Kamis, 4 Maret 2021

“Kegalauan” Akademik Ulama Pesantren

SMOL.ID – Oleh Ahmad Rofiq

Mencermati perkembangan kehidupan sosial-politik keagamaan pasca reformasi 1988, di mana kran demokratisasi terbuka luas, menjadikan kebebasan dan liberalisasi laksana “banjir bandang” dan menghantam Sebagian besar benteng dan pertahanan moderasi dalam beragama yang sudah tertanam kuat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUDN 1945, yang menjadi empat pilar bangsa, dan teglah menjadi penyangga kehidupan negara dan bangsa Indonesia selama 75 tahun, menjadi sasaran dan “terdakwa” sebagai biangnya “thaghut” yang menurut “mereka” harus diganti dengan sistem dan ideologi lain.

Kelompok “kiri” dengan lambat namun pasti, dan ini yang wajib diwaspadai, sudah memasuki “kamar” dan “ruang” resmi di DPR-RI, melalui pembahasan dan prolegnas RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila), dan meskipun sudah ditolak ramai-ramai oleh hampir seluruh ormas Islam dan rakyat Indonesia, akan tetapi tampaknya “masih menjadi agenda terselubung” untuk diteruskan. Mudah-mudahan mereka yang masih berkeinginan secara ambisius untuk meneruskannya, diberi kesadaran dan dibukakan hati dan fikiran mereka, untuk segera menghentikan dan “bertaubat” secara konstitusional.

Di kelompok “kanan” dan anehnya mereka merasa massa pengikutnya cukup besar, yang juga wajib dihadang, terus merangsek dengan mengusung ideologi sistem, di antaranya “khilafah” untuk merobohkan dan mengganti empat pilar bangsa tersebut, dan memberangus entitas dan eksistensi NKRI, karena boleh jadi mereka tidak cukup memiliki kesadaran kesejarahan (historical awareness) betapa para pejuang dan syuhada’ pendiri bangs aini, telah mengorbankan nyawa, menumpahkan darah, demi mengusir penjajah dan mendirikan NKRI.

Sepenggal “cerita pendek” adzan yang kalimat “hayya ‘ala sh-shalah” diganti dengan “hayya ‘ala l-jihad” dan diikuti dengan seruan “takbir” dengan mereka mengangkat banyak senjata tajam yang berbeda-beda dan bahkan sudah terkompilasi dari berbagai “adegan” di berbagai tempat dan orang-orang yang berganti-ganti, menyisakan “limbah” dan “membetot” rasa keberagamaan masyarakat. Agama yang diidealkan menghadirkan kedamaian, kesantunan, persaudaraan, saling menghargai, saling tolong menolong, menjadi berubah wajah, dan berganti “ketakutan, kebencian, dan bukan tidak mungkin menghadirkan permusuhan”, atau setidaknya kewaspadaan.

Kaum penjajah telah 350 tahun “merampas” kekayaan dan sumber daya alam negeri, belakangan ini mereka “berganti modus” melalui “model penjajahan” terstruktur, persuasive, dan memasukkan “virus-virus” dan “vaksin-vaksin” penjajahan yang “sangat membius” melalui berbagai amandemen konstitusi dan regulasi, fasilitasi pinjaman, dan lain sebagainya, bahkan juga “swastanisasi” badan-badan usaha milik negara, untuk “dikuasai” oleh mereka.

Secara bertahap dan “smooth” para “desainer” dan “sutradara” memainkan para “artis-artis” di panggung kekuasaan, yang secara perlahan namun pasti, memainkan instrument dan struktur hukum untuk “menggadaikan” seluruh kekayaan NKRI ini. Mudah-mudahan apa yang dirasakan masyarakat ini, tidak benar-benar terjadi, meskipun terasa menyengat dan menjadikan tidak nyaman tidur.

Pancasila yang disahkan 18/8/1945 adalah final, dan telah menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, dan menjadi falsafah bangunan Rumah Besar NKRI dalam melindungi seluruh warga masyarakat Indonesia yang paling majemuk di dunia, baik dari segi agama, etnis, budaya, suku, dan lain sebagainya. Bhinneka Tunggal Ika, adalah motto dan semboyan yang menjadi kunci persatuan, kesatuan, persaudaraan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang seharusnya dirawat bersama, demi ikhriar Bersama dalam mewujudkan ketenangan (sakinah) dan keharmonisan hidup bersama dalam mewujudkan NKRI ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ber-Persatuan Indonesia, ber-Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, demi terwujudnya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Hari ini di Pesantren Girikusumo Mranggen, Demak, Jawa Tengah, saya mendapat kehormatan diundang oleh KH. (Gus) Munif Zuhri, untuk ikut dalam halaqah atau diskusi terfokus dalam wadah Forum Silaturrahim Ulama (Pesantren) dan Cendekiawan (akademisi) Kampus, karena kebetulan sudah ada acara, maka melalui tulisan ini saya ikut share gagasan semoga KH. Munif dan Para Ulama dan Cendekiawan yang hadir berkenan.

Beberapa waktu lalu, 2/12/2020 saya menyampaikan presentasi tentang Isu yang sama, soal mainstreaming atau pengarusutamaan moderasi beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) bersama Direktur PTKI Prof. Suyitno. Intinya, melalui kebijakan dari Direktorat PTKI Ditjen Pendis Kementerian Agama, seluruh PTKI, perlu memfollow-up dan mem-breakdown orientasi dan kebijakan akademik, penataan kurikulum, strukturnya, pembuatan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), pendekatan integrative, inter-multi-dan trans-disipliner, menjadi pekerjaan rumah besar, yang harus segera dilakukan. Melalui “Rumah-rumah Moderasi” dan berbagai model kajian, guna merumuskan “parameter” keberhasilan Pendidikan “moderasi beragama” menjadi suatu keniscayaan.

Pesantren yang sudah memiliki khazanah dan kekayaan turats dengan model kajian yang moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), berbasis persaudaraan (ukhuwwah/brotherhood), saling tolong menolong, dialog (musyawarah) dan Kerjasama kemitraan secara mutualistic, perlu diakomodasi baik secara kelembagaan, keilmuan, dan kebijakan untuk membangun keberagamaan secara damai, demi terwujudnya NKRI yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang Adil dan beradab, ber-Persatuan Indonesia, ber-Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dalam mewujadkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Semoga niat luhur dan komtmen para Ulama dan Akademisi melalui Forum Silaturrahim II hari ini mampu menghasilkan formulasi yang smart, visioner, dan futuristic, demi NKRI, perdamaian, dan kedamaian dunia. Allah a’lam bi sh-shawab. (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA