Senin, 8 Maret 2021

Ini Sederet Potensi Bencana Januari: Banjir hingga Gunung Meletus

SMOL.ID, JAKARTA – Sejumlah bencana alam terjadi di Indonesia pada awal tahun ini. Banjir hingga erupsi gunung berapi terjadi di beberapa daerah. Berikut ini peta potensi bencana di sejumlah daerah.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan potensi multirisiko bencana hingga Maret 2021. Dwikorita menyebut puncak bencana yang disebabkan oleh cuaca terjadi pada Januari-Februari, bersamaan dengan itu potensi kegempaan meningkat.

“Sampai Maret masih ada potensi multirisiko, tapi untuk hidrometeorologi puncaknya pada Januari-Februari. Tapi seiring dengan itu, potensi kegempaan juga meningkat, mohon kewaspadaan masyarakat,” kata Dwikorita dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2021).

BMKG telah mengeluarkan informasi potensi bencana bersamaan dengan prakiraan musim hujan sejak Oktober 2020. Bahkan sejak awal Januari 2021, sejumlah daerah mengalami bencana banjir dan tanah longsor akibat peningkatan curah hujan.

Begitu pula dengan potensi kegempaan, gempa dengan kekuatan signifikan terjadi di sejumlah daerah. Yang terbaru gempa dengan magnitudo 5,9 yang mengguncang Majene, Sulawesi Barat, pada Kamis (14/1/2021) pukul 13.35.49 WIB.

Berikut ini peta potensi bencana dari banjir, cuaca ekstrem hingga letusan gunung berapi:

Potensi Banjir

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Dodo Gunawan mengatakan saat ini juga sudah memasuki puncak musim hujan sehingga patut diwaspadai peningkatan potensi bencana hidrometeorologi.

“Januari-Februari memasuki puncak musim hujan. Karena itu, perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi,” kata Dodo.

Berdasarkan data BMKG pada Dasarian III Januari 2021 terdapat daerah dengan potensi banjir menengah, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.

Potensi Cuaca Ekstrem

Deputi bidang Meteorologi Guswanto mengatakan saat ini ada beberapa fenomena cuaca yang harus diwaspadai, yaitu MJO (Madden Julian Oscillation) serta fenomena lokal, regional, dan global.

MJO saat ini teramati sedang aktif di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Sumatera. Fenomena gelombang atmosfer (Kelvin Wave) diprakirakan cukup aktif di sebagian wilayah Indonesia bagian timur periode 14-17 Januari 2021.

Sedangkan angin monsun Asia mengalami penurunan intensitas dalam sepekan terakhir dan diperkirakan akan meningkat kembali dalam sepekan ke depan. Sementara itu, suhu muka laut masih relatif hangat.

BMKG memprakirakan pada periode 16-21 Januari 2021 potensi hujan lebat dengan intensitas sedang-lebat terdapat di wilayah sebagai berikut:

Hujan lebat 16-21 Januari 2021
1. Aceh
2. Sumatera Utara
3. Jambi
4. Sumatera Selatan
5. Banten
6. Jawa Barat
7. Jawa Tengah
8. DI Yogyakarta
9. Jawa Timur
10. Bali
11. NTB
12. NTT
13. Kalimantan Utara
14. Kalimantan Timur
15. Kalimantan Selatan
16. Sulawesi Utara
17. Gorontalo
18. Sulawesi Tengah
19. Sulawesi Barat
20. Sulawesi Selatan
21. Sulawesi Tenggara
22. Maluku Utara
23. Maluku
24. Papua Barat
25. Papua.

Awan CB

Pada tujuh hari ke depan juga terdapat prospek pertumbuhan awan konvektif (cumulonimbus/CB) bercampur dengan awan konvektif lainnya dengan tingkat kerapatan occasional (OCNL) sekitar 50-75 persen di atas wilayah Aceh dan Sumatera Utara, Samudera Hindia sebelah barat Sumatera, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, perairan selatan Pulau Jawa, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara dan Laut Jawa, perairan Selat Makassar, sebagian besar Sulawesi, Laut Sulawesi, Kepulauan Halmahera, dan Kepulauan Maluku.

Serta potensi pertumbuhan awan CB dengan tingkat kerapatan frequent (FRQ) di atas 75 persen terjadi di atas wilayah Riau, Kepulauan Riau, perairan Natuna, Bangka Belitung, perairan utara Kepulauan Halmahera.

Gangguan penerbangan

Prakiraan potensi pertumbuhan awan konvektif periode Desember 2020-Januari 2021 yang menghasilkan gangguan penerbangan berpotensi pada sebagian besar wilayah Indonesia bagian tengah hingga bagian timur.

Potensi Gelombang Tinggi

BMKG juga memprakirakan potensi gelombang tinggi periode 15-24 Januari 2021 yaitu dengan ketinggian 2,5-4,0 meter (Rough Sea) berpeluang terjadi di wilayah berikut:
1. Perairan barat Lampung
2. Selat Sunda bag.barat dan selatan,
3. Perairan selatan Pulau Jawa
4. Samudra Hindia barat Lampung hingga selatan NTB
5. Laut Natuna
6. Perairan Kep. Anambas
7. Perairan timur Kep. Bintan – Kep. Lingga
8. Laut Jawa bagian Timur
9. Selat Makassar bagian selatan
10. Laut Sulawesi
11. Perairan Kep. Sangihe – Kep. Talaud
12. Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua.

Selanjutnya tinggi gelombang 4,0-6,0 meter (Very Rough Sea) berpeluang terjadi di Perairan utara Kepulauan Natuna dan tinggi Gelombang lebih dari 6,0 meter (Extrem Sea) berpeluang terjadi di Laut Natuna Utara.

Jadi untuk saat ini di dalam periode puncak musim hujan ini, masyarakat diimbau untuk tetap terus mewaspadai potensi multi-bencana hidrometeorologi, gempa bumi, dan tsunami.

Potensi Letusan Gunung Berapi

Dikutip dari laman resmi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, per 17 Januari ada sejumlah gunung berapi yang menunjukkan aktivitasnya, dari yang tingkat Siaga dan Waspada. Berikut ini daftarnya:

-Gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13.00 Wita. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020.

-Gunung Api Merapi (DIY dan Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB. Gunung api Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

-Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB. Gunung api Sinabung (2.460 mdpl) mengalami erupsi sejak 2013.

-Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunung api Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak.

-Gunung Api Semeru (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

-Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 mdpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

-Gunung Api Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 mdpl) mengalami erupsi menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 1 Januari 2021 dengan tinggi kolom erupsi sekitar 600 m dari puncak.

-Gunung Api Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu (1.340 mdpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 24 Desember 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

-Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

-Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Kerinci (3.805m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

-Gunung Api Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo (2.329 mdpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

-Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 Wita. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

-Gunung Api Agung (Bali)
Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.(lin/smol/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA