Beranda Features Artikel Gus Dur dan Komitmen Pemberantasan Korupsi

Gus Dur dan Komitmen Pemberantasan Korupsi

0
Gus Dur dan Komitmen Pemberantasan Korupsi

Oleh : Setiyo Haryono*

SMOL.ID – Pesan moral untuk para pemimpin – Bukanlah Gus Dur, jika kehadirannya tak membuat para koruptor lari dan bersembunyi, Reformasi 1998 adalah pintu gerbang segala perubahan bagi Indonesia. Banyak hal yang harus dibersihkan dari pohon besar Republik ini. Satu diantaranya maraknya korupsi yang membuat Gus Dur terpanggil untuk tampil.

Tidak seperti presiden sebelumnya, sejak beliau terpilih menjadi Presidean RI ke 4 lewat SI MPR, tahun 1999 banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah baginya sebagai presiden.salah satu agenda utama beliau adalah pemberantasan korupsi yang sudah menggurita.

Setidaknya pada masa kepemimpinan Gus Dur, ada tiga TAP lahir antara 1998-2001 dalam merespon kehendak bangsa tersebut: TAP MPR No. XI 1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi; TAP MPR No. VIII 2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; serta TAP MPR No. VI Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.

KPK dan Amanatnya

Sebagai wujud komitmen Gus Dur memerangi korupsi, maka pada tahun 1999 lahirlah KPK sebagai anak kandung reformasi. Gus Dur mengetahui persis akar korupsi di Indonesia, yakni adanya sistem pemerintah yang sentralistik dan  otroritarianisme. Dimana segala kebijakan bertumpu pada satu titik kuasa dengan cara yang dipaksa. Sepak terjang pertama Gus Dur sebagai Presiden, adalah membubarkan beberapa Departemen yang didirikan Soeharto sebagai lembaga yang syarat korupsi, diantaranya adalah Departemen Penerangan dan Departemen Sosial.

Kita tau bagaiamana korupsi begitu menggurita disana, SDSB (Porkas) istilah sumbangan sosial waktu itu, hanyalah kedok untuk memuluskan korupsi. Atas sepak terjang Gus Dur ini, banyak mantan tokoh dan pejabat era Soeharto ketakutan, sehingga mengatur taktik untuk menjatuhkan Gus Dur lewat forum MPR.

Akhir Januari 2001 Gus Dur mendapat memorandum I. Ini adalah tahap selanjutnya untuk impeachment, ini diakui oleh FB (Mantan Menkeu pada era Soeharto) dan menariknya, dua minggu sebelum memorandum I ada dokumen yang dibuat FB untuk AT. FB menyebut rencana mereka dengan nama “Semut Merah”. FB menulis itu adalah salah satu rencana dan menghabiskan dana sebesar 4T rupiah, dana tersebut didukung oleh FM, bendahara Golkar dan BT, anak Suharto.   Sebagai pembalasan memorandum I, Gus Dur mulai mengejar dan mengadili seluruh kroni Suharto, terutama GKS dan FB. Tapi lagi-lagi terkendala karena kekuatan Orde Baru masih cukup besar. (Sumber:https://www.nu.or.id/post/read/108973/pemakzulan-presiden-gus-dur–skenario-elite-politik)

Berpijak Prinsip Nilai

Keberanian Gus Dur yang diatas rata-rata dalam memberantas korupsi lahir dari spirit nilai ketuhanan yakni nilai keadilan bahwa keadilan merupakan bagian dari sifat Tuhan yang mesti diemban dan ditegakkan dalam sistem bernegara. Tanpa keadilan, Negara hanya sebuah ilusi dan tidak memiliki makna apapun. Prinsip inilah yang dijadikan pijakan Gus Dur dalam menahkodai Indonesia. Sehingga wajar jika para koruptor menjadi paranoid dengan kehadiran Gus Dur sebagai Kepala Negara, bagi Gus Dur jabatan itu sebuah amanat yang mesti dituntaskan, meskipun harus menghadapi banyak tantangan dan hambatan.

Perlu menjadi pelajaran bagi kita, bahwa akar dari laku korupsi adalah bergaya hidup mewah, atau dalam bahasa lain hilangnya nilai kesederhanaan hidup dalam pribadi seseorang, dan Gus Dur adalah salah satu presiden RI yang laku hidupnya dipenuhi kesederhanaan

Sepenggal Kisah Sederhana

Bahkan dalam sebuah forum Gusdurian (wadah bagi pecinta dan penerus perjuangan Gus Dur), saya mendengar langsung dari mba Alissa Wahid (Putri Gus Dur) yang menceritakan, suatu waktu pada tahun 2009, sebelum wafat Gus Dur pernah ijin meminjam sejumlah uang Rp 5 Juta kepadanya (Mba untuk suatu keperluan, mendengar itu mba Alissa seketika menangis, betapa ayahnya tidak punya uang meski hanya sebesar 5 Juta Rupiah. Namun disisi lain ia merasa bangga dengan sosok ayahnya (Gus Dur) yang tidak memanfaatkan amanat presiden untuk kepentingan pribadinya, padahal menurut Lord Acton Sejarawan Inggris Mengatakan “ A Power Tends to Corrupt” bahwa setiap jabatan akan rentan terhadap laku korupsi, namun hal ini kontra dengan apa yang telah Gus Dur alami.

Berpusat Pada Tujuan

Dari sini kita bisa mengambil blue print, betapa beliau sederhana dalam hal duniawi, padahal banyak cara bagi Gus Dur untuk menjadikannya orang kaya, tapi sekali lagi bahwa menjadi kaya bukanlah prinsip kepemimpinan Gus Dur. Beliau lebih memilih jalan sederhana agar tidak terjebak pada laku kehidupan yang korup, laku korupsi seorang  pemimpin terjadi lebih didasarkan pada pribadi yang tidak memiliki tujuan kepemimpinan yang jelas alias tidak fokus dengan yang dipimpin , dalam hal ini karena adanya salah tujuan atau niat awal yang tidak baik.

Kisah kepemimpinan Gus Dur ini menjadi ayat Kauniyah (petunjuk ayat) dan pelajaran tentang pemimpin yang bersahaja, tidak gila jabatan dan gemerlap dunia. Ia fokus pada prinsip nilai luhur kepemimpinan (Centered Leadership) yang mampu melayani rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Baginya, jabatan bukanlah hal yang perlu dipertahankan mati-matian dan baginya yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan dengan  segala persoalannya. (aa/smol)

Setiyo Haryono*
Penulis adalah bagian Gusdurian Kabupaten Purbalingga, Pemerhati Politik dan Sosial

(aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here