Minggu, 28 Februari 2021

Raja – Raja Majapahit Dinasti Girindra (Girindrawangsa) Beserta Silsilahnya (1)

Oleh : Den Juneng
Suhu Padepokan Carang Seket

SMOL.ID – Sebuah Dinasti atau Wangsa atau bisa disebut Trah itu ada dan terlahir melalui proses panjang kesejarahan dari pendahulunya atau leluhurnya, demikian halnya dengan Dinasti Raja-Raja Majapahit.

Dinasti Raja-Raja Majapahit adalah Rajasa (Rajasawangsa) atau dikenal pula dengan sebutan Dinasti Girindra (Girindrawangsa). Pemahaman kosmogoni Ciwa-Buddha menganggap suatu kerajaan sebagai perwujudan Gunung Mahameru tempat kediaman Bhatara Indra. Itulah sebabnya keluarga Majapahit menamakan diri mereka sebagai Girindrawangsa, yang berarti “Keluarga Gunung Indra”.

Pusat kerajaan Majapahit (disekitar Mojokerto sekarang) dikelilingi daerah-daerah bawahan (mandala-mandala) yang meliputi delapan penjuru (lokapala), yaitu Kahuripan, Tumapel, Paguhan, Wengker, Daha, Lasem, Pajang, dan Kabalan.

Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Dr. Boechari, “While the kingdom is compared with Mount Meru and Indra’s heaven, the king is thought to be Indra on earth, and that the eight Lokapala are incorporated in his nature” (MIISI, V/1, 1973).

Dua mandala utama, yaitu Kahuripan (Janggala, Jiwana) dan Daha (Kadiri, Panjalu), merupakan poros yang menyangga kestabilan sistem, dan hal ini sudah dibakukan sejak zaman raja Airlangga pada abad ke-11. Itulah sebabnya kombinasi Wilwatikta-Janggala-Kadiri (Majapahit-Kahuripan-Daha) banyak dijumpai dalam prasasti-prasasti.

Sebagai kepala pemerintahan, Raja atau Ratu Majapahit bergelar Bhatara Prabhu (Bhre Prabhu) atau Cri Maharaja. Sedangkan untuk para anggota keluarga kerajaan diberi gelar Bhatara (Bhre) dari mandala tertentu, seperti Bhre Kahuripan, Bhre Daha, Bhre Tumapel, dan sebagainya. Jabatan untuk anggota keluarga kerajaan disesuaikan dengan gendernya, seperti gelar Bhre Tumapel, Bhre Paguhan dan Bhre Wengker, dijabat oleh pria. Sedangkan, gelar Bhre Lasem, Bhre Pajang dan Bhre Kabalan, jatah untuk wanita.

Adapun untuk gelar Bhre Kahuripan dan Bhre Daha, sebagai daerah poros (axis region), boleh disandang pria maupun wanita, asalkan hubungan kerabatnya dekat dengan sang Prabhu.

Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Bertram Johannes Otto Schrieke, “Kahuripan and Daha were the regions assigned to the most highly placed members of the Royal family” (Ruler and Realm in Early Java, 1957).

Dan, jika anggota keluarga kerajaan cukup banyak, maka mandala-mandala akan diperluas sesuai dengan kebutuhan, seperti Bhre Mataram, Bhre Matahun, Bhre Wirabhumi, Bhre Pamotan, Bhre Keling, Bhre Pakembangan, Bhre Tanjungpura, Bhre Singhapura, Bhre Kembangjenar, Bhre Jagaraga, dan Bhre Pandansalas.

Dinasti Raja-Raja Majapahit merupakan keturunan langsung dari Ken Angrok atau Cri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, yaitu pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Singhasari. Oleh karena itu, kerajaan Singhasari dengan Majapahit mempunyai hubungan yang sangat dekat. Menurut Pararaton, kerajaan Singhasari runtuh pada tahun 1197 Caka/1275 M, ditandai dengan adanya dua peristiwa penting, yakni Peperangan Tumapel atau Pemberontakan raja Jayakatwang dari kerajaan Glan-Glan Bhumi Wurawan, dan wafatnya Bhatara Ciwa-Buddha/Cri Kertanagara (raja terakhir Singhasari). Sedangkan versi Nagarakrtagama, Bhatara Ciwa-Buddha/Cri Kertanagara wafat pada Tahun 1214 Caka/1292 M. Setelah runtuhnya kerajaan Singhasari, kemudian munculah era baru, yaitu berdirinya Kerajaan Majapahit pada tahun 1216 Caka/1294 M. Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya/Cri Krtarajasa Jayawarddhana/Nararyya Sanggramawijaya, sekaligus sebagai raja Majapahit pertama (1294-1309 M).

Kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pararaton, Raden Wijaya merupakan putra dari Mahisa Campaka, Ratu Anggabhaya Singhasari yang bergelar abhiseka Bhatara Narasinga. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Ateleng. Dan, Mahisa Wong Ateleng merupakan anak Ken Angrok dengan Ken Dedes. Sedangkan versi Nagarakrtagama, Dyah Wijaya (Raden Wijaya) merupakan cucu dari Bhatara Narasingamurti, dan ayah Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal. Terkait dengan silsilah Raden Wijaya tersebut, Nagarakrtagama menjelaskan bahwa pernikahan Raden Wijaya dengan putri-putri Cri Kertanagara dalam hubungan kekeluargaan yang sangat dekat, yakni keturunan tingkat ketiga [Raden Wijaya sebagai menantu Cri Kertanagara, terberitakan dalam Prasasti Kudadu (1216 Caka/1294 M), Prasasti Sukamrta (1218 Caka/1296 M), Prasasti Balawi (1227 Caka/1305 M), Kakawin Nagarakrtagama/Decawarnana (1287 Caka/1365 M), dan Kitab Pararaton/Naskah Katuturanira (1535 Caka/1613 M)].

Tingkatan keturunan (keturunan tingkat ketiga) tersebut dihitung mulai dari Bhatara Wisnuwardhana (Nararyya Smininrat) yang segenerasi dengan Bhatara Narasinghamurti (Nararyya Waning Hyun), [Bhatara Wisnu (Nararyya Smininrat) bersepupu (berarti keluarga dekat) dengan Bhatara Narasinghamurti (kakek Raden Wijaya)]. Lalu, Cri Kertanagara segenerasi dengan Dyah Lembu Tal (ayah Raden Wijaya). Dan, empat putri Cri Kertanagara segenerasi dengan Raden Wijaya/Cri Krtarajasa Jayawarddhana/Nararyya Sanggramawijaya.

Bersambung (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA