Rabu, 21 April 2021

Mas Prie GS Guru Terbaikku

SMOL.ID – Salah satu karya jurnalistik penulis saat masih duduk di bangku kuliah adalah liputan lomba model di Convention Hall Lt 7 Pasaraya Sri Ratu Jl Pemuda Semarang, sekitar tahun 1993-an. Lomba model itu menghadirkan bintang tamu Boyband ”Cowboy” (lahir 1991 dan bubar 1997) dengan personel Ali Mustafa, Gilbert Patiruhu, Ponco Buwono, dan Ferry.

Tentu saja ratusan kawula muda saat itu berebut mendaftar mengikuti ajang cantik-cantikan dan ganteng-gantengan itu. Sedangkan ratusan kawula muda yang lain berebut tiket untuk menyaksikan penampilan Boyband Cowboy. Maksudnya, ingin melihat dari dekat wajah ganteng Ali, Gilbert, Ponco, dan Ferry.

Dengan Jeep Willy’s 1971 pinjaman Pak Petruk, tetangga di Pandansari (kampung di sebelah barat Sri Ratu Jl Pemuda Semarang), penulis pun ikut ”menjemput” personel Boyband Cowboy. Anehnya salah satu cowok ganteng asal Ibu Kota itu malah ikut nebeng mobil Willy’s simbol Perang Dunia II yang dirancang oleh Karl Probst (American Bantam Company) dari Hotel Graha Santika di Jl Pandanaran ke Pasaraya Sri Ratu Jalan Pemuda.

”Asyik nebeng Jeep-nya Mas Arief saja. Makasih ya, Mas,” kata Ali Mustafa ketika itu.

Pembaca bisa membayangkan bagaimana histerianya kaum hawa saat melihat penampilan Ali dkk di atas catwalk. Terlebih ketika mereka melantunkan dua single-nya ”Katakanlah” dan ”Percayalah” yang sangat nge-hits ketika itu.

Dan, malam hari itu penulis yang selalu berada di atas panggung (bagian belakang) ikut kelelahan yang amat sangat. Lelah karena tidak bisa menikmati pertunjukan namun sibuk ikut membantu panitia menggotong belasan kaum hawa yang pura-pura pingsan agar bisa digotong panitia ke belakang panggung.

Malam itu juga, dengan mesin ketik manual, tak tik tak tik tak tik, penulis lembur tulisan reportase lomba model tersebut. Pagi harinya, buru-buru ke Kaligawe, menuju Kantor Suara Merdeka, di mana Mas Prie GS selalu berkantor sebagai Desk Hiburan.

Namun apa daya, tulisanku ditolak Mas Prie. ”Aku sudah mengikuti seluruh acara itu dari awal sampai akhir lho, Mas,” kilah penulis.

”Ya, silakan kalau mau dikirim ke redaksi koran lain. Tapi, aku tetap tidak menerima tulisan semacam ini,” kata Mas Prie setelah sekilas membaca hasil reportase-ku.

Dengan perasaan masygul, penulispun pulang ke rumah. ”Mas Prie kejam. Mbok dilihatkan dulu. Tulisanku ditolaknya di bagian mana? Tulisannya kurang apa, gitu,” gerutuku dalam hati.

Di dalam Bus Kota Jurusan Kaligawe-Mangkang, perasaanku gundah. Isinya hati agak gimana gitu kalau tidak disebut ”agak marah” terhadap Mas Prie.

Sampai di rumah, penulis kemudian membaca ulang tulisan yang ditolak mentah-mentah oleh Mas Prie. Kesalahannya di mana. Kemudian penulis membaca beberapa laporan budaya dan hiburan di Harian Suara Merdeka. Setengah jam setelah membandingkan tulisan-tulisan reportase beberapa wartawan di media terbesar di Semarang ketika itu, akhirnya penulis tahu mengapa tulisan itu ditolak Mas Prie.

Setelah mengetahui kesalahan yang tidak pernah ditunjukkan Mas Prie, naskah apapun yang penulis sodorkan di meja kerja Mas Prie GS, tak ada yang ditolak. Bahkan, Mas Prie pernah minta dibuatkan reportase untuk satu halaman penuh di rubrik Seni dan Budaya Suara Merdeka Edisi Minggu. Waktu itu penulis mengulas tuntas Kesenian Barongan dari Desa Bonangrejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Sampai saat ini penulis merasa sangat bersyukur karena pernah ditolak mentah-mentah dan dikejami oleh Mas Prie GS. Budayawan yang juga pernah menjadi teman sekantor ini benar-benar menjadi guru terbaikku di dunia jurnalistik.

Innalilahi wa innailaihi rojiuuun, Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Selamat jalan Mas Prie GS. Mas Prie orang baik, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu dan menerima semua amalam solihmu. Amiin ya mujibassaillin. (Ali Arifin/aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA