Rabu, 21 April 2021

Daripada Main, Anak-anak SMP di Plosorejo Diajak Karawitan

SMOL.ID – KARANGANYAR – KARAWITAN? Budaya yang hampir-hampir tak diminati oleh anak-anak remaja lagi. Bandingkan dengan tarian breakdance, justru remaja lebih gandrung senang budaya tersebut dibanding karawitan.

Namun langkah Warto, salah seorang dalang di Plosorejo, Matesih patut dipuji. Di saat pandemi ini, melihat anak-anak siswa SD dan SMP maupun SMK lebih banyak main-main tidak karuan karena sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh, dia berinisiatif mengajak mereka bergabung di sanggar kesenian.

‘’Awalnya karena kesenian ya mati suri tidak bisa tampil, tidak boleh pentas karena mengakibatkan kerumunan, saya mencoba mengajak anak-anak itu memeriahkan sanggar seni. Namun karena langsung sanggar wayang, pedalangan ya kurang diminati, akhirnya saya ajak karawitan,’’ kata Warto, warga Plosorejo, Sabtu (6/3).

Ternyata dengan mengenalkan karawitan itu, minat para remaja besar. Mereka bisa bertemu debngan banyak teman, mengerjakan sesuatu yang menghibur, dan bergembitra bersama. Sebab saat berlatih karawitan, sedikitnya ada 20-30 anak berkumpul.

Laki-laki dan perempuan, remaja seusia mereka ternyata senang ketika bisa bertemu temannya. Nah saat latihan itulah mereka bisa bercanda, bersua dengan teman, saling cerita pengalamannya belajar lewat daring, dan lainnya.

Jadilah seminggu tiga kali mereka bertemu dan ikut latihan karawitan. Kebetulan ada warga yang memiliki seperangkat gamelan meski gamelan besi. Maka di bawah bimbingan Warto anak-anak itu diajari menabuh gamelan.

Tentu saja karena belajar dari awal, dimulai dengan cara memukul gamelam, fungsi masing-masing gamelan, dan sebagainya. Mereka juga belajar dari awal, dari Gangsaran, Lancaran, Ketawang, Ladrang, sehingga dari sedikit mereka mengenal.

Karena intensif seminggu tiga kali, maka dengan cepat keterampilan anak-anak seusia SMP itu semakin baik. Warto dengan antusias melatih mereka mengembangkan budaya tradisi itu. Biasanya dari bakda Ashar anak-anak itu sudah berkumpul untuk berlatih. Kadang sampai malam jam 20.00 atau 21.00.

‘’Tapi setelah berjalan, warga protes, latihannya keseringan. Sebab anak-anak itu pun diharap membantu orang tua dan belajar meski daring. Maka akhirnya anak-anak itu diajak berembug bagaimana latihannya. Akhirnya sepakat malam kamis saja sepekan sekali,’’ kata Warto.

Dan ternyata setelah hnya seminggu sekali orang tua memperbolehkan dan mendukung. Jadilah latihan itu terus berjalan seminggu sekali. Orang tua senang, warga senang, karena sedikit banyak anak-anak itu teraalur ke hal-hal positif.

Kini latihan karawitan itu sudah berjalan tujuh bulan, dan anak-anak itu sudah siap tampil sewaktu-waktu ada pesta atau perayaan di desa dan kecamatan Matesih. Mereka akan menyuguhkan keterampilan mereka bermain karawitan menyuburkan budaya tradisi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tarsa
mengaku senang karena program tatap muka sekolah memang masih dalam rancangan melihat situasi. Karena itu sangat bagus jika di sela-sela mereka bebas sekolah itu dilakukan hal yang lebih positif.(joko dh/aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA