Rabu, 21 April 2021

Kita Semua Berdelusi

Oleh : Den Juneng*)

SMOL.ID – Di dunia ini, manusia bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan merasakan dampak langsung dari aktivitasnya itu.

Ketika manusia melihat pohon, binatang benda-benda dan segala macam objek indera lainnya, dirinya merasa bahwa itu semua merupakan kenyataan yang sebenarnya, suatu realitas yang tidak perlu untuk dipermasalahkan lagi ada atau tidaknya. Semua itu bisa dipersepsi lewat organ indera manusia.

Objek tersebut minimal memenuhi satu dari lima sifat yang mampu “dikenali” oleh indera manusia (peraba, perasa, pembau, penglihatan dan pendengaran). Pohon itu nyata, buktinya kalau menabrak atau menyentuh objek tersebut, maka diri manusia akan merasakan akibatnya.

Pohon bisa disentuh, dilihat dan dirasakan oleh indera manusia. Angin yang tidak dapat dilihat juga merupakan suatu kenyataan, benar-benar ada, karena masih bisa dirasakan kehadirannya (Upanisad, 2016).

Jadi, objek akan dikatakan nyata jika memenuhi persyaratan diatas, yaitu bisa dipersepsi oleh indra manusia. Itulah realitas. Lalu, kenapa judul tulisan ini “semua manusia berdelusi” ?

Di masa sekarang, dunia dipenuhi oleh gawai-gawai canggih. Ambil contoh perusahaan apple. Apakah perusahaa apple itu benar-benar ada? Apple punya banyak sekali produk-produk tapi produk itu bukanlah perusahaannya. Bahkan jikalau semua produk apple kita hancurkan, Apple tidak akan musnah.

Terjadi sebuah bencana yang menghancurkan bangunan-bangunan Apple dan menewaskan pegawainya, perusahaan masih bisa meminjam uang dan membangun Kembali perusahaan dan merekrut pegawai.

Perusahaan juga punya manager yang memegang saham, tapi manajer bukan perusahaan itu sendiri. Manager bisa saja dipecat dan semua saham nya dijual, ya, perusahaan Apple tetap utuh.

Apple adalah buah imajinasi bersama kita. Apple tidak bisa ditunjuk karena dia bukan benda fisik. Namun Apple hadir sebagai entitas hukum.

Apple diikat oleh hukum dimana ia beroperasi. Apple bisa membuka rekening bank, membayar pajak dan bisa dituntut sebagai mana seorang manusia.

Bila Apple meminjam jutaan dollar dan kemudian gagal, Steve Jobs dan kawan-kawan tidak berutang satu dollar pun kepada mereka. Uang itu dipinjamkan kepada Apple, bukan kepada Steve Jobs.

Begitu juga dengan negara, hak asasi manusia, dan uang. Misalkan anda punya uang 100 juta yang semuanya terdiri dari lembaran 50.000.

Jika tiba-tiba bank Indonesia dan pemerintah tidak memberlakukan uang pecahan 50.000 mulai detik ini, apa yang terjadi? Uang anda hanya akan menjadi kertas tak bermakna.

Lalu, apakah hak asasi manusia dan negara itu ada? Tidak ada yang berbohong Ketika PBB meminta Libya untuk menghormati hak asasi manusia warganya, walaupun PBB, Libya, dan hak asasi manusia adalah buah pikiran kita yang subur.

Ini disebut dengan realitas yang dikahayalkan. Kita secara kolektif mempercayai sesuatu yang berguna dan secara bersamaan mempercayai nya. Realitas yang dikhayalkan bukanlah kebohongan.

Saya berbohong jika mengatakan hari ini hujan tetapi nyatanya malah terik. Tapi bagaimana dengan negara, HAM dan uang? Apakah uang itu nyata?

Secara indera kita tidak dapat mencium bau “negara”, tidak bisa melihat rupa “negara”, juga tidak mungkin dapat meraba permukaan “negara”, atau mengecap rasa dan mendengar suara “negara”, sebab negara bukanlah realitas positif seperti pohon, sungai dan gunung, ia adalah “mitos” dan “fiksi” atau dalam bahasa disebut realitas yang dikhayalkan tadi.

Dua orang Serbia yang tidak pernah saling bertemu akan mempertaruhkan nyawa untuk saling menyelamatkan karena keduanya yakin akan keberadaan negara Serbia.

Ya benar, prajurit rela kehilangan tangan, kaki, dan bahkan nyawa demi sebuah realita yang dikhayalkan. Orang-orang rela bangun pagi bekerja seharian demi mendapatkan realitas yang dikhayalkan (uang). Para warga desa rela menumbalkan seekor sapi demi dewa Zeus, Lagi-lagi sebagai realitas yang dikhayalkan.

Dan sekarang, realitas positif seperti manusia, hewan, dan pohon hidup bergantung kepada realitas yang dikhayalkan seperti dewa-dewi, negara-negara dan tentu saja, Tuhan, dan kebenaran yang sepakati kita sebut Iman.

Sedang keimanan kita biasanya hanya merujuk pada Kepercayaan terhadap guru (Tawadhu) dan bila tidak percaya hanya bertanya di hati (kebatinan) karena takut di sebut su ul adab, bahkan ketika kita mencari entitas Tuhan. Kita akan di sebut musrik, bahkan murtadin. (aa/smol)

*)Den Juneng
Suhu Padepokan Carang Seket

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA