Minggu, 28 Februari 2021

Menyingkap Tabir Runtuhnya Majapahit dan Kolerasinya dengan Ki Ageng Gumelem (1)

Oleh : Den Juneng
Suhu Padepokn Carang Seket

SMOL.ID – Kisah Sejarah yang Dibisukan – Menurut Pararaton, Kertawijaya adalah putra Wikramawardhana dari selir. Putra Wikramawardhana yang lain adalah Hyang Wekasing Sukha, Bhre Tumapel, dan Suhita. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel, yaitu menggantikan kakaknya yang meninggal awal tahun 1427.

Kertawijaya naik takhta menggantikan Suhita tahun 1447. Pada masa pemerintahannya sering terjadi gempa bumi dan gunung meletus, dan juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel.

Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya beristrikan Bhre Daha Jayawardhani Dyah Jayeswari dan mempunyai tiga putra, yaitu:

1. Bhre Pamotan Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara.
2. Bhre Wengker Girisawardhana Dyah Suryawikrama Sang Hyang Purwawisesa.
3. Bhre Pandansalas Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa

Selain itu Dyah Kertawijaya memiliki seorang selir bernama Ratu Dwarawati dari negeri Campa yang beragama Islam. Hal ini terbukti dengan ditemukan situs makam Putri Campa di Mojokerto yang diyakini sebagai istri Brawijaya. Batu nisan makam tersebut berangka tahun 1448, jatuh pada masa pemerintahan Kertawijaya.

Hal ini menimbulkan pendapat bahwa sesungguhnya tokoh Brawijaya yang identik dengan ayah dari Raden Patah adalah Dyah Kertawijaya. Bahkan, dalam bagan silsilah yang ditemukan pada pemakaman Ratu Kalinyamat di Jepara, tertulis dengan jelas nama Kertawijaya sebagai nama ayah Raden Patah.

Kertawijaya wafat tahun 1451. Ia dicandikan di Kertawijayapura, kedudukannya sebagai raja digantikan Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara. Gelar Bhre Kahuripan diwariskan kepada putra mahkota Samarawijaya. Sedangkan adiknya Wijayakarana menjadi Bhre Mataram.

Pararaton menyebutkan bahwa putra-putra Sang Sinagara ada empat orang. yaitu:

1. Bhre Matahun Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya.
2. Bhre Keling Girindrawardhana Dyah Wijayakarana.
3. Bhre Pamotan Singawardhana Dyah Wijayakusuma.
4. Bhre Kertabumi Girindawardhana Dyah Ranawijaya.

Ketika Rajasawardhana Sang Sinagara mangkat tahun 1453, terjadilah pertikaian tahta antara Bhre Kahuripan Samarawijaya Sang Putra Mahkota dan pamannya Bhre Wengker Girisawardhana. Kemelut paman dan keponakan ini menyebabkan Majapahit tiga tahun tidak mempunyai raja (telung tahun tan hana prabhu, kata Pararaton).

Kefakuman tahta ini berakhir tahun 1456 tatkala Girisawardhana menjadi raja dengan gelar Hyang Purwawisesa. Kiranya Samarawijaya yang masih muda mengalah terhadap paman yang sekaligus mertuanya, dan rela menjadi putra mahkota untuk kedua kalinya. Peranan ibu suri dalam hal ini Bhre Daha Jayeswari tentu sangat besar dalam proses rekonsiliasi tersebut.

Bhre Daha Jayeswari wafat tahun 1464, dan gelar Bhre Daha disandang Manggalawardhani. Ketika Bhre Jagaraga Wijayaduhita dan Raja Girisawardhana wafat pula tahun 1466, sengketa kekuasaan muncul kembali.

Adik bungsu Sang Sinagara, Bhre Tumapel Suraprabhawa, ternyata berambisi juga menjadi raja. Dia menduduki tahta Majapahit. Sudah tentu para keponakannya sakit hati. Baru saja dua tahun Suraprabhawa bertahta (prabhu rong tahun), yaitu tahun 1468, keempat putra Sang Sinagara memperlihatkan sikap oposisi dengan “pergi dari istana” (tumuli sah saking kadaton putranira sang sinagara)

Mereka menyingkir ke Jinggan (antara Mojokerto dan Surabaya sekarang), menyusun kekuatan untuk merebut hak mereka atas tahta. Sejak itu Samarawijaya disebut Sang Munggwing Jinggan (Yang Berdiam di Jinggan).

Mereka berempat berhasil menarik simpati rakyat Majapahit yang dianggap lebih berhak menduduki tahta kekuasaan sepeninggal ayahnya Sang Sinagara dari pada pamannya Dyah Suraprabawa.

Pada tahun 1478 Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya dan adik-adiknya yang berkoalisi dengan Demak dan para bupati pesisir yang notabene beragama Islam memimpin pasukan dalam penyerbuan ke ibukota Majapahit

Dengan didukung rakyat Majapahit maka terjadilah “perang sipil” (civil war) yang menyebabkan runtuhnya istana di Trowulan. Pararaton menutup uraian hancurnya istana Majapahit dengan kalimat “Sirna Ilang Kertaning Bumi pada tahun saka 1400 atau tahun 1478 M

Tetapi kemenangan putra-putra Sang Sinagara ternyata harus ditebus dengan ikut gugurnya Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya Sang Putra Mahkota yang dipertahankan mati-matian oleh para prajurit yang setia pada Raja.

Prasasti Petak menyebutkan kadigwijayanira sang munggwing jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit (kemenangan Sang Munggwing Jinggan yang naik-jatuh berperang melawan Majapahit). Ungkapan ayun-ayunan (naik-jatuh) berarti meraih kemenangan tetapi gugur dalam pertempuran (won the war but lost the battle).

Bersambung. (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA