Rabu, 21 April 2021

God Of The Gaps

Oleh : Pribadi Eka Putra
Suprantural Padepokan Carang Seket

SMOL.ID – Istilah God of the gaps biasanya diterapkan pada fenomena tentang alam semesta yang belum bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, yang kemudian diasumsikan sebagai karya Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan hanya berperan dan berkarya hanya pada “celah” atau “lobang” yang belum bisa ditutup oleh ilmu pengetahuan. Makanya timbul istilah God of the gaps.

God of the gaps ini sebenarnya juga sebagai kritik kepada pihak yang dengan mudahnya selalu menghubungkan dengan penjelasan supernatural, yaitu peran Tuhan terhadap segala fenomena alam yang belum ada penjelasaannya secara ilmiah, alias masih misteri. Idenya adalah bahwa ketika penelitian ilmiah berlangsung, dan semakin banyak fenomena alam bisa dijelaskan secara natural, maka peran Tuhan akan berkurang dengan sendirinya.

Dalam Skolium Umum, semacam epilog untuk Prinsip Matematika monumental Filsafat Matematika (ini adalah terjemahan dari edisi ke-3 oleh Ian Brice tersedia di Web; ada yang lain), tulis Isaac Newton (saya menggunakan I. Bernard Cohen dan terjemahan Anne Whitman):

“Sistem matahari, planet, dan komet yang paling elegan ini tidak mungkin muncul tanpa rancangan dan dominasi makhluk yang cerdas dan kuat. Dan jika bintang-bintang tetap adalah pusat dari sistem yang serupa, mereka semua akan dibangun menurut desain yang serupa dan tunduk pada kekuasaan Yang Esa. Dan agar sistem bintang tetap tidak akan jatuh satu sama lain sebagai sebuah akibat gravitasi mereka, dia telah menempatkan mereka pada jarak yang sangat jauh dari satu sama lain.”

Kita dapat melihat bahwa Newton secara langsung menggunakan pendekatan God of the Gaps, dimana Tuhan dipanggil untuk menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh sains. Di Newton, segala sesuatunya lebih kompleks dari itu, mengingat dia melihat kosmos sebagai jejak dan manifestasi langsung dari pikiran dan rencana Tuhan. Mungkin mengejutkan, bagi Newton – arsitek mekanika dan hukum gravitasi universal, salah satu penemu kalkulus dan penemu beberapa hukum dasar optik, penginspirasi pencerahan dan model rasionalitas klasik – Tuhan adalah bagian integral dan esensial alam semesta.

Ada beberapa type orang dalam menyikapi tantangan misteri alam ini. Ada yang apatis dan cenderung tidak peduli. Hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi dan sosial yang tidak memungkinkan, sehingga penguakan misteri bukan menjadi prioritasnya. Ada juga yang tidak mampu melakukan apa-apa selain diam dan menunggu, karena kemampuan kecerdasan yang kurang.

Selain itu tentunya ada juga orang yang terus menerus berusaha untuk menguak misteri-misteri alam semesta. Selain kemampuan yang mereka miliki dari sisi kecerdasan pikir serta sumber daya pendukung lainnya, orang tersebut biasanya juga memiliki lingkungan masyarakat yang juga mendukung. Bahkan masyarakatnya memiliki passion atau hasrat yang sama untuk menaklukan tantangan-tantangan misteri tersebut.

Namun, ada juga orang yang bisanya cuma menunggu sembari mengamati dari jauh pihak-pihak yang sedang sibuk bekerja menguak misteri. Dia berdiri mengamati dengan membawa keyakikannya sendiri yang dianggap pasti benar, dimana celah yang masih misteri ini langsung dipandang sebagai peran Ilahi/Tuhan, tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Ada kalanya juga, setiap ada keberhasilan dalam menguak sebuah misteri, maka orang ini akan berusaha menghubungkannya dengan informasi dari keyakinannya, untuk kemudian dikatakan bahwa penemuan tersebut sebenarnya bukan hal yang baru, karena sudah ada dalam buku keyakinannya. (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA