Minggu, 7 Maret 2021

Meski Diancam Militer, Warga Myanmar Kembali Gelar Demo Besar-besaran

SMOL.ID, YANGON – Puluhan ribu pengunjuk rasa anti-kudeta kembali turun ke jalan-jalan di Myanmar untuk menentang junta militer Myanmar pada hari Senin (22/2). Aksi demo besar-besaran ini dilakukan meski ada ancaman dari militer yang menyebut akan mengerahkan kekuatan mematikan untuk melawan tindakan ‘anarki’.

Seperti dilansir AFP, Senin (22/2/2021), ancaman militer itu muncul setelah tiga demonstran ditembak mati pada akhir pekan, dan usai pemakaman seorang wanita muda yang meninggal karena tertembak saat aksi demo. Sejak kudeta 1 Februari lalu, demonstrasi besar-besaran terus terjadi untuk menuntut diakhirinya kudeta dan dibebaskannya pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Kampanye pembangkangan sipil juga turut mempengaruhi berbagai sektor pemerintahan, bisnis hingga perbankan. Militer memberikan sinyal ‘ancaman’ pada warga yang masih akan turun untuk demonstrasi.

“Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, terutama remaja dan pemuda yang emosional, ke jalur konfrontasi di mana mereka akan menderita kehilangan nyawa,” demikian pernyataan militer Myanmar yang disiarkan MRTV.

Pernyataan itu memperingatkan pengunjuk rasa agar tidak menghasut “kerusuhan dan anarki”.

Para pengunjuk rasa tidak terpengaruh oleh peringatan itu, puluhan ribu orang berunjuk rasa di pusat kota terbesar Myanmar, Yangon. Ribuan orang dengan sepeda motor juga memadati jalan-jalan di Naypyidaw. Sementara, aksi protes besar lainnya juga terjadi di kota Myitkyina dan Dawei.

Pada hari ini, pasukan keamanan kian diperketat di Yangon, termasuk disiapkannya kendaraan polisi dan militer di jalan-jalan dan wilayah daerah kedutaan yang dibarikade.

Banyak bisnis di Yangon, dan di kota-kota besar lainnya ditutup, menyusul seruan mogok massal untuk mendukung gerakan pembangkangan sipil.

Para jenderal Myanmar menanggapi pemberontakan dengan secara bertahap meningkatkan penggunaan kekuatan, dan menahan sejumlah orang. Pasukan keamanan dan polisi dikerahkan dengan menggunakan peluru karet, gas air mata, meriam air, dan beberapa peluru tajam.

Pada akhir pekan kemarin, dua orang tewas ketika pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di kota Mandalay, dan orang ketiga ditembak mati di Yangon. Seorang wanita muda juga meninggal pada hari Jumat (19/2) setelah ditembak di kepala dan kritis selama dua minggu.

Kementerian Luar Negeri Myanmar pada hari Minggu (21/2) membenarkan penggunaan kekerasan terhadap pengunjuk rasa, dan menuduh PBB dan pemerintah lain “ikut campur tangan” dalam urusan dalam negeri mereka.

“Meskipun menghadapi demonstrasi yang tidak sah, penghasutan kerusuhan dan kekerasan, pihak berwenang melakukan pengendalian melalui penggunaan kekuatan minimum untuk mengatasi gangguan,” demikian tertulis dalam pernyataannya.(lin/smol/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA