Rabu, 21 April 2021

“Bangga Kencana” dan Keluarga Berkualitas

SMOL.ID – SEMARANG – Oleh Ahmad Rofiq[1]

Rabu dan Kamis, 3-4 Maret 2021, Perwakiian BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Tengah, menggelar Rapat Koordinasi Daerah Program “Bangga Kencana” Tahun 2021.  Acara penting ini di tengah pandemic Covid-19, diikuti oleh seluruh pemangku kebijakan dalam “Pembangunan keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana” yang digunakan tagline atau “branding baru” “Bangga Kencana”.

Rakor “Bangga Kencana” merupakan rapat koordinasi untuk menyamakan persepsi, dalam membangun program yang bertujuan untuk mengarahkan agar keluarga mempunyai rencana berkeluarga, punya anak, pendidikan dan sebagainya sehingga akan terbentuk keluarga-keluarga berkualitas. Tujuan tersebut, sejalan dan saya yakin diformulasikan, dengan merujuk titah Al-Qur’an, surat An-Nisa’ (4):9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Sergapan pandemic Covid-19, yang berjalan satu tahun ini, data yang tersaji saat tulisan ini disiapkan, di Jawa Tengah yang terpapar total kasus152 ribu, sembuh 97.841, meninggal dunia 6.595. Masih ada yang perlu dipertanyakan, 152.000-(97.841+6.595=104.436) = 47.564 orang. Mereka ini masih dalam perawatan atau dimana? Di Indonesia, total kasus1,35 juta, sembuh 1,16 juta, dan meninggal dunia 36.518. Ada sejumlah 1.350.000 (1.160.000+36.518=1.196.518) = 153.482 orang. Masih dalam perawatan atau musnah? Dan seluruh dunia, total kasus115 juta, sembuh 65,1 juta, dan meninggal dunia 2,56 juta. Pertanyaannya, 115.000.000-(65.100.000+2.560.000=67.660.000) = 47.340.000.
Di mana mereka yang 47.340.000 masih dalam perawatan ataukah musnah? 

Pandemi covid-19 membawa dampak sangat serius dalam kehidupan dan kualitas keluarga. Penduduk Miskin Naik Jadi 26,42 Juta Orang (Kompas.com – 15/07/2020). Ada kenaikan sebesar 2,7 juta orang. Dampak ikutannya adalah, meningkatnya angka stunting.  Laman kumparan.com (16/12/2020) mengutip, UNICEF memperkirakan pandemi COVID-19 dapat menyebabkan peningkatan jumlah kasus stunting akibat kekurangan gizi akut (wasting) 15% setara dengan 7 juta kasus di seluruh dunia.

Prevalensi balita mengalami stunting pada 2019 menurun dibandingkan 2018, yaitu dari 30,8 persen menjadi 27,7 persen. Meskipun menurun, tetapi angkanya masih cukup tinggi karena 28 dari 100 balita mengalami stunting. Badan Pusat Statistik (BPS) juga menjelaskan, prevalensi balita mengalami stunting Indonesia masih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Tentu ini sangat memprihatinkan. Sementara di Jawa Tengah, data Dinas Kesehatan, prevalensi stunting di Jawa Tengah adalah 28,5% tersebar diseluruh kabupaten/kota. Persoalannya adalah tentang validitas data antara BPS, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, tampaknya masih susah diwujudkan. BPS berinisiatif wujudkan “Satu Data Indonesia”.

Jika angka stunting dan kemiskinan masih tinggi, maka tentu agak susah berharap keluarga mereka berkualitas. Bagaimana mungkin dilakukan, sementara untuk memenuhi kebutuhan dasar saja belum bisa terpenuhi secara baik. Karena kebutuhan dasar ini, menurut teori piramida kebutuhan manusia, Abraham Maslow, tidak bisa ditunda. Kalau ada “pahlawan” model “Robinhood” akan melakukan “kejahatan” untuk menolong mereka yang tidak mampu. Ironis dan “naifnya” pemerintah yang sudah menyediakan bantuan sosial sembako, ternyata ada oknum yang “memanfaatkan”-nya secara salah, untuk memperkaya diri, kelompok, dan kroninya. 

Perkawinan usia dini, yang kawin sebelum usia 18 rata-rata di Indonesia masih di angka 10,82 persen. Urutannya per provinsi, adalah Jawa Tengah 10.2 persen, Bali 10.2 persen, Maluku 9.5 persen. Nusa Tenggara Timur 8.5 persen, Riau 8.3 persen, Aceh 6.6 persen, Sumatera Utara 6.5 persen, Banten 6.0 persen, Sumatera Barat 6.0 persen, Kepulauan Riau 3.8 persen, DKI Jakarta 3.1 persen, dan Daerah Istimewa Yogyakarta 3.1 persen.

Di sisi lain, bersamaan dengan bonus demografi, ini harus menjadi perhatian serius. Apabila salah urus, cita menjadikan Indonesia Maju, ini akan terasa berat untuk bisa direalisasikan, apabila angka kemiskinan dan angka stunting masih tinggi. Kerjasama BKKBN dengan mitra-strategis merupakan langkah penting dan strategis, agar masyarakat, utamanya mereka yang masih dalam pasangan usia subur, bisa ikut serta dalam program “Bangga Kencana”,  yakni Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana. Langkah kerjasama menjadi sangat penting, karena di era pandemi, tampaknya konsentrasi pemerintah di semua tingkatan pada upaya menurunkan dan menghentikan pandemic Covid-19, dan ini berimplikasi pada persoalan keluarga.

Keluarga merupakan unit terkecil sebagai satuan sosial strategis terbangunnya keluarga berkualitas. Pembentukan keluarga berkualitas, merupakan prasyarat untuk dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Karena itulah, Rasulullah saw menegaskan: “Orang yang beriman yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, dibanding dari orang yang beriman yang lemah” (Riwayat Muslim).

Karena itu, selain pemerintah harus terus meningkatkan komitmen dan “diskresinya” untuk menyosialisasikan program “Bangga Kencana”, dengan menurunkan angka kemiskinan, memberdayakan ekonomi mereka, meningkatkan gizi, dan menjadikan mereka menjadi keluarga yang berkualitas. Komitmen ini, perlu penyamaan komitmen, di seluruh level pejabat pemerintahan di kabupaten/kota, provinsi, dan pusat, untuk membangun keluarga yang berkualitas. Bravo “Bangga Kencana”.

[1] Guru Besar UIN Walisongo, Ketua Forum Antarumat Beragama Peduli Kesejahteraan keluarga dan Kependudukan (FAPSEDU) Jawa Tengah, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah, dan Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA