Minggu, 28 Februari 2021

Staf Dinas Pertanian Karanganyar Ini Ciptakan Pupuk dari Urine, Panen Bisa 4 Kali Setahun

SMOL.ID, KARANGANYAR – Kelangkaan pupuk kerap terjadi, sehingga membuat pusing para petani di Karanganyar. Beranjak dari kondisi itu, seorang staf Dinas Pertanian Karanganyar Heri Sulistiyo mencoba membuat pupuk sendiri. Hasilnya cukup menggembirakan. Sawahnya subur, bebas hama dan dalam setahun bisa panen 3 sampai 4 kali.

Karena tak memakai pupuk kimia, padi hasil panennya tergolong organik yang tentu saja harganya lebih mahal dari padi yang ditanam dengan pupuk kimia.

“Ya, dari pada setiap tahun pusing dengan pupuk yang langka, karena rumah saya di Mojolaban sehingga masuk Sukoharjo, sedangkan lahan sewa saya ada di Papahan, Karanganyar, maka semakin ribet mendapatkan pupuk, Ya sudah, sekalian tanpa pupuk saja,” ujar Heri saat melihat sawahnya mulai tanam, Rabu (21/1).

Heri mengganti pupuk kimia dengan pupuk buatannya sendiri, yakni mikroba dari sampah organik, empon-empon, urin yang dicampur dengan 200 liter air. Kemudian didiamkan atau difermentasi selama seminggu.

Cairan pupuk buatannya itu mulai disemprotkan sejak pertama mengolah tanah persawahan, kemudian saat tanam padi, hingga saat akan panen setidaknya sebulan sebelumnya. Penyemprotan dilakukan tiga kali dalam seminggu. Setiap 200 liter pupuk cair itu bisa digunakan untuk tiga hektare.

“Saya awalnya berpikir sederhana. Kalau pupuk urea itu kan diambil unsur Nitrogennya dan Phosphat sedikit. Nah air kencing itu kan kandungan nitrogennya tinggi, dan phosphatnya dari mikroba dan empon-empon yang difermentasi bersama,” jelas Heri yang menjabat Kabid Peternakan, Distan Karanganyar.

Uji coba yang dilakukan Heri ternyata berhasil. Uji coba itu sudah dilakukan 10 kali tanam selama 10 tahun. Selama setahun bisa panen 3 sampai 4 kali panen. Hasil panen minimal mencapai 10,2 ton perhektare gabah kering. Dan hebatnya selama menggunakan pupuk cair itu, sawah tidak diserang hama tikus dan wereng.

Adapun jenis urine yang digunakan bisa dari manusia terutama ibu hamil, kelinci, kambing dan sapi. Namun Heri lebih sering menggunakan urine sapi yang diperolehkan dari peternak sapi.

Heri mencoba mengajak temannya untuk menanam dengan polanya, namun terkendala alat pertanian. Selama ini petani masih menggunakan peralatan manual, termasuk alat semprot. Ia mengatakan, pernah meminta bantuan SMK Muhammadiah Karanganyar untuk membuat alat semprot elektrik. Namun belum terealisasi.

Sedangkan perhatian pemerintah terhadap mengembangan metode tersebut juga masih kurang. Terlebih saat kondisi corona saat ini.

Pupuk cair itu juga bisa dibuat dari limbah pabrik. Tiga pabrik sudah pernah memintanya untuk mengubah limbah menjadi mikroba sehingga tak lagi mencemari lingkungan.

Heri kini mencoba mengajukan pupuk cair hasil karyanya itu itu kepada Kementerian Pertanian. Dia meyakini puput cair buatannya itu mampu mengatasi kelangkaan pupuk kimia yang sering terjadi.(joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA