Minggu, 7 Maret 2021

Dokter Budi, Si Rambo Bencana Alam

SMOL.ID – Bencana alam di Indonesia dan asia tercatat lebih sering dari pada daerah lain di dunia. Bahkan di Indonesia, tercatat ribuan gempat terjadi setiap tahun dan beberapa di antaranya sangat besar dan menimbulkan bencana yang hebat.

Bencana alam di satu tempat sering memerlukan relawan yang datang dari luar untuk membantu dan meringankan beban korban.

Memberi layanan terpadu dari Kesehatan emergensi, kesehatan recovery dan kesehatan umum dan preventif.

Selain itu juga diperlukan sarana dan prasarana akomodasi agar kehidupan pengungsi berjalan secepatnya dan Kesehatan otomatis akan lebih terjamin.

Banyak pertolongan dan relawan yang dikirim ke daerah oleh instansi kemanusiaan dan kebencanaan. Sering relawan dikirim dalam jumlah banyak dan membantu masyarakat dari kesediaan makan, SAR hingga pembangunan lain.

Pengiriman relawan banyak ini karena dianggap daerah memerlukan tenaga sementara tenaga lokal yang ada tidak bisa digunakan.

Seperti pada kasus di Aceh, banyak provinsi mengirim tenaga banyak dan mereka bergerombol ke sana kemari untuk melakukan pertolongan.

Padahal kenyataannya pertolongan yg dilakukan bisa dilakukan cuma oleh 2 orang saja.

Kejadian sama terjadi di Lombok, Jogja, Palu, dan Sigi bahkan di luar negeri, kita pernah mengirim puluhan tenaga yang kurang efektif karena sebenarnya bisa dilakukan beberapa orang saja.

Dalam kajiannya tentang huge disaster dengan kasus gempa di Iran tahun 2000 an, Dr Budi Laksono mengkaji bahwa ketika terjadi bencana besar, memang ada kelumpuhan pelayanan publik, tetapi pada dasarnya tenaga lokal bila dipimpin, bisa digunakan.

Kelumpuhan terjadi karena management huge disaster yang belum dikenalkan.

Berdasarkan kajian itu maka Dr Budi Laksono menyusus artikel Small, Independent, Mobile Emergency Health Service (SIMEHS).

Dalam kajiannya ini dirumuskan solusi yaitu pengiriman adalah tim kecil yang efisien efektif dengan kemampuan midis emergensi plus predisposisi kesehatan meliputi epidemiologi, lingkungan, leadership, hubungan komunikasi dan life skill survival.

Tim ini tidak harus orang banyak, cukup 2 orang hingga 4 orang. Tim terdiri dari tenaga medis yang bisa tindakan dasar, bisa dokter atau perawat pengalaman dibantu asisten perawat, tenaga lingkungan dan life skill.

Tugas yang dilakukan adalah masuk daerah paling terdampak secepat mungkin dan memberi layanan medis dasar seawal mungkin, kemudian membangkitkan dan memimpin tenaga lokal untuk bangkit, bersamaan pelayanan medis dasar, disipakan pelayanan predisposing health seperti perumahan huntara, penyediaan air dan sanitasi dan komunikasi jaringan.

Bila fase ini sudah dilakukan maka tim bisa melayani psikoterapi anak dan para korban, edukasi, ekonomi dasar pendidikan dll.

Untuk melakukan ini seperti berkesan harus banyak orang. Inilah yang menjadi konsern Dr Budi Laksono untuk membuktikan bahwa ini bisa dilakukan oleh 2 orang bahkan beberapa kali dilakukan sendirian oleh Dr Budi Laksono karena keterbatasan sumber daya karena dia harus membiayai sendiri perjalanannya.

Seperti dilakukan di Aceh, Tacloban (Philipina), Lombok, dan Sigi.

Meskipun dalam pelaksanaannya bukan dia sendiri tetapi dengan membangkitkan tenaga lokal untuk membantunya.

SIMEHS di Aceh.

Ketika gempa dan tsunami Aceh terjadi, hari itu juga sudah diputuskan oleh Dr Budi Laksono harus memberi pengiriman tim SIMEHS. Ketika rencana pemberangkatan dengan tIm Jateng tertunda, maka diputuskan untuk ke lokasi secapatnya dengan angkutan secepatnya. Maka dengan seorang perawat, membawa nama PMI Semarang berangkat secara mandiri ke Jakarta.

Bahkan ketika mengharap transportasi dari Jakarta ke Aceh segera, dan kenyataan numpuk di Halim, maka dengan pesawat reguler lagi ke medan.

Baru dari medan punya akses Pesawat Hercules TNI AD ke Banda Aceh. Sehingga hari kedua sudah sampai banda Aceh dan lapor kapasitas dan menerima penugasan terpencil berdua.

Hari ke-2 dari start Semarang sudah buka klinik 24 jam di Lam Rabo Blank bintang, dimana puskesmas lumpuh. Hari ke 4, pelayanan puskesmas sudah dinormalkan, beberapa puskesmas yang lumpuh di Banda Aceh telah diaktifkan lagi. Jari ke-6, sudah membawa tim PM Jerman membuka Rumah sakit di Teunom, pantai barat Aceh yang terisolir.

Minggu ke-3 sudah balik Semarang untuk mempersiapkan aksi kedua, rehabilitasi pembangunan desa.

Empat minggu dari pertama, ketika dana terkumpul, Budi berangkat berdua dengan seorang pengurus PMI Semarang untuk advokasi dan seminggu sudah selesai dan minggu kedua hingga ke-8, 19 program diselesaikan sendiri. Mempimpin warga lokal membangun 19 program di desa terpadu. Program itu antara lain: 1. Rumah AB6, 2. Masjid Meunasah, 3. Rehabilitasi sumur 4. Sanitasi, 5. Rehabilitasi pantai dengan penanaman kelapa, 6. Ekonomi masyarakat: permodalan panglong kayu, PKK, 7. Penyewaan tool kits, 8, psikotherapi dengan FGD dan bioskop mini, 9. Pembangungan Perahu nelayan 10. Pelayanan Kesehatan, 12. Peneydiaan air minum sehat. 13. Pembuatan perahu apung 14. Progam pilot Hill Pathway Escape, 15. Tsunanmi alarm system 16. Kantor pos desa 17. Manajemen triase RS, 18. Managemen community participation and donate supervision, 19. Coasteal escape building.

Banyak yang meninjau dari luar negeri dan dalam negeri, mengira dilakukan tim besar, padahal Cuma sendirian tetapi merangsang partisipiasi banyak Lembaga dan ratusan masyakatat secara sukarela, karena semua kegiatannya tidak memberi bayaran pada relawan.

SIMEHS di Tacloban

Ketika terjadi bencana besar typon Hayan di Tacloban Philipina, kita semua terhenyak betapa besar dampak pada masyarakat dan sedeikian luas. Maka dengan proposal SIMESH, Budi Laksono melaporkan pada PMI Pusat tentang kesediaannya untuk melakukan kegiatan. Tetapi karena mungkin dianggap Budi sudah 40 tahun (sudah tua), dan PMI mengirim anak muda 25 tahunan maka tidak diterima.

Setelah seminggu lebih tidak dipanggil dan merasa urgen, maka Budi berangkat mandiri sendiri sbg tim SIMEHS dokter tanpa batas.

Dengan obat obatan, makanan dan tenda serta air filtrator di rangsel berangkat dan begitu sampai di Palang Merah Manila, maka ketika melaporkan kapasitasnya, oleh PM Philipina diberangkatkan ke Tacloban.

Petugas lokal membantu pemesanan pesawat langsung Tacloban yang dibayar mandiri.

Tetapi menjelang pemberangkatan, ternyata ada staf Palang Merah setempat yang tahu dan menanyakan apakah Budi tergabung dalam tim sebelumnya? Maka dijawab, bukan. Dr. Budi memang dari PMI Semarang tetapi berangkat sendiri. Ketika dipertemukan, maka tahu bahwa mereka adalah tim PMI Indonesia yang dikirim 10 hari lalu dan selama ini tidak bisa berbuat apa apa karena mereka menunggu logistik dari kapal yang hingga kini belum sampai dan mungkin seminggu lagi bisa sampai.

Ketika Budi koordinasikan bahwa kita ada obat untuk membuka pelayanan secepatnya, mereka juga koordinasi dengan tim tanah air, maka sepakat langsung menuju lokasi. Perjalanan sehari dari Manila ke Tacloban dan sampai di sana, karena Budi sebagai dokter, maka diberi jaket PMI Indonesia dan langsung mebuka pelayanan di public health setempat dan dengan petugas perawat dan bidan lokal. Hari itu juga, langsung dilaporkan ke PMI Indonesia dan segera di harian Nasional Indonesia tertulis, TEAM PMI telah membuka pelayanan di Tacloban Philipina dengan poto ketika Budi memberi layanan medis di sana.

Sementara teman teman relawan lain masih menunggu hingga logistik sampai. Itupun tidak segera karena manajemen pendaratan di pelabuhan yang berubah dan juga pengangkutan logistiik dari pelabun ke sasaran.

Ketika kapal sudah datang dan personal kesehatan ada, sementara pelayanan dasar sudah berjalan dan nama Indonesia sudah berkibar, maka Budi minta izin meninggalkan Tacloban menuju area lain di selatan bergabung dengan tim internasional sebelum balik Indonesia dengan membawa kenangan pelayanan SIMESH di Tacloban.

SIMEHS di Lombok Utara

Ketika tahun 2018 di bulan September terjadi gempa di Lombok, maka tergerak Dr Budi Laksono membantu dengan SIMEHS dan lainnya. Mengingat bahwa gempa itu meruntuhkan banyak rumah sehingga diperlukan huntara yang cepat.

Dengan pemahaman itu maka Budi menyiapkan diri untuk berangkat. Sebagai bagian dari relawan Ika Undip, Alste serta dosen disaster Unnes juga maka waktu mau berangkat kabar kabar tentang kebetangkatan dan mission-nya.

Karena dan terbatas, maka tidak membawa asisten dan kebetulan di grup WA Ika Undip ada alumni Undip, maka ada relawan alumni yang dari Lombok siap menjemput dan membantu. Sampai di sana, langsung hadap pejabat yang berwenang dan sorenya langsung cari desa terpencil dari kota.

60 km utara Kota Mataram, di Desa Sambik Bangkol seperti belum ada yang membantu.

Kampung ditinggalkan penghuni karena membuat camp pengungsi di gunung. Melihat keadaannya yang memerlukan dan rasional, Dr Budi menuju camp di gunungnya dan menemui kepala dusun.

Dipaparkan maksud dan tujuan yaitu membantu masyarakat membuat huntara. Tetapi huntara harus dibuat sendiri oleh masyakat. Ketika ketua dusun setuju, maka Budi izin stay dan buka tenda untuk tinggal. Dan malamnya pada acara sholat magrib, Budi diminta menyampaikan kehendaknya untuk membantu bangun huntara AB6 dan masyarakat setuju.

Bahkan Ketika kapan dimulai, maka Dokter Budi yakinkan bila besok pagi bisa dilakukan dengan membuat pilot dahulu kemudian warga akan meniru modelnya. Esoknya langsung belanja material di penjual kayu terdekat dan pada siangnya, dengan mengajak 5 orang pemuda, Dr. budi mendemokan bagaimana membuat rumahnya. Dalam waktu 3 jam rumah sudah selesai tinggal pasang atap. Malam sudah selesai. Dengan melihat itu, maka semua masyarakat menyatakan itu mudah. Dan bahkan mengusulkan agar dibuat per 10 bilik agar rencana 50 bisa jadi 100 an sesuai KK yang mengungsi. Maka Dokter Budi setujui.

Siang itu juga masyarakat mulai membangun kerangka rumahnya langsung dan papan yang ada digunakna dahulu. Jumat kerja full dan ,minggu sudah jadi dan siap huni. Masyarakat sepakat pindah serentak hari senin. Maka senin semua keluarga 107 keluarga sudah mulai bisa menghuni rumah huntaranya.

Setelah huntara jadi, maka keperlluan masyarakat bertambah mulai dari WC umum, kemudian perpipaan air bersih, pembuatan air minum filtrasi keramik, home industry : abon mete, kerajinan kupas biji mete, herba kelor dll, rumah tahan gempa galvanis, ruang sekolah, sekolah tanpa dinding, pelatihan ketrampilan wirausaha, psiko therapy korban gempa, trauma healing gempa, klinik Kesehatan, water treatment isi ulang minum, pembuatan masjid dan acara kurban dll.

Semua ini dilakukan dengan kepemimpinan sendiri dan menggunakan tenaga relawan local desa. Dengan banyaknya kegiatan ini orang memikir bahwa dia datang dengan team besar, mengingat bisanya hanya team besar yang bisa melakukan ini, tetapi dia meyakinkan bahwa yang diperlukan oleh korban bencana spt ini adalah pemimpin, dana dan motivasi. Konsep spesialisasi memang bagus, tetapi SIMEHS TEAM bisa lebih efisien asal relawan menguasai ilmu plus plus. Ketika masa kritis sudah mulai kurang, puskesmas Sudah mampu memberi layanan keliling, guru furu sudah mulai bisa menjadwal Pendidikan, maka Dr. budi yang pada 2minggu terakhir dibantu oleh istrinya yang menyusul membantu, ijin balik setelah membangun kampung pengungsian lekok, sembalun (Lombok timur) dan Gangga utara. Dengan kemampuan komunikasi nya yang memang makin mudah karena internet, maka biaya yang semua di inisiasi Dr. budi sendiri, menarik partisipasi bantuan oleh sahabat, IKA UNDIP dan PLN dll.

SIMEHS DI PALU DAN SIGI

Ketika kegiatan Lombok lagi break, Dr. Budi Baik semarang. Mungkin akan datang lagi bila ada sesi di lain tempat. Tetapi baru seminggu di rumah, ada gempa Palu sigi dengan Liquifaksinya. Melihat bahwa ini sangat berat kasusnya, maka Dr. Budi menyiapkan diri untuk berangkat ke Palu dengan misi sama, pembuatan hutara dan bangun desa pilot, selain klasikal pelayanan medis emergensi. Perencanaan sudah dimatangkan baik obat, tenda, makan minum darurat dan tentu dana awalan untuk memicu.

Ternyata tidak diduga, dr. budi diundang oleh Sekda Jateng, Bpk Heru untuk ikut rapat perencanaan progam bantuan bagi sulteng. Ketika Dr. budi diminta pendapatnya, maka diusulkan untuk membangun KAMPUNG JATENG yang dibangun dengan cepat dengan standart baik yaitu galvanis. Dengan membangun 100 rumah, sudah cukup sbg pilot dan diperkirakan biaya 300 juta krn setia rumah 3 juta. Disetujui dan koperasi pegawai pemrov dibawah Pak Tavip membantu 150 juta dan 150 juta akan dibantu oleh BPD.

Uang dari koperasi dan separuh BPD diberikan pada team sehingga dr. budi minta agar langsung dibelikan material karena perjalanan membawa truk bantuan. Maka dr. budi minta alokasi 1,5 truk untuk material. Ternyata bisa. Maka team membeli bahan di semarang dimasukkan truk dan dengan kapal ke sana. Sementara Dr. budi berangkat ke sana dengan pesawat dan mencari lokasi bantuan.

Kebetulan sekali, mahasiwa S2 Dr, budi adalah keluarga korban sehingga tujuan pertama adalah ke situ dan dari situ, keluarga membantu mobilnya untuk tranportasi keliling mencari sasaran. Di Petobo mencari lokasi akhirnya ditentukan di pusat pengungsian Petobo di kapling pak Kopo yang masih saudara jauh keluarga mahasiswanya dr. budi. Pak Kopo senang dan mengijinkan, maka segera Dr, budi membuka tenda di lokasi itu. Sambal menunggu barang, maka Dr. budi membangun ruang sekolah dan panti milik yayasan keluarga dari mahasiswanya. Tanggal 9 oktober datang lah material dari kapal juga para relawan yang naik kapal. Ketika menghadap sesepuh, dikatakan bahwa pembangunan haruis dengan hari tertentu hari baiknya. Yaitu tanggal 14. Maka team yang sudah datang ini dikerahkan membuat kerangka kerangka dahulu.

Tipe rumah dorm berderet tiap 10 rumah agar ringan biaya dindingnya. Tepat tanggal 14, langsung dibuatlah huntara dan seminggu kemudian, 107 bilik huntara jadi. Dengan toilet, perpipaan bahkan dengan masjidnya juga. Maka tanggal 20 Okt 2018 gubernur datang dan meresmikan huntara yang jadi. Karena huntara ini yang pertama menyelesaikan persoalan rumah, maka saat kunjungan panglima TNI, ini menjadi tujuan kunjungannya. Rumah langsung digunakan masyarakat yang dipilh oleh kepala desa dan pak Kopo. Rumah sudah selesai tetapi ternyata dari dana dari BPD belum turun semua.

Beruntung Dr. budi dapat titipan sebagaian sumbangan dana dari IKA undip untuk membangun huntara sehingga bisa selesai. Walau dananya masih kurang, ternyata Dr. budi yang pinjam material (hutang) dari toko, dibolehkan untuk balik dahulu karena sebagaian bisa dibayar lewat pinjam uang pribadi teman. Selain membuat rumah, masjid, pengobatan tiap hari, penyediaan air minum isi ulang, trauma healing, sekolah dilakukan dengan memimpin relawan dan memimpin tenaga lokal.

Setelah kegiatan stabil, hunian penuh dan tidak ada masalah, maka Dr. Budi Baik ke Semarang karena keuangan masih terhutang di BPD. Setelah ada sedikit kepastian akan dibayar dan laporan juga sudah dipenuhi, maka Dr. budi Kembali ke Palu dan menuju titik pusat korban liquifaksi kabupaten Sigi di jono oge. Silaturhami di Jono oge mengharukan karena waktu sebelum membuat Palu, Dr,. Budi sudah berkunjung ke Pak lurah Jono oge di pengungsian atas. Pak lurah lagi sakit kaki saat mengungsi sehingga kaki luka.

Ternyata setelah huntara Palu selesai, ke sigi, tidak ada perkembangan apapun. Masyarakat masih di kamp tenda walau sebagaian ada yang turun karena tidak kuat panas dan lalat yang banyak. Maka dengan tekad, dia meminta persetujuannya untuk membangun huntara. Dia ceritakan konsep pada pak luarah dan warga. Konsepnya adalah SEMARAND. Self made huntara around (the hourse). Keluarga boleh membangun hunian sementar di sekitar rumah lamanya yang memang tidak bisa ditinggalkan karena ada tenak, barang berharga dll. Masyarakat setuju. Maka Ketika dana dari Ika undip dll, langsung dibangun konsep rumah contoh.

Kemudian dengan jumlah material yang dihitung, maka setiap yang menginginkannya dicatat. Karena dana terbatas, maka pada tahap pertama diawali dengan tahap pertama 50 keluarga. Uang pertama dari PLN yang membantu AB6 untuk 10 rumah, tetapi Ketika dibangun bisa tersisa, maka sisanya langsung digunakan membangun SEMARAND home. Kemudian datang bantuan dari karyawan ILO beberapa juta, kemudian dari IKA UNDIP, dan rotary. Sekitar 200 rumah lebih terbangun bagi masyarakat yang rumahnya rusak atau mengkawatirkan untuk dihuni. Dengan melatih dan memberi contoh, Dr, budi tunjukkan setiap orang pria bisa membuat rumah masing masing asal ada materialnya. Inilah maka dengan memimpin dan memberi stimulant rumah, itu jadi semua.

Selain rumah huntara, kegaitan pelayanan medis, palatihan eknomii local mulai dari pendayagunaan kelapa untuk virgin oil, batu suseiki potensi baik, trauma healing dan psikoterapi, air minum isi ulang dll.
Kegiatan di atas semua dilakukan dengan seorang diri atau dua orang, Dr. budi. Setiap kegaitan selalu sukses membawa misi kebencanaan dan itu semua pantas Dr. Budi bisa disebut RAMBO BENCANA ALAM. (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA