Minggu, 17 Januari 2021

Tour d’Pesangkalan: Kisah Anak-Anak Sekolah (4)

Oleh : Sagiyo Arsadiwirya, S.I.P
Kabid PKP-TR Dispermades PPKB Kab. Banjarnegara

SMOL.ID – BANJARNEGARA – Suasana di pedukuhan Pesangkalan masih senyap, ketika Fajar dibangunkan ibunya jelang subuh. Ia bergegas mandi, berseragam biru putih, atau kadang pramuka, lalu sarapan seadanya.

Sang bapak dengan korek bensin menyalakan obor minyak, sesaat kemudian terlihat si anak berjalan berkalung tas dan membopong kresek berisi sepatu, mengikuti didekat bapaknya yang membawa obor. “Hati-hati menyusuri jalan setapak yang samar dan licin.”

Diujung jalan tanah yang membelah hutan Desa Pesangkalan, Fajar bertemu Sijon dan teman-teman lainnya, anak-anak ini sudah saling kenal dan biasa saling tunggu, masing-masing diantar orang tuanya pula.

Sambil nunggu formasi lengkap, sebagian anak yang memiliki mengeluarkan sepatu dari kresek lalu memakainya. Anak-anak ini kemudian berjalan bersama menuju sekolah. Para orang tua menatapi anak-anak hingga hilang ditikungan jalan. Lalu kembali pulang dan bersiap pergi ke ladang.

Dibalik kisah anak-anak sekolah ini, tentu, ada orang tua yang hampir setiap pagi, selama tiga tahun, tidak pernah lelah untuk membesarkan hati anak-anaknya agar menuntut ilmu pengetahuan.

Selepas lulus SMP, sebagian orang tua mengirim anak-anak ke SMA dan sebagian lagi melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren di Jawa Timur. Wahyu, Simah, Ali Kopra, dan Sapardi adalah anak-anak beberapa dusun di Pesangkalan yang dikirim ke pondok.

Sepulang dari pondok atau lulus SMA/STM, anak-anak muda terdidik ini tumbuh menjadi lapisan sosial baru yang aktif, dekat secara psikologis dan saling berjejaring.

Mereka ada yang menjadi perangkat desa, guru ngaji dan montir. Atau, petani dan wiraswasta melanjutkan usaha orang tuanya.

Terobosan pendidikan yang visioner puluhan tahun silam tidak bisa dielakkan menjadi salah satu faktor pemicu perubahan sosial dan ekonomi yang pesat di Desa Pesangkalan.

Selain, tentu saja, keberhasilan disuatu periode waktu pemerintahan membuka aksesibilitas infrastruktur berupa pembangunan jalan dan listrik masuk desa.

Nama-nama tersebut diatas telah disamarkan.

Kisah ini terjadi dimasa lalu. Diceritakan kembali oleh tokoh masyarakat, sebagaimana kami dengar, ketika kami menginap semalam di Desa Pesangkalan.

Bersambung (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Popular

Komentar