Kamis, 4 Maret 2021

Penerapan Metode Storytelling dalam Promosi Pariwisata di Kala Pandemi

Oleh : L.Viska Intan Adhela

SMOL.ID – Metode storytelling dalam memperkuat promosi pariwisata dengan cara yang unik pada masa pandemi saat ini menjadi salah satu terobosan baru untuk memperkenalkan suatu destinasi, Hal tersebut seperti yang telah dinyatakan oleh Kemenparekraf bahwa metode tersebut mampu mengoptimalkan dunia pariwisata disaat pandemi seperti ini.

Apalagi dalam situasi seperti ini rasanya sangat tidak tepat jika kita melakukan suatu bentuk promosi secara langsung/bertatap muka, oleh karena itu, metode storytelling diharapkan mampu menjadi jembatan bahkan suatu bentuk terobosan baru dalam melakukan promosi secara daring saat pandemi ini, Terlebih lagi pada saat pandemi ini, media sosial telah menjadi alat atau media  yang tepat untuk membangun komunikasi dan interaksi host and guest akan terjalin kuat.

Berbicara mengenai bagaimana cara kerja dari metode storytelling ini memang telah menjadi banyak pertanyaan bagi khalayak umum, banyak yang beranggapan bahwa metode storytelling yaitu suatu metode yang dilakukan dengan cara hanya bercerita, metode storytelling dapat berupa cerita melalui gambar ataupun foto sekaligus yang tentunya menarik dan unik.

Keunikan dari metode storytelling adalah keyword di dunia pariwisata, dapat juga dengan mengangkat nilai-nilai lokalitas di suatu destinasi wisata untuk menarik minat wisatawan, contohnya mengangkat daya tarik berupa cerita rakyat dan sejarah yang terdapat di sana kemudian dirangkai sedemikian rupa.

Jadi, pada intinya metode storytelling ini merupakan media memperluas promosi pariwisata yang pada saat pandemi ini dilakukan secara daring baik melalui bercerita, gambar, dan foto-foto yang menarik serta unik.

Dampak positif dilakukanya metode tersebut yaitu dapat meningkatkan apresiasi wisatawan terhadap keanekaragaman budaya dan ciri khas dari nilai lokalitas yang terdapat pada suatu destinasi wisata di masa pandemi ini, kita juga dapat melihat dampak negatif yang dapat ditimbulkan yaitu kemungkinan akan banyak yang tidak mengetahui cara menggunakan teknologi saat ini sehingga membuat mereka tidak merasa tertarik sedikitpun akan hal tersebut. Selain itu, masalah kuota juga menjadi hal utama dalam metode ini, borosnya kuota yang dikeluarkan membuat banyak orang berpikir untuk lebih menghemat kuotanya dengan tidak mengikuti metode storytelling tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, rupanya Kemenparekraf menggelar seminar bincang BISMA, dalam seminar tersebut terdapat tiga pelaku usaha yang akan dibekali bagaimana cara membuat desain dan narasi yang menarik. Tiga pelaku usaha tersebut yaitu Designer Sugeng Untung, Produser Film, dan Penulis Buku Handoko Hendroyono, dalam paparannya, produser film dan penulis buku menyatakan bahwa metode storytelling sangat penting bagi kesadaran konsumen dimana konsumen memiliki rasa kepedulian dan kesadaran akan kebaikan serta tanggung jawab.

Dengan metode storytelling para pelaku Parekraf dapat memperkenalkan produknya dengan menceritakan nilai/makna yang terkandung di dalamnya. Tentunya hal ini menciptakan kesan energi positif dengan pelaku dan konsumen.

Mengenai metode storytelling ini dapat diterapkan di wilayah tempat tinggal saya yaitu di Banjarnegara. Menurut saya metode ini belum terlalu hype/populer di Banjarnegara, akan sangat disayangkan bila selama masa pandemi ini yang telah memasuki masa penerapan adaptasi kebiasaan baru berbagai destinasi wisata yang ada di Banjarnegara dibiarkan begitu saja tanpa adanya pergerakan untuk meningkatkan kembali kualitas nilai dari destinasi tersebut.

Maka penerapan metode storytelling ini mungkin akan sangat membantu untuk meningkatkan nilai dan kualitas pada destinasi yang ada di Banjarnegara dengan tetap mematuhi dan melaksanakan promosi pariwisata sesuai protokol kesehatan, dan tak lupa peran serta kerjasama antara pemerintah dan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan penerapan metode ini sangat dibutuhkan.

Salah satu bentuk penerapan dari metode ini yang mungkin dapat dilakukan di Banjarnegara seperti membuat poster yang menarik, baik melalui online maupun dengan disebarluaskan dengan cara ditempelkan dibeberapa tempat dan fasilitas umum, dapat juga dengan memberikan panduan secara daring terhadap masyarakat Banjarnegara tentang tata cara menggunakan alat komunikasi sebagai media promosi yang dibuat semenarik dan seunik mungkin mengenai destinasi pariwisata disaat pandemi untuk menarik minat kunjungan wisatawan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Hal ini tentunya menjadi nilai tambah karena metode promosi ini dilakukan secara daring yang mana telah sesuai dengan peraturan yang berlaku selama masa pandemi ini yaitu dengan tetap menjaga jarak/social distancing.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa sektor pariwisata tidak akan pernah bisa berdiri dan berjalan sendiri, dibutuhkan kolaborasi/kerjasama antar dan lintas sektor agar keberlanjutan dari bisnis usahanya tetap berjalan, begitu juga dengan saat pandemi seperti ini, berbagai cara dan metode untuk mempromosikan destinasi wisata terbilang sulit dan diharuskan berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.

Namun, dengan diterapkannya metode storytelling sebagai terobosan baru di masa pandemi ini menjadikan promosi destinasi menjadi lebih menarik dan unik karena kita dituntut untuk sekreatif mungkin merangkai narasi yang indah untuk menarik minat kunjungan wisatawan, tentunya jika ada yang bertanya mengapa metode ini dipilih sebagai suatu terobosan baru yang tepat? Jawabannya adalah karena keunikan caranya dalam memperkenalkan suatu produk/destinasi dengan menjunjung nilai lokalitas yang ada pada suatu daerah dan destinasi yang kemungkinan besar akan sangat worth it jika berhasil diterapkan. (L.Viska Intan Adhela/Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Jurusan D4 Bisnis Perjalanan Wisata/aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA