Minggu, 7 Maret 2021

Mengenal Udhik-udhik Keraton Yogya yang Tak Lagi Libatkan Adik Sultan

SMOL.ID, YOGYAKARTA – Keraton Yogyakarta memiliki tradisi udhik-udhik yaitu menyebar atau membagi uang logam kepada masyarakat. Adik Sultan Hamengku Buwono (HB) X disebut tak lagi terlibat dalam acara rangkaian sekaten itu.

Apa itu udhik-udhik di Keraton Yogya?

Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta Hadiningrat, KRT Jatiningrat, menjelaskan tradisi udhik-udhik sudah berlangsung sejak lama. Menurutnya, udhik-udhik adalah bentuk pemberian Raja Keraton Yogyakarta kepada rakyatnya.

“Udhik-udhik itu sedekah saja, sedekahnya Sultan kepada masyarakatnya, berupa udhik-udhik yang diberikan pada waktu Sekaten antara lain,” kata Jatiningrat saat dihubungi, Kamis (21/1/2021).

Sebenarnya udhik-udhik bisa dilakukan di mana saja pada saat acara-acara tertentu. Namun saat ini udhik-udhik hanya dilakukan satu kali dalam setahun.

“Udhik-udhik setahun sekali untuk sekaten saja, nah sekaten itu bersamaan dengan Grebeg Maulud,” ujarnya.

Pria yang kerap disapa Romo Tirun ini melanjutkan, udhik-udhik yang diberikan berupa uang logam, beras kuning hingga bunga. Biasanya yang terlibat dalam udhik-udhik perwakilan yang ditunjuk Sultan.

“Berupa uang logam dan beras kuning dan bunga-bunga biar harum,” katanya.

“Jadi atas nama Sultan, mestinya Sultan sendiri yang menyebar, tapi Sultan biasanya sudah mewakilkan kepada kerabat atau putri Sultan,” lanjutnya.

Secara simbolik, Romo Tirun menyebut tentang Regol Danapratapa. Menurutnya, Regol Danapratapa adalah simbol seorang Sultan, bahwa Sultan itu harus selalu memberikan sesuatu kepada rakyatnya karena posisi Sultan yang tinggi.

“Dana itu adalah pemberian, pratapa itu adalah posisi Sultan yang tinggi sebagai kepala negara kalau dulu. Nah itu wajib mengeluarkan dananya,” ucapnya.

Seperti diberitakan detikcom, adik Sultan HB X terlibat dalam tradisi udhik-udhik Keraton Yogya. Seperti acara udhik-udhik yang digelar pada tahun 2016 silam, tepatnya Senin (5/12/2016) malam, di Bangsal Pancaniti Keraton Yogyakarta.

Udhik-udhik ini mengawali tradisi Miyos Gangsa atau dikeluarkannya dua gamelan pusaka milik Keraton Yogyakarta. Mengawali Miyos Gangsa, keluarga Keraton melakukan tradisi udhik-udhik yakni menyebar uang logam.

Adik Sultan yang ikut dalam tradisi udhik-udhik saat itu di antaranya GBPH Prabukusumo, GBPH Yudhaningrat, GBPH Cakraningrat. Kemudian putri-putri Sultan yakni GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu dan GKR Bendara.

Kerabat Keraton menyebarkan uang logam kepada warga yang langsung menyambutnya dengan menengadahkan tangan. Sejumlah warga yang berebut nampak ada yang terinjak demi bisa mendapatkan uang logam tersebut. Dalam tradisi udhik-udhik ini, uang logam yang disebar bercampur dengan beras kuning dan bunga setaman.

Tradisi udhik-udhik merupakan simbol sedekah raja kepada rakyatnya. Ribuan warga yang sudah menunggu sejak sore hari langsung berebut saat keluarga Keraton Yogya keluar dan menyebarkan uang recehan.

Namun, Pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Dardias Kurniadi mengungkap adik Sultan sudah tak terlibat dalam udhik-udhik Keraton Yogya.

Saat dihubungi untuk dimintai pendapatnya soal GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat, adik Sultan HB X dicopot dari jabatan di Keraton Yogyakarta, Bayu sempat menyinggung adik Sultan tak lagi terlibat udhik-udhik.

“Karena itu saya tidak kaget, misal saat nyebar udhik-udhik itu saya lihat 3 tahun yang lalu, biasanya kan yang nyebar omnya (pamannya),” kata Bayu saat dihubungi wartawan, Rabu (20/1).

“Waktu omnya masih pegang udhik-udhik itu, menurut cerita Gusti Prabu (Prabukusumo), diambil alih oleh putri-putri Sultan kemudian disebarkan oleh Sri Sultan sehingga omnya mundur. Sejak saat itu om-omnya sudah tidak terlibat lagi di dalam urusan Keraton,” imbuhnya.(lin/smol/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA