendiri.

Kedua, legislasi RUU menjadi UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja yang prosesnya tidak tidak melibatkan partisipasi rakyat, para ahli, dan cenderung tergesa-gesa, di tengah malam, sangat melukai hati rakyat. Karena secara tidak langsung, para wakil rakyat, tidak lagi menganggap aspirasi rakyatnya, penting untuk diperjuangkan, akan tetapi justru diabaikan. Bahkan beredar di medsos, sebagian wakil rakyat yang diminta ikut mengesahkan, naskah pun tak punya, apalagi membacanya. Apakah Ketika ada masyarakat yang mengajukan judicial review ke-MK akan dikabulkan, tampaknya “agak mustahil” karena beberapa hakim MK (Mahkamah Konstitusi) selain usia jabatan diperpanjang menjadi umur 70 tahun, mereka pun mendapat “penghargaan” dari negara. Mudah-mudahan saja, saya salah. Nenek moyang kita berpesan, “wong kuwi yen dipangku mati” artinya “seseorang itu kalau dijunjung tinggi, akan tidak mampu berbuat apa-apa, laksana orang yang sudah mati”.

Ketiga, ada fenomena menurunnya indeks demokrasi di negeri ini. Burhanuddin Muhtadi (2020) dalam dialog di TV swasta tertentu, ini karena ada pengelolaan instrument negara yang tidak sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure) dan hukum ketatanegaraan. Fenomena makin maraknya politik identitas, gerakan-gerakan radikal dan fundamentalisme secara sporadis juga masih belum hilang dari negeri ini. Karena itu pengarusutamaan Islam moderat (wasathiyatul Islam) merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan yang lebih penting, adalah pengelolaan negara dan penegakan hukum di negeri ini secara adil.

Rasulullah saw mewanti-wanti, “lau laa ‘adlu l-umara’ la akala n-naasu ba’dhuhum ba’dhan” artinya “kalau tidak ada keadilan pemimpin, sungguh sebagian manusia akan “memangsa” atau memakan sebagian lainnya”. Karena itu, moderasi Islam dan beragama, merupakan suatu keniscayaan demi mengawal NKRI. Pancasila adalah final.

Selamat ber-Munas MUI ke-X, semoga menghasilkan program kerja yang visioner dan futuristik, demi tegaknya amar makruf nahy munkar di NKRI, dan mampu memilih pemimpin yang memiliki kompetensi dan kapasitas untuk memberi ilmu, dan nasehat MUI untuk meluruskan perjalanan Arah Bangsa Indonesia, demi terwujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Allah waliyu t-taufiq. (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA