Minggu, 17 Januari 2021

Tour d’Pesangkalan: Sepatu Lurah dan Kerinduan Jalan Aspal. Selesai (6)

SMOL.ID – BANJARNEGARA – Suatu pagi dihalaman pendopo. Sebelum acara konferensi besar kepala desa akhir tahun dimulai, Bupati menyalami para kepala desa. Saat giliran bersalaman dengan Salim, Kepala Desa Pesangkalan, sang bupati lekat-lekat menatap sepatunya.

Tumben sekali, Lim panggilan akrab bupati kepada kades Salim, sepatumu kinclong.! Musim hujan Desember kok tidak kotor dan berlumpur!.

Salim senyam-senyum. Kemudian menjelaskan, bahwa ia tadi berangkat mruput dari rumah. Jam 5 pagi. Menerobos jalan setapak, Becek. Hanya bercelana pendek dan mengenakan kaos dalam. Sepatu, kaos kaki hitam, maupun seragam kheki dan jengkol-kades dibuntel kresek.

Penulis Berfoto dengan Pemuda Desa Pesangkalan

Sesampai Wanasari, suatu pedukuhan dekat kota, ia numpang mandi di rumah Kambali, seorang guru, barulah baju seragam dan sepatunya dipakai.

Rahasia kecil ini masih berlangsung hingga akhir tahun 1990-an. Ketika, infrastruktur jalan desa Pesangkalan masih mirip kali asat alias sungai kering nan becek. Serta, konstur jalan tanah yang “mendusul”, terlalu tinggi dibagian tengah mirip punggung kerbau.

Jalan desa diera Salim, mulai diperlebar. Era Kepala desa berikutnya, Arif Sujono mulai gencar perkerasan jalan dan jalan makadam dilapisi aspal. Infrastruktur hampir tuntas di era Kepala desa Sarmin.

Bila Anda mau jalan-jalan ke Pesangkalan hari ini, praktis hampir semua jalan sudah baik kondisinya. Tahun lalu, bahkan, Bupati Budhi Sarwono dengan visi besar infrastruktur telah membuat akses jalan lebih pendek dan mulus pada rute: Pesangkalan-Wanasari.

Rasanya kisah anak-anak jalan kaki dengan diterangi obor. Juga, sepatu kepala desa yang baru dipakai menjelang sampai kota, sudah tidak ada lagi.

Penulis Berfoto dengan Pemuda Desa Pesangkalan

Setelah pemerintah Kabupaten Banjarnegara memperbaiki akses jalan-jalan diperdesaan dan perbatasan, maka pemerintah Desa dan anak-anak muda Pesangkalan melangkah cerdas.

Diantaranya, mengolah komoditas ekonomi unggulan desa, seperti kopi, mocaf dan cincau. Juga, ternak kambing etawa dan penggemukan sapi. Serta, desa wisata dengan ikon Curug Pletuk dan tradisi budaya Grebeg Sowan Alas.

Selesai (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Popular

Komentar