Kamis, 4 Maret 2021

Djuyoto Suntani yang Bikin Heboh Ngaku Presiden Perdamaian Dunia Meninggal

SMOL.ID, JEPARA – Djuyoto Suntani yang pernah membuat ramai dunia maya karena mengaku menjadi Presiden Komite Perdamaian Dunia, meninggal dunia. Jenazah Djuyoto dimakamkan di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji, Jepara, Jawa Tengah.

Kabar duka tersebut awalnya tersebar di sejumlah media sosial. Salah satunya di-posting di akun Facebook Info Seputar Jepara.

Pada unggahan itu menuliskan kabar bahwa Djuyoto yang merupakan Presiden Komite Perdamaian Dunia wafat Senin kemarin. Dituliskan juga sosok Djuyoto merupakan pencetus gong perdamaian dunia yang ada di 202 negara salah satunya di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji, Jepara.

“Orang Plajan Pakis Aji Presiden Komite Perdamaian Dunia meninggal dunia.

Lahir di Desa Plajan 6 Juli 1962, ia mempunyai cita – cita tinggi yaitu perdamaian dunia.

Rencananya almarhum akan dimakamkan di Museum Gong Perdamaian Dunia di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Semoga diterima di sisinya,” tulis Info Seputar Jepara, Rabu (20/1/2021).

Saat dimintai konfirmasi, adik Djuyoto Suntani, Tya Suntani, membenarkan kabar wafat kakaknya. Tya menjelaskan, Djuyoto Suntani meninggal pada Senin kemarin dan telah dimakamkan di Desa Plajan Pakis Aji Jepara.

“Nggih leres (iya benar, saat ditanya terkait Djuyoto wafat). Sudah kemarin Senin, hari ini tahlil terakhir untuk umum,” kata Tya, Rabu (20/1/2021).

Tya mengatakan kakaknya wafat karena sakit tipus. Menurutnya kakaknya sudah sakit dan dirawat di rumah. Namun saat wafat dirawat di rumah sakit di Jakarta.

“Hasil laboratorium keluar itu tipus itu mungkin sama gejala jantungnya. Di rumah, saat meninggalnya di Rumah Sakit Abdi Waluyo Jakarta,” kata Tya.

“Senin pagi jam 10.00 WIB. Dimakamkan malam itu juga di Plajan Kecamatan Pakis Aji, di makam keluarga di kawasan Gong Perdamaian Dunia,” sambung dia.

Menurutnya Djuyoto Suntani merupakan sosok yang memiliki pemikiran jauh ke depan. Termasuk keinginan bercita-cita tentang perdamaian dunia.

“Kakak saya dari dulu, berpikir jauh ke depan, yang diinginkan memang istilahnya melompat jauh. Jauh, kakak saya nomor empat saya nomor lima. Jadi kan tahu,” ucap Tya.

Terkait dengan gong perdamaian, kata dia, itu merupakan warisan dari keluarga. Gong perdamaian tersebut berusia ratusan tahun lalu. Kini di Desa Plajan terdapat kawasan gong perdamaian dunia yang dirikan kakaknya itu.

“Masalah gong ini kan warisan dari keluarga. Dari ibu saya. Artinya ini kan gong warisan dari saya. Usianya ratusan tahun lalu. Kalau gong ke generasi ke delapan,” jelas dia.(lin/smol/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA